Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

Sajak-sajak Mardi Luhung

Nasi Pandan

“Kau tak boleh dikubur dulu sebelum mencicipi nasi pandanku!" Dan dengan kebat, dia menyorongkan sepiring nasi pandan. Nasi pandan yang punel. Yang ketika aku sendok, mengingatkan pada gumpal-gumpal cahaya yang begitu menggiurkan. Barangkali, gumpal- gumpal cahaya itu adalah daging jantungnya. Yang telah diiris segi empat. Ketika pintu diketuk. Dan kilat yang mengambang masuk. Lalu berbisik: “Wanita yang telah menjadi istri orang, memang mengiris jantung sendiri setiap membuat nasi pandan."

Dan beribu angsa menetas dari biji matanya. Beribu angsa yang pernah mengangkatku jauh melampaui akal. Sampai si jejadian yang bertanduk dan berekor itu mengernyit. Lalu teringat betapa bebalnya dirinya ketika menegak. Dan menyangka, jika penyamarannya dalam wujud ular telah mendulang aman. Lalu si jejadian pun mengibaskan sayapnya yang hangus. Dan melompat ke jendela: “Aku teringat, betapa mudahnya dulu dia aku kibuli. Betapa mudahnya!"

Dan di meja yang berpelitur dop, aku …

Sajak-Sajak Javed Paul Syatha

BIARKAN

... untukmu agamamu
dan untukku, agamaku

/1/
biarkan lilin itu tetap menyala di jiwa
bukan nu bukan md bukan pula ahmadiyah
biarkan salam itu tetap terucap
bukan amarah
biarkan lautan menampung gerimis
bukan celah mengulur kemarau

/2/
adakah senyap pada pergeseran musim
menyasatkan keyakinan demi keyakinan
dalam setiap doa seorang hamba

adakah kitab suci belum menepikan arti
adakah agama kan kau akhiri di sisi sangsi
sedang tuhan kita masih menjadi
sebuah rahasia bagi para nabi
nabi palsu.

Lamongan, 2008



LANGIT BERMATA SENJA

Tawassulku
ular pemangsa perih
jasad dan mimpi purbaku
syurga nan senyap

tuhanlah yang kucari;
o
kutuk
aku
lebih
dari
keheningan
iblis
lebih
dari
api
hingga adam masa silam

wahai langit bermata senja
kuraih bianglala tubuhmu
kujelmakan
doa sepanjang ular.

Lamongan, 2006-2007



MENGGAMBAR JEJAK PASIR

menatap laut bersama kelam
di samudra batin yang sirna

aku selalu setia pada kedalaman laut
yang selalu mengajariku tentang kesabaran
sampai
ujung
mata

nelayan menjaring hujan dan badai
angin yang menghasut kesun…

Sajak-Sajak Saiful Bakri

SANDAL JEPIT
:untuk abdul malik

Mengembara engkau bersama waktu
jelajahi musim demi musim
tanpa rasa sesal
malam ini kita dipertemukan
oleh secangkir kopi
seperti duabelas tahun yang lalu
sandal jepitmu mulai tipis dimakan aspal
dan jejaknya entah sampai dimana

Pada musim bunga itu
kau lemparkan senyum tanpa keluh
dan berlarian kupu-kupu serta kumbang
tanpa sempat mengucap atau melambai padamu
Kaupun membisu seperti malam penuh rahasia
mengalir di setiap genangan waktu
menabur benih pada tanah kering
dan basah kala fajar pecah di cakrawala
hingga musim berganti

Duabelas tahun kau menjelajahi sepi
bersama hujan mencipta nyanyian
sampai pada persimpangan
beku kenyataan
mengajakmu berjalan kembali
telusuri lorong sepi
yang telah memakan separuh sandal jepitmu
dan senyummu melambai
di sela tumpukan puisiku



SURAT DARI PABRIK

Debu mulai nakal
Menusuk hidung ke paru paru
Dimana angin tak mampu lagi membawa pergi

Anak anak pabrik
Yang tiap hari bersetubuh dengan mesin
Tetap bernyanyi
Dengan irama ketakutan yang berbeda
Untuk…

