Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ria Octaviansari

http://www.lampungpost.com/
Terminal

di luas tanah lapang
jejak roda adalah garis wajah ibu
keriput di dahinya yang selalu ku rindu
di luas tanah lapang
aku menggambar peta ke mana pulang
saat cahaya matari merasuk tulang
di luas tanah lapang itulah
kepergian dan kedatangan hinggap di pundak
meretas tiba tiba di kuncup mata
yang menggenang air mata
pada terminal itu bermuara segala kelana

Rajabasa, 261109

Ruang Tunggu

di tiap kertap cuaca aku melihat sepasang bola mata memandang ke langit
seperti sedang membaca mantra-mantra agar hujan lekas henti
tapi aku tak pernah mengenali bola mataku sendiri pada selasar ruang tunggu

Oktober 2009

Layang-layang

bersiap dengan seutas tali dan selembar layang-layang
ku baca mantra pemanggil angin :
ngin maringin
remangin ulungin
jalungin kamingin
seembus makin embus
keras angin menghunus
oh!
benangku putus
layang-layang semakin jauh
berseteru dengan gemuruh
aku hanya bisa melenguh

2007-2009

Malam di Tengah Kota
bagi Di

di depan sebuah pusat perbelanjaan
sejenak aku-kau duduk di berandanya
sambil mengamati lalu lalang
tuan dan nyonya, anak-anak, dan remaja
membawa tas belanja
berisi cerita pilu dan mimpi bahagia
yang tak pernah sempat terucap
setiap lalu lalang akan meninggalkan sebuah jejak
yang mungkin akan di pungut kembali atau ditinggal mati
aku tahu, kau telah memahami jejakmu sendiri
entah itu di dadamu atau di dadaku.
berbincang denganmu di tengah kota
membuatku makin tenggelam
dalam bayangan jejak kita kelak
apakah kita akan bertemu lagi
dalam salah satu ruang di kota ini
atau mati seperti jejak jejak yang lain?
pencipta tentu menyayangi kita
dan kita pun tahu hidup ini memang sebuah pilihan
setiap pilihan memiliki duri yang tajam
percayalah napasmu pernah kuhirup
dan napasku pernah juga kau embuskan.

2009

*) Lahir di Tanjungkarang, Lampung 16 Oktober 1985. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandar Lampung. Menetap di Bandar Lampung dan bekerja di Lampung Timur. Beberapa sajaknya pernah terbit di beberapa media massa lokal.

Komentar

Sastra-Indonesia.com