Langsung ke konten utama

Belajarlah Menjaga Lidahmu Abdiku

Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/

Saat ini kami tak mau gegabah
bahkan pada perih
yang menyelinap diam-diam
serupa guratan sejarah
yang di bungkam

Sebab telah kembali
kau hujamkan belati
ke dada kami
berulang kali
mengalirkan darah kebencian
di jiwa-jiwa kami

Lidahmu terlalu pedang
yang senantiasa mampu
membunuh rasa hormat
kami padamu
kami meletakkan kepala
di kaki-kaki kami
bukan untuk kalian
injak semaunya

dan perih ini tak akan
kami biarkan

Kami ingin bercanda denganmu
tanpa janji-janji yang membongkar
busuknya
kami memilih di titik hening
sambil menuntaskan teriakkan
yang tertinggal di kotamu

Saat ini kami tidak ingin ceroboh
bahkan pada jalan setapak
menuju gubug tua yang
nyaris roboh
sebab disanalah tersimpan
air mata rahasia
menjadi misteri yang melilit
kepongahan masa depan

Jangan lagi kau usik kami
sebab kami lebih nyaman
di bawah pohon rindang
dengan kaki pincang.

Nb: kalau kalian masih ngeyel saja
mari kita berperkara sebab
bukan dikening manusia lain
kami meludah tapi disinilah.

________
* Puisi ini lahir atas ucapan merendahkan dari ketua DPR Marzuki Ali pada kami TKW.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…