Sajak-Sajak Jibna Sudiryo

KEMATIAN
KH. Zainal Arifin Thoha (almarhum)

Bagimu hari tak terlalu tua
Kau angkat puntung rokok
di asbak tak berdebu
Meninggalkan bau dupa

Yogya 2007



BAHASA DIAM

ombak memecah buih
di pesisir yang menoleh kerinduanku
pada bahasa diammu

lalu
kau sapa batu-batu
yang membeku
memandang arak pelangi
menulis isyaratknya;
diam-diam arus di bibirmu
menarik gelakku
dan engkau masih terdiam

2007



MENUNGGU MENEMUKANMU

perpisahan kemarin tak sempurna
aku menunggu di astamu
kerinduan beku
meninggalkan sajak-sajak kelabu

di atas kuburanmu
senyum melintas
lesap
kupaku isyaratnya

kita akan merenung sama-sama
tentang keutuhanku-keutuhanmu
kerinduanku-kerinduanmu
yang mangabu
yang menyatu

2007

Sajak-Sajak Alfiyan Harfi

SAJAK SEBONGKAH BATU

bila sebongkah batu
kulempar ke angkasa
lalu kusebut nama cahaya
maka jadilah itu matahari
bila matahari
kuhempas nafas langit
kugesek awan-awan tipis
maka jadilah itu gerimis
gerimis mengantarku padamu
lalu kusebut nama bunga
maka terbanglah kata-kata
seperti kupu-kupu
hinggap di kelopakmu; ungu
sambil menikmati matahari
ia tafsir makna ayat-ayat itu

2005



SAJAK PENGEMBARA

o perjalanan yang panjang
siapa menaruh misteri
di atas kepalaku yang rapuh
hingga mesti kutanggung
rindu yang parah ini
setiap kali aku bicara
pada daun-daun yang kering;
kemana hijau meninggalkannya
tergeletak dan terinjak malam:
kemana aku meninggalkan rumahku
di tengah perjalananku
aku melihat ribuan merpati
turun di hamparan jagung-jagungku:
perlahan aku mendekati mereka
perlahan mereka mendekati makananku
aku hidup di antara yang tak bernyanyi
aku bernyanyi di antara yang tak hidup
aku melihat pada mata merpati-merpati itu
diriku yang terasing dari sayap-sayap
diriku yang bersayap keterasinga…

Sajak-Sajak Kirana Kejora

SURAT KEPADA ILALANGMU

Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu

Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku rerimbunan sang ruh

Persembahan secawan anggur hati
Tlah menyingkap gaun tidurku
Sungguh tubuhku lunglai tiada nadi daya
Hingga sapa matahari
Menghangatkan sunyi tubuhku

Kelam terrenda temaram kabut masa
Aku masih sabit yang terpenggal
Yang tak pernah memiliki malam, siang, pagi

Karena singgahku
Tak pernah termiliki siapapun
Kecuali Kupu-Kupu Saljuku
Aku hanya debu yang ingin menjadi gurun
Entah kapan dan dimana

Kamu tak pernah miliki daya arung
Buat sauhkan sampan roman ini
Sedang waktu mulai tak bersahabat
Dengan ruang hati yang kita miliki

Topannya mengiris kulit
Menidurkan kembali bulu-bulunya
Sudahlah, kelelahanku tlah menuju kematian
Padahal aku ingin terus hidup
Buat penu…

Sajak-Sajak Haris del Hakim

SAPI KITA DALAM JERAT LABA-LABA

seekor sapi – dari tujuh yang kita punya – terperangkap sarang laba-laba. dia menjejak-jejak senar-senar rapuh itu sambil memamah angin. kemudian seekor singa penyihir melemparkan buhul-buhul, seperti penyihir fir’aun. sapi itu menggeleng-gelengkan kepala seraya melafalkan nama samiri. buhul-buhul bersekutu dengan jaring laba-laba untuk menjeratnya semakin kuat.

laba-laba memanggil teman-temannya dan kentut bersama-sama di depan hidung sapi kita itu. kita menyumbat hidung dan mencerca penggembala yang belum kembali dari buang hajat.

