Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Sajak-Sajak Amien Wangsitalaja

http://www.sastra-indonesia.com/
Orang Kada Balampu

“kami tak pernah memuja mandau
tak pernah menyanjung badik”
orang kada balampu
tertulis di kitab yaumiyah
mengasuh lapar
tanpa pernah punya pekerjaan
menjarah penghasilan orang
tanpa menghiraukan tanah asal
orang kada balampu
memulakan pertikaian
bukan untuk bertikai
asah badik cabut mandau
bukan menyulut perang
orang kada balampu
tak membunuh madura
banjar, dayak, bugis, jawa
orang kada balampu
semata membunuh manusia

___
kada balampu (bhs. Banjar: tidak berlampu): julukan bagi segerombolan perompak/tukang onar di Kalimantan



Tajau Pecah

ini pengajian tauhid
“asal tajau dari tanah
maka ia mudah pecah”

kami rindu perempuan
mandi berkain basah
di sungai yang masih luput
dari sengketa

aku
—bersama orang-orang
yang tidak terlibat perang
berebut tanah negeri—
mencoba merawat rindu
dan mengaji statistik

kami genggam sejumput bumi
dengan nusea patriotik
kami simpan untuk berkubur

___
tajau: genthong/tempayan
Tajau Pecah: nama desa di pedalaman wilayah Kab. Tanah Laut, Kalsel



Tajau …

Sajak-Sajak Kika Syafii

http://berbagipuisi.blogspot.com/
Titik Air

Setiap manusia duduk di atas tumpukan kertas-kertas kenangan yang bertambah tanpa terasa. Di dalam detik, detak waktunya. Bertambah tebal tumpukan, semakin meninggi ketakutan hingga terkadang melebihi tinggi badan.

mari nikmati satu titik air
yang menetes di kaca,
merambat pelan
hingga termakan hangat udara

Kesedihan adalah titik air, yang seiring waktu pasti tertelan debur ombak kehidupan. Ketika hujan telah turun, itu pertanda cerah ceria warna langit akan kembali menemani.

**
Re-edit dan re-post
“Tak perlu membayar/membunuh masa lalu”.
Februari 2010.



Hari dimana aku mengenal udara

Tanpa terasa waktu terus bergulir
tanpa terasa kenangan banyak tertanam
ada yang datang dan pergi
masih dalam kutat langkah kaki
aku tautkan hati
berjalan melingkari jiwa
hingga saatnya nanti aku mati
dalam senyum bahagia
karena waktu mengijinkanku
menikmati masa-masa hingga hari ini
ya, hari ini
hari dimana ibu menandai
tiupan ruh suci terlahir di dunia
berikut teriakan tangis
diiringi l…

Sajak-Sajak Samsudin Adlawi

http://www.sastra-indonesia.com/
Memanggul Amanah Mereka Bertopeng

karena merah amarah
hitam sedih putih suci
mereka pilih topeng hitam
tempat wajahnya sembunyi

topeng itu menangis
air matanya merah
mengetuk pintu rumah
simpati kami tercuri

lalu mereka pergi
tinggalkan sulaman janji

mereka datang lagi
berganti topeng putih
makimaki topeng hitam
membakar topeng merah
memecah layar tv kami

the sunrise of java, 22012010



Tenun Kata Tenung

Mata dia buta air nasi buta. Sampai juga dia di matahari ketujuh. Dia sirami taman kerongkongan yang mulai layu. Lalu makamkan jenazah padi di samping taman itu.
Katakata yang dia tenun sepanjang jalan rampung. Menjadi tenung. Menjelma seekor burung. Bersarang di mulut. Telurnya cepat matang. Anaknya garang. Pecah cangkang. Dua balon di pipi dia meledak. Angin kencang hembus dari mulut dia. Mencincang otakku. Hatiku tercincang. Tercincangcincang jantungku. Kakiku terpincangpincang.

