Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

TANAH TAMBAK
untuk sahabat nurel

Hamparan tanah dan air segala tampak:
Gubuk-gubuk ngantuk dengan dermaga kayu
menunggu perahu yang tidak selalu tiba.
Turbin mesