Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Isbedy Stiawan ZS

http://www.suarakarya-online.com/
Jalan Siput

mulai diusik jemu. jalan macet.
bahkan sejenak lalu tak bisa bergerak
“mahasiwa unjukrasa lagi
di Kantor Walikota Jakarta Barat. Mereka menuntut”
kini bis merayap, masuk ke dunia siput
menuju perhentian kau mulai dibantai jemu
tak seperti janjimu sebelum pergi:
“aku akan tetap baik, semangat pejalan akan
menguatkan hatiku,” katamu
dan semenjak turun dari pesawat,
kenapa jalanmu limbung, matamu nanar, rambutmu tak lagi tergerai?
bahkan wajahmu tampak memerah. dunia, katamu, mulai terasa tak bundar.
“aku melangkah layaknya di tanah bergelombang. diayun-ayun…” ujarmu pelan
baiknya santap hidangan di depanmu
sebelum kau dikalahkan, dan
kita tak bisa menemukan penginapan
ataupun rumah bagi setiap orang pasti merindukan karena tak ingin menjadi ahasveros
yang dikutuk agar lupa
pada pintu rumah…maka lupakan kejemuan, juga para demonstran lalu tembus kemacetan

* jkt 271009



Ruang Tunggu

CATAT kembali nama dan alamatku,
juga jika penting tanggal dan tahun kelahiranku,
sebelum aku jauh dari
mulalu ingatlah segala kenangan
juga jam keberangkatan karena itulah waktu akhir tangan kita berjabat
sebagai perpisahan: sementara?
tanyamu cemasaku pun mulai dirundung gelisah
tapi bukan karena perpisahan,
aku hanya mencoba untuk menerka
apakah kepergianku inimenuju pertemuan
kembali?

* branti, 271009



Kubawa Kau

kubawa kau ke depan gerbang
yang akan mengantarmu
dan aku mengepak langit lengkung
“kuterima kau dengan segala dan
sepenuh sayap…”
lalu langit memberkati kita,
hujan memberi jalan, dan sungai
menandai langkah kita juga matahari jadi arah
di mana kita akan tiba dan berpelukcium
mahkota di kepalamu menjelma kupukupu
menuju taman bungadan peci yang terpasang di keplaku juga
kini ingin jadi merak membelah cakrawala!

* tnjngbintang, 231009



Perempuan Dibalut Malam

perempuan bercakap-cakap dalam telepon genggam di bawah langit malam membentang: dan teriakan-teriakan dari amarah tertahan “lelaki hanya tahu tapi tak pernah mau mengerti…”
perasaan perempuan selapis kulit bawang
hingga matamu merah, airmata yang tak bisa kau jaga
“perempuan hanya menjaga hati tapi tak mampu menulisnya jadi kalimat”
jadi peristiwa di lengkung malam ditandu oleh mendung wajahmu. perempuan yang memberi telinganya untuk selalu dibisiki
bercakap-cakapdan membuai

* lb, 221009, 22.59



Peristiwa Lain tentang Laut

kenapa selalu kau menyebutku lalut,
sedang aku cumalah air terhampar
menyilakan kapal-kapal berlayar mencari bandar
ataupun pada akhirnya terdampar
tenggelam? mestinya kau tidak memanggilku laut,
karena daku tak pula kuketahui:
apakah aku danau, kolam, atau?
hingga akhirnya musa membelah jadi dua bagian
lalu si laknat yang datang
kemudian terjepit setelah titian itu kembali pecah
oleh satu pukulan tongkat.
jadilah daratan, kembalilah ke asal!
apakah asalku adalah gelombang
sehingga kau selalu menyapaku laut
mungkin pula aku daratan
lalu banjir dari kota nuh memuara
sehingga kau memanggilku laut laut.?
alangkah rindu aku pada genangan,
banjir bandang
atau kota-kota yang dijungkirbalikkan
agar aku jadi peristiwa lagi,
seperti telah kau ceritakan
turun temurun di nukil dalam kitab-kitab
yang mungkin bisa kau tinggalkan di lemari
akankah musa datang lagi
dan menghentakkan tongkatnya ke tubuhku
agar para laknat terkubur dalam jiwakubahkan kuinginkan nuh membikin kapal lain sebelum banjir,
kemudian aku pun ikut menghanyutkan kota jadi tak bertanda:di antara gunung-gunung,
kapal-kapal, angin yang menggulung
aku pun jadi hidup bersama gelombang,
topan, dan ancaman untuk kau tandai
sebagai rahasia betapa maut dan hidup
sejalan dalam denyutku

* ss, 191009, 14.02



Aku Ikan di Kolam

kolam di belakang rumah
yang dulu kulihat jelas tanahnya
mulai menampung segala air mataku
dan ikan-ikan dari potongan tulangku tengah mencari kenikmatan lain
seraya menunggu kau pancing
akulah ikan itu kini menggelepar di kolam
yang kering oleh musim panas panjang
dan sebagai ikan, siripku menggapai
mulutku mengucap-ucap meski tak kutahu
apakah doa atau serapah
di kolam belakang rumah, aku jadi ikan
menunggu musim berganti
dan peri mencabut kutukan!

* 141009, 02.20

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…