Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Dea Anugrah*

AKU MENCINTAI KALIAN

aku mencintai kalian,
yang meringkuk di trotoar di malam malam
berembun yang bikin meriang.

aku mencintai kalian,
yang tak sanggup menahan perihnya lambung
lalu tercebur ke paret paret penuh limbah pabrik
karena kawanan anjing neraka telah keluar dari lorong lorong
dan melarikan nasi keras nasi kotor kalian
merebut roti roti keras kotor kalian.

aku mencintai kalian,
maka aku mengangkat penaku
dengan segenggam ketakutan
bergerak gerak di dalam saku.

(februari 2010)



ROMANTISME
:buat lilian sumarno

barangkali kekecewaanmu
adalah bukti kegagalanku
sebagai kekasih

yang selalu menerjemahkan cinta
tak ubahnya pelabuhan
dan hidup
sebagai pelayaran.

(2010)



BUAT SENI PURNAMASARI

sepasang alismu yang lebat
menjelma kupu kupu bersayap
kuning pucat.
-menemaniku
di senja tasikmalaya yang teduh
di gerbong kereta api yang lusuh
juga di jalanan kotaku
yang kelewat riuh.

sen, pertemuan begitu singkat
pertemuan begitu singkat
namun kenangan
selalu abadi

maka biarkan aku
biarkanlah aku
mencintaimu lewat memori.

(Tasikmalaya-Jogjakarta, 2010)

Pernah dimuat di Ruang Sajak dalam Jurnal Bogor, 28 Febr 2010.
*) Lahir di Pangkalpinang, Bangka, 27 Juni 1991. Kuliah di Fakultas Filsafat UGM angkatan 2008. Buku kumpulan puisi pertamanya adalah “Penyair (itu) Bodoh” (Greentea Publishing, 2009). Bergiat di Komunitas Sastra Rawarawa di Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…