Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Syaifuddin Gani

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
Pare-pare

pagi letuskan bau buruh
menyembur ke udara subuh
ton demi ton badan dan barang
menumpuk dan mengerang
menghardik dan mengganyang leher dermaga
penumpang dan pencoleng
beradu rayu
sebelum lengking sirine
memanggil

pagi itu
dermaga pare-pare jadi bongkahan rindu
air mata dan sepi jadi bangkai perjalanan

2009



Langit Lalu Rebah ke dalam Mata Dahaganya

sebongkah batubara menggelincir
ke dalam rongga dahaga dadanya
lalu tersungkur ke dalam daging jantungnya

ia mengerang, oh langit kembara
alangkah maharindu pesonamu
oh laut kembar betapa mahabuih gelegarmu
membongkar dobrak pintu fana darahku
oh bumikandung tak jua rampung
dengan seribu sembilu kidung

langit lalu rebah ke dalam matadahaganya
laut lalu menggelegak ke dalam rahimpuasanya

dan batubara itu pecahrekah jadi abu jadi api puisinya

2010



Dua Ribu Tangga Ombak

dua ribu tangga ombak memecah
kegulitaan sunyi
merapikan pakaian kemurungan pesisir
enam pasang cahaya merinding di laut
mengirim musim barat ke bukit-bukit gorontalo

sunyi yang legam menggelepar
dibantai dua ribu gelombang
gulungan malam mengobarkan kepedihan
sebelum menjadi buih

memuih
jadi maut putih
menjelma dua ribu gelombang kesunyian
teluk tomini

2010



Di Padang Konda

di padang-padang konda
langit dikerumuni senja
bukit-bukit merenung
dirayapi angin tundra
tujuh anoa membahana
memburu cahaya magrib
anaway menuruni lembah
nasib dan matahari pun raib

2010



Wangi-wangi

di pulau-pulau terjauh
gemintang bergetaran
perahu-perahu menjauh
lampu-lampu bertangisan
karang-karang berlagu
angin timur berserakan

ombak membuih
gugur jua di pangkuan karang
pasir memutih
pudar dalam aduhan malam
batu-batu mendesis
dirayapi angin terang
pantai menangis
ditinggalkan jangkar nelayan
pangkal teluk merah dan memar
dirongrong persenggamaan alam
gadis-gadis berdaging samar
lambaikan senyum tangiskan salam

kutinggalkan dermaga wangi-wangi
angin gemetar merangkum nafasmu wangi
tahun depan, angin timur mengarak kenangan
aku datang mengepang rambutmu jadi delapan

2008

Syaifuddin Gani, lahir di Salubulung, Sulbar, 1978. Belajar sastra dan teater sejak bergabung di Teater Sendiri Kendari tahun 1998. Tinggal di Kendari dan bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…