The sunrise of java, 20012009



Mata

kulempar biji mata ke udara

ia terbang melesat jalang
menembus …

Sajak-Sajak Alfiyan Harfi

http://www.sastra-indonesia.com/
MIMPI BURUK ABADI

orang-orang tersesat
dalam mimpi buruk abadi
pada tubuhnya yang membusuk
mereka tak akan bisa kembali

apa yang dialami bertahun-tahun:
udara putih di masa kanak,
nyanyian ibu di puncak malam,
bahasa burung yang suci
tak akan pernah terjadi kembali

hanya ujud baru yang mengerikan:
anak-anak menjadi dewasa
dan mengetahui ketelanjangannya
seorang perempuan
menggeliat di atas ranjangnya
menyerupai peristiwa melahirkan
duka abadi.

orang-orang tersesat
dalam mimpi buruk abadi
malam lebih nyata
ketimbang gelapnya
duka lebih agung
dari tangisannya

2006



PERJUMPAAN TERAKHIR DENGAN MATAHARI

pada perjumpaaan terakhir dengan matahari
kita bercerita tentang senja
dan dari parasmu yang muram
kuterima bola-bola api
untuk kugengam di alam tak berwarna

pada perjumpaan terakhir dengan matahari
kuceritakan dongeng-dongeng
agar kau terjaga dalam mimpimu
dan kita melebur menjadi malam

ya senja, mari berpelukan dengan rembulan
sebelum kita dapati wajah pagi telanjang
terbangun dari tidur, dan …

Sajak-Sajak Satmoko Budi Santoso

http://www2.kompas.com/
Berlayar ke Tepi Krui
(Variasi atas Hikayat Bujang Tan Domang* )

bagai si domang yang suatu hari singgah
terantuk di tanggul sialang kawan, dusun betung,
sungai bunut, tanjung sialang, dan tanjung perusa
aku berlayar. limbung terbantun dari tepian selat sunda
menumpang sampan dayung bercadik
“lupakanlah si raja lalim, si panjang hidung,” ebokku merengek
menghela galah galau, melontar sepah dendam
sumpah seranah atas kampung halaman
(berlayar, berlayarlah aku ke seberang, krui yang merindu
atas nama basah angin, kelepak camar dan mega-mega)
seperti terkisah dalam nujuman
teluk, bandar, dan semenanjung telah kulayari
kucari kampung hunian, tempat istirah dan berserah
tanah dusun yang kuharap tertundukkan, memperpanjang usia
memasrahkannya pada buah pauh, rambai, durian, cempedak, maupun macang
kukunyah buah-buah itu, seperti mengunyah kenangan yang kekal dalam almanak
serat hari, kelupasan kalender. lenggang waktu bagaikan langgam
dendang pantun dan gurindam. di pinggiran pantai itu…

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

http://cetak.kompas.com/
Bagian dari Kegembiraan

1
Jalan di belakang stadion itu sudah lama tidak kulewati
Mungkin madrasah yang dibangun persis depan kamarmu
Sekarang sudah rampung. Aku teringat pohon beringin
Yang berdiri anggun dekat taman kanak-kanak dan pos ronda
Setiap pulang mengantarmu aku sering kencing di sulur-sulurnya
Yang rimbun. Sepi terasa menyayat jika kebetulan lewat:
Ingin sekali minum jamu kuat, tapi kios yang biasa kita kunjungi
Sudah tidak nampak di sana

2
Volkswagen yang bentuknya mirip roti tawar itu masih kusimpan
Di garasi. Aku belum berniat menjualnya meski dengan harga tinggi
Di badannya yang mulai karatan masih tersimpan ratusan senja
Yang pernah kita lewati bersama. Di joknya yang mulai rombeng
Masih melekat ribuan pelukan dan ciuman. Catnya belum kuganti
Aku masih ingat bagaimana dulu kau ngotot memilih hijau lumut
“Biar mirip seragam tentara,” ujarmu. Tapi mobil yang usianya
Delapan tahun lebih tua darimu atau tiga belas tahun di bawahku itu
Akhirnya kulabur dengan hitam. K…

Sajak-Sajak Saut Situmorang

http://sautsitumorang.wordpress.com/
andung andung petualang

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

menyebrang laut menyebrang pulau
beribu gunung kota terlampau
di negeri sebrang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau

o jakarta metropolis pertama
dongeng yang jadi silau mata
makin sayup kini suara ibu
dalam hiruk pikuk karnaval aspal hitammu

jakarta membuatnya gelisah
jakarta bukan tujuan hidupnya
jogja yang jauh
tak sabar mimpinya menunggu

tak ada yang lebih romantis
dari soso…

Sajak-Sajak Dwi S. Wibowo*

http://www.sastra-indonesia.com/
Lorong

Pot-pot tanaman baru
Kini berjajar di lorong
menuju rumahku

tinggal di alamat baru
dari sisa akar yang tercerabut
dari kebun di tempat nun sana

oleh paman kurus
yang kutemu tengah malam
di jalan sempit, lelaki
penabuh besi tiang listrik

-mendera bunyi lonceng gereja
yang dikirim pastor-pastor
berjubah ungu pada pembaptis
seorang balita
dengan kaleng susu digenggamnya-

selama
menyusuri jalanan ke utara
mengikuti
sekilau cahaya berkilatan
seluruh bimbangku bersatu
kemanakah sebenarnya?
Arah menuju alamat rumah baru,
Benarkah ia
yang tak balik
kemari
adalah penunjuk jalanku?