Lamongan, 2 mei 2008



AKU DAN PEREMPUAN YANG TIDAK KUKENAL

kami duduk menunggu bus lewat. “ini adam,” kataku memperkenalkan diri. dia menimpali, “ini hawa.” lalu adam dan hawa saling kunci dalam kamar surga. mereka bicara melalui lubang kunci dengan kata-kata membosankan. bersamaan dengan itu, lahirlah setan dari mani onani iblis.

“apa yang dibayangkan oleh iblis ketika itu?” tanyaku padanya. kemudian dia menjawab sambil bercekikik…

Sajak-Sajak Javed Paul Syatha

Kesaksian Daun Ungu

Mungkin bukan sesuatu yang aneh jika hutan depan rumah itu selalu disapa badai atau genangan air, karena memang sudah lama hutan itu menjadi mukim bagi angin juga hujan. Tapi baru pagi itu engkau sempat merasa kagum; kekaguman yang sangat aneh. Engkau memunguti rontokan daundaun kering, sembari berbisik lirih; entah apa yang engkau rapalkan, suara itu teramat rahasia. Sesekali engkau mengantonginya, ada pula yang engkau buang percuma, tapi untuk daun berwarna ungu itu, telah engkau persiapkan galian tanah dan nisan.

Sedang cuaca hari itu kembali membasahi hutan dekat tempat tinggalmu; seiring engkau mengubur daun ungu kering itu.

Ternyata tunas yang dulu hijau lugu yang sempat engkau tanam di hutan itu telah berubah menjadi raksasa, pohonpohon tua dengan terpaksa merontokkan daunnya menundukkan kepala ditengah rerantingan yang semakin renta.

Sehabis pagi itu engkau tidak lagi seperti biasanya, pergi ke hutan kemudian menghitung berapa lagi pohon-pohon yang harus tumban…

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

TANAH TAMBAK
untuk sahabat nurel

Hamparan tanah dan air segala tampak:
Gubuk-gubuk ngantuk dengan dermaga kayu
menunggu perahu yang tidak selalu tiba.
Turbin mesin berputar sepanjang waktu
tapi bukan kincir angin menghiburmu.
Padi dan ikan-ikan berulangkali panen
di luar musim. Capung-capung terbakar
di udara panas bergaram. Sebuah tempat
dinamakan pasar pagi karena tutup
sebelum matahari menuntut lebih banyak lagi.
Dan lalat-lalat berpesta di gelas-piring warung makan
langganan suap setiap orang. Air payau
menguap diam-diam tanpa jadi energi, garam atau hujan
kecuali janji meluap dimusim dekat nanti
mengapungkan rumah-rumah papan
yang bergerak tanpa tarian.

Sungguh terasa asing:
Kalau ini laut, aku tidak melihat karang
Kalau kebun dan sawah, jauh dari pematang
Air bukan sekadar kolam karena semua yang kupandang
seperti lautan impian. Di atasnya nelayan-nelayan
bercaping pandan berlayar menjaring kilau sisik harapan
Petani-petani setengah riang menyandang cangkul
bersiap dan…

Sajak-Sajak Thoib Soebhanto

Dermaga (I)

biduk renta berlabuh jua
singgah sebentar melepas dahaga
kusandarkan lelah di tiang dermaga yang sepi
sambil menghitung semangat yang letih

duhai kekasihku
kujemput engkau di dermaga itu
menjelang malam dengan rindu yang diam
menyaksikan seonggok nasib nan remuk redam

tak ada yang aku punya
sekedar cinta yang sekarat
biarlah kupersembahkan jua
padamu muara harapan tertambat.

Asahan-Jogja 2002.



Dermaga (II)

ada sepercik mimpi bertengger di batas laut
menyulam biduk renta dengan seuntai jamrud
kekasihku, jika engkau berhasrat sangat
bergegaslah tinggalkan dermaga yang penat
usah hiraukan duka berbilang
ambillah satu saja; sekedar cukup dikenang-kenang.

Asahan-Yogya 2003.



Dermaga (III)

kekasihku, berlabulah di dermaga hati
setelah engkau belajar tekun mengarungi samudra rasa
yang demikian itu, cukupkanlah!

Asahan-Yogya 2003.

Sastra-Indonesia.com