Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Satmoko Budi Santoso

http://www2.kompas.com/
Berlayar ke Tepi Krui
(Variasi atas Hikayat Bujang Tan Domang* )

bagai si domang yang suatu hari singgah
terantuk di tanggul sialang kawan, dusun betung,
sungai bunut, tanjung sialang, dan tanjung perusa
aku berlayar. limbung terbantun dari tepian selat sunda
menumpang sampan dayung bercadik
“lupakanlah si raja lalim, si panjang hidung,” ebokku merengek
menghela galah galau, melontar sepah dendam
sumpah seranah atas kampung halaman
(berlayar, berlayarlah aku ke seberang, krui yang merindu
atas nama basah angin, kelepak camar dan mega-mega)
seperti terkisah dalam nujuman
teluk, bandar, dan semenanjung telah kulayari
kucari kampung hunian, tempat istirah dan berserah
tanah dusun yang kuharap tertundukkan, memperpanjang usia
memasrahkannya pada buah pauh, rambai, durian, cempedak, maupun macang
kukunyah buah-buah itu, seperti mengunyah kenangan yang kekal dalam almanak
serat hari, kelupasan kalender. lenggang waktu bagaikan langgam
dendang pantun dan gurindam. di pinggiran pantai itu kutengadah
memandang langit. kebiruan yang rimpuh, tersepuh kabut, tersepuh mega
sore yang muram mengingatkanku pada tepian krui
nun di jauh risik seumur bocah, ebokku terisak setengah berbisik,
“berlayarlah domang, jangan sesempat maksud kembali…”

Yogyakarta, 2005-2006

* Hikayat Bujang Tan Domang adalah sebentuk “nyanyi panjang” yang berasal dari tradisi lisan masyarakat Petalangan, Riau.



Pada Asin Pantai yang Sama

pada asin pantai yang sama
tak mampu kau sembunyikan serpih sisik ikan
di sela batu, pun gerumbul terumbu karang
pada asin pantai yang sama
adakah jejak kaki yang tersesap julur lidah laut?
dulu, seorang anak pernah menggambar perahu
di tepian gundukan pasir pantai
katamu, perahu itu tak pernah karam dilayarkan gelombang
namun, seriang waktu yang membubu
menunjam pagut kelir arloji
perahu bergoyang senyalang angin
merobek kain kibas layar
uncu berkalung manik-manik berteriak di kejauhan
mencari gambar di gundukan pasir
yang memburam, yang melantak

Yogyakarta, 2005-2006.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com