Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Javed Paul Syatha

BIARKAN

... untukmu agamamu
dan untukku, agamaku

/1/
biarkan lilin itu tetap menyala di jiwa
bukan nu bukan md bukan pula ahmadiyah
biarkan salam itu tetap terucap
bukan amarah
biarkan lautan menampung gerimis
bukan celah mengulur kemarau

/2/
adakah senyap pada pergeseran musim
menyasatkan keyakinan demi keyakinan
dalam setiap doa seorang hamba

adakah kitab suci belum menepikan arti
adakah agama kan kau akhiri di sisi sangsi
sedang tuhan kita masih menjadi
sebuah rahasia bagi para nabi
nabi palsu.

Lamongan, 2008



LANGIT BERMATA SENJA

Tawassulku
ular pemangsa perih
jasad dan mimpi purbaku
syurga nan senyap

tuhanlah yang kucari;
o
kutuk
aku
lebih
dari
keheningan
iblis
lebih
dari
api
hingga adam masa silam

wahai langit bermata senja
kuraih bianglala tubuhmu
kujelmakan
doa sepanjang ular.

Lamongan, 2006-2007



MENGGAMBAR JEJAK PASIR

menatap laut bersama kelam
di samudra batin yang sirna

aku selalu setia pada kedalaman laut
yang selalu mengajariku tentang kesabaran
sampai
ujung
mata

nelayan menjaring hujan dan badai
angin yang menghasut kesunyian

aku tak bernafas
sesaat
berjabat ombak
matahari
begitu sunyi
pagi
di tengah biru
air laut
mengantar nelayan
menjadi pasir
bagi hatiku

aku nelayan itu
bukan nabi
yang menggambar jejak
pasir putih.

Lamongan, 2006-2007



BENING LANGIT HENING

menggodog matahari ke dasar laut
menggarami langit dalam kepak cahaya

aku bening
langit hening
maka remuklah burung terbang
dihisap angin yang menyiksa

maka benarlah
jejak kita semakin panjang
kita mainkan
antara asin laut dan hampa langit
kau lukai hariku
dan aku mengepungmu dalam diam

maka adakah
ini masih saja sebuah rahasia
yang kau sublimkan

musti pada akhirnya tubuhku akan sirna tak teraba
bersama kilau doadoa yang memancar matahari
bersama kering laut

tubuhmu
tubuh kita
berlabuh.

Lamongan, 2006-2007



MIMPI PURBANI

menjilati lumut kesunyian
mimpiku
kesementaraan
kematian
yang tak pernah nyata

hanya mimpi
mengekalkan suntuk doa dalam gelap
yang abadi
hanya ada dalam mimpi
karena kesepian lebih purba
dari keabadian

mimpilah sirna
dari angin yang lebih sesat
dari jejak kelahiran
di beranda mimpi
tubuhku kuminta kembali
karena langit
bukan tempatku
berdiam.

Lamongan, 2006-2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…