2009



Ode Bagi Hutan

bukan semak
tanpa ada pilihan jalan lain

meski rimbun pohonan
jadi peneduh sepanjang perjalanan
namun akar yang berserak
bersaudara dengan ular
dan kalajengking

daun-daun
satu persatu jatuh berguguran
diterpa angin.

september 2009



Jam

Waktu, dalam
Putaran jam
Lewat begitu saja,
Tanpa sapa
Ataupun salam

Meninggalkan sesuatu
Yang tak bisa kutulis
Jadi sebait sajak

dan setiap detik,
Adalah detak jantung
yang har…

Sajak-Sajak Isbedy Stiawan ZS

http://www.suarakarya-online.com/
Jalan Siput

mulai diusik jemu. jalan macet.
bahkan sejenak lalu tak bisa bergerak
“mahasiwa unjukrasa lagi
di Kantor Walikota Jakarta Barat. Mereka menuntut”
kini bis merayap, masuk ke dunia siput
menuju perhentian kau mulai dibantai jemu
tak seperti janjimu sebelum pergi:
“aku akan tetap baik, semangat pejalan akan
menguatkan hatiku,” katamu
dan semenjak turun dari pesawat,
kenapa jalanmu limbung, matamu nanar, rambutmu tak lagi tergerai?
bahkan wajahmu tampak memerah. dunia, katamu, mulai terasa tak bundar.
“aku melangkah layaknya di tanah bergelombang. diayun-ayun…” ujarmu pelan
baiknya santap hidangan di depanmu
sebelum kau dikalahkan, dan
kita tak bisa menemukan penginapan
ataupun rumah bagi setiap orang pasti merindukan karena tak ingin menjadi ahasveros
yang dikutuk agar lupa
pada pintu rumah…maka lupakan kejemuan, juga para demonstran lalu tembus kemacetan

* jkt 271009



Ruang Tunggu

CATAT kembali nama dan alamatku,
juga jika penting tanggal dan tahun kelahiranku,
sebel…

Sajak-Sajak Pringadi AS

http://reinvandiritto.blogspot.com/
Tubuh dalam Mikrofon

Ada tubuhmu dalam mikrofon. Tubuh biola. Tubuh gitar cantik dari
Negeri matador yang sapi yang kerbau yang sengau yang pura-pura
Drama dua babak di televisi jam enam sore. Jam yang masih lengket
Di sajadah bau dan tua. Diam-diam ia menjadi keningmu. Diam-diam
Ia naik ke atas mimbar membacakan khotbah singkat lima menit di
Bawah hujan yang genit malu-malu memecah dirinya di kaca-kaca
Jedela. Di tanah. Di batang-batang yang keras menantang langit biru.

Ada tubuhmu dalam mikrofon. Sempat ia kukira tiang listrik sebelum
Suara-suara berebutan masuk memperebutkan tubuh itu. Suara-suara
Interupsi. Suara-suara malu-malu. Suara-suara dari jam enam sore di
Senja sebuah taman seperti sedang bersidang. Seperti sedang menamat
-kan tiga chapter di komik-komik stensilan itu.

(2010)



Pareidolia

Aku lupa bagaimana caranya menggubah sajak

meski cuma sajak-sajak cengeng semacam:

tiba-tiba awan menjelma wajahmu. tiba-tiba
laut menjelma suaramu. tiba-tiba angin menjelm…

Sajak-Sajak Dea Anugrah*

AKU MENCINTAI KALIAN

aku mencintai kalian,
yang meringkuk di trotoar di malam malam
berembun yang bikin meriang.

aku mencintai kalian,
yang tak sanggup menahan perihnya lambung
lalu tercebur ke paret paret penuh limbah pabrik
karena kawanan anjing neraka telah keluar dari lorong lorong
dan melarikan nasi keras nasi kotor kalian
merebut roti roti keras kotor kalian.

aku mencintai kalian,
maka aku mengangkat penaku
dengan segenggam ketakutan
bergerak gerak di dalam saku.

(februari 2010)



ROMANTISME
:buat lilian sumarno

barangkali kekecewaanmu
adalah bukti kegagalanku
sebagai kekasih

yang selalu menerjemahkan cinta
tak ubahnya pelabuhan
dan hidup
sebagai pelayaran.

(2010)



BUAT SENI PURNAMASARI

sepasang alismu yang lebat
menjelma kupu kupu bersayap
kuning pucat.
-menemaniku
di senja tasikmalaya yang teduh
di gerbong kereta api yang lusuh
juga di jalanan kotaku
yang kelewat riuh.

sen, pertemuan begitu singkat
pertemuan begitu singkat
namun kenangan
selalu abadi

maka biarkan aku
biarkanlah aku
mencintaimu lewat memori.

(Tasikmalaya…

Sajak-Sajak Ria Octaviansari

http://www.lampungpost.com/
Terminal

di luas tanah lapang
jejak roda adalah garis wajah ibu
keriput di dahinya yang selalu ku rindu
di luas tanah lapang
aku menggambar peta ke mana pulang
saat cahaya matari merasuk tulang
di luas tanah lapang itulah
kepergian dan kedatangan hinggap di pundak
meretas tiba tiba di kuncup mata
yang menggenang air mata
pada terminal itu bermuara segala kelana

Rajabasa, 261109

Ruang Tunggu

di tiap kertap cuaca aku melihat sepasang bola mata memandang ke langit
seperti sedang membaca mantra-mantra agar hujan lekas henti
tapi aku tak pernah mengenali bola mataku sendiri pada selasar ruang tunggu

Oktober 2009

Layang-layang

bersiap dengan seutas tali dan selembar layang-layang
ku baca mantra pemanggil angin :
ngin maringin
remangin ulungin
jalungin kamingin
seembus makin embus
keras angin menghunus
oh!
benangku putus
layang-layang semakin jauh
berseteru dengan gemuruh
aku hanya bisa melenguh

2007-2009

Malam di Tengah Kota
bagi Di

di depan sebuah pusat perbelanjaan
sejenak aku-kau duduk di berand…

Sajak-Sajak Wahyu Heriyadi

http://www.lampungpost.com/
Ibu Datang Sekaligus Berangkat Siang Ini

Tadi siang ibu datang dari telepon. Rambutnya kering dengan tangan dan jemari yang hampir jatuh ke halaman. “Waktu, pada kemana sih? Oh ya? Berapa nomornya?” kalimat itu seperti loncat dari baju-bajunya. Hingga ibu tak pernah bisa menyimpan piring di mulutnya. Sebab, ada paragraf tentang sorabi dan gorengan lain-lain berkejaran. Paragraf itu seperti menyusun kembali matanya dari jauh.

Mata dari hulu sungai yang keruh. Mata tempat ikan menggunduli sisik-sisiknya yang rapuh.

Tapi tadi, ibu rajin mengganti bajunya dengan kalimat yang dipetik dari salon. Disebabkan warna rambutnya sama dengan siang, tangannya seperti mencubiti helai-helai rambut. Sambil mengunyah es batu, ngilu di lelubang giginya.

Ibu juga sempat memantas-mantas baju lamanya seperti kenangan yang bertabrakan. Sambil berjalan di sekitar reruntuhan kalimat, tak sempat didebat sesaat buah mangga menjadi lebat. Suara buah mangga yang berjatuhan, isak lirih dan s…

Sajak-Sajak Oky Sanjaya

http://www.lampungpost.com/
Rumah di Atas Kertas

rumah yang akan kita bangun kelak, dinda, adalah rumah yang dibangun di atas
sebidang kertas. Tanpa halaman, tanpa garis bantu kata-kata. Tanpa penjaga,
tukang kebun, dan perempuan renta. Hanya ada kau dan aku. Hanya ada kita
dan pohon mangga itu; yang kau cita-citakan ingin tumbuh dan dipetik buahnya;
yang kita tambahkan baskom berisi air di bawahnya; yang suatu waktu
merundukkan kita menatap bakalnya. Kita tetap berada dibawahnya



Atom

apakah kau masih percaya pada kedudukan angka_ ; yang
telah merepresentasikan kata sehingga kita tertib pada
rumus umumnya? Apakah kau masih percaya_; pada
sifat fisik benda saja sehingga kau berkeliling di kulit, diameter,
dan kemungkinan jari-jarinya? Apakah kau masih percaya_ ;
cinta menyertai kita pada spin yang tetap terjaga? Apakah kau
masih percaya_ ; yang kau representasikan itu adalah kata? Tidak.
karena kata adalah cinta.



Selagi Rambutmu Surut

lima mayat kelopak bunga hanyut di atas arus rambutmu;
kubiarkan begit…

Sastra-Indonesia.com