Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Mega Vristian

http://oase.kompas.com/
DOA YANG MENCINTA
: Joe Budi Sambodo

Allah, hapuskan ragu di hatiku hapuskan rasa takut di hatiku setelah Kau terbitkan matahari cintaku tuntunlah selalu hatiku tuk berani menyemaikan rindu setitik cahaya bahagia dari perjalanan panjang kehidupan yang penuh luka-luka

Allah, lelaki itu yang mengajakku bangkit lelaki itu yang dengan jemari kasihnya telah memperkenalkan kembali kepadaku tentang sesuatu yang telah lama kutinggalkan lelaki itu yang mengenalkan cinta lewat kasihnya sendiri lewat airmatanya sendiri: seperti embun terasa seperti air wudlu di subuh hari.

Allah, dia, lelaki itu, menyadarkan aku selama ini aku terlalu sombong aku terlalu yakin bisa sendiri sampai akhir dia menanamkan kembali pohon cinta di hati yang kembara di hati yang lelah

Allah, Izinkan aku selalu mencintainya dengan ketulusan dalam suka dan duka sampai batas usia menghadapi terik bersama

atasnama-Mu dan restu-Mu aku kan menggenggam jemarinya

Allah, izinkan kami bahagia berikan kami kebahagiaan satukan kami dalam keagungan-Mu dalam kehambaan kami berjalan, menuju surga-Mu tanpa ragu sekuat mampu ?

(Hong Kong, musim dingin 2010)



SAJAK UNTUK BIMA

aku baca sanjakmu tentang layang-layang cinta dan rindu segala bayang katamu, sayang baris-barismu seperti angin keluar dari sarang menggelegakkan telaga jiwaku tentu kau akan terus belajar berbahasa belajar memahami kehidupan mata air makna yang mengeraskan kelak tulangmu tentu kaupun akan terus menghirup bening airnya kelak memurnikan darahmu sebagai manusia dan ketika itu kau pun setiap bertemu mencium tanganku mengerti duka dan lukaku bangga menjadi anakku ibumu pengembara bagai pelangi jembatan ke matahari

aku baca sanjakmu, nak oh, sayapmu sudah mengepak kau mulai mengangkasa kau tahu tentu hatiku adalah sarang hatiku adalah rumah dengan pintu terbuka menunggumu pulang

apa yang ingin kutulis dari hong kong apa yang ingin kutulis dari tanjung rantau kembara kuminta kau tidak takut luka kuminta kau tidak takut jatuh hemat dengan airmata taklukkan badai tundukkan topan k arena di nadimu mengalir darahku perempuan yang menolak menyerah kecuali pada kehendak-Nya

(Hong Kong, Hung Hom, 2010)



CINTA DI UJUNG SENJA

selembar surat kukirim kepadanya tanpa huruf dan kata hanya genang air mata membekas melukis rasa

– bahagiakah?

(Hung Hom, Musim dingin 2010)



KANGEN

anak tersedu ibu pilu aku terpasung waktu

(Causway Bay, awal Agustus 2010)



UH

Senja jatuh aku mengaduh di kening guratan keriput bertambah,uh!

(Wanchai, awal Agutus 2010)

*
Mega Vristian, penulis yang sementara ini tinggal di Hong Kong, karyanya sudah banyak dibukukan.

Komentar

Sastra-Indonesia.com