Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Dwi S. Wibowo*

http://www.sastra-indonesia.com/
Lorong

Pot-pot tanaman baru
Kini berjajar di lorong
menuju rumahku

tinggal di alamat baru
dari sisa akar yang tercerabut
dari kebun di tempat nun sana

oleh paman kurus
yang kutemu tengah malam
di jalan sempit, lelaki
penabuh besi tiang listrik

-mendera bunyi lonceng gereja
yang dikirim pastor-pastor
berjubah ungu pada pembaptis
seorang balita
dengan kaleng susu digenggamnya-

selama
menyusuri jalanan ke utara
mengikuti
sekilau cahaya berkilatan
seluruh bimbangku bersatu
kemanakah sebenarnya?
Arah menuju alamat rumah baru,
Benarkah ia
yang tak balik
kemari
adalah penunjuk jalanku?

2009



Ode Bagi Hutan

bukan semak
tanpa ada pilihan jalan lain

meski rimbun pohonan
jadi peneduh sepanjang perjalanan
namun akar yang berserak
bersaudara dengan ular
dan kalajengking

daun-daun
satu persatu jatuh berguguran
diterpa angin.

september 2009



Jam

Waktu, dalam
Putaran jam
Lewat begitu saja,
Tanpa sapa
Ataupun salam

Meninggalkan sesuatu
Yang tak bisa kutulis
Jadi sebait sajak

dan setiap detik,
Adalah detak jantung
yang harus di tebus
Tanpa penyesalan,
Atau kesia-siaan
Belaka.

november 2009



Anjing Malam Di Palka Kereta
Kepada Sajakku

Selamat malam,

Dan ucapan merdu lainnya
Kusampaikan setelah
Lewat tiga purnama
Di tiang pergantian.

Lebih dari itu, seekor kunang
Terbang di lompatan cahaya
-Liplip
Jalanan yang rusak menghadang di gurat malam
Antara gelap dan remang
Yang terbias sorot kereta
Dengan kepulan asap
Dari cerobong hitam
Melewati jembatan di atas kepalaku
Dan beberapa wajah pria
Pencari ikan serta
Istrinya yang tengah mencuci di kali
Dekat bendungan.

Angin malam mengelus rindu
Menyelinap di celah ketiak
Perempuan berbaju biru
Tanpa lengan, anjing hitam
Membawa bayang di sekujur tubuh
Dan dua ekor gagak
-yang kehilangan bayang-
Mengejar di belakang,
Dengan mata nanar
Serta paruh yang sebelumnya telah mereka asah
Di gerenda
Meminta bayangnya kembali.

Namun seorang kakek
Dengan satu lengan dan mata juling itu
Membunuh anjing hitam
Dengan tongkatnya
Lalu menelan bayangbayang itu
Mentah

Laju kereta kembali
Membawa sehelai bulu
Anjing hitam
Yang tersangkut di besi palka
Menuju pemberhentian terakhir,
Stasiun kota
Yang telah lewat
Dari sewindu
Peron itu sepi tanpa penumpang
Kecuali beberapa anjing hitam
Yang tak punya tuan.

maret 2009

*) Beberapa puisinya terangkum dalam antologi bersama penyair muda “Sebuket Mawar Merah” dan “Sang Pengembara”, salah satu puisinya mendapat penghargaan dari Radar Bali Literary Award 2009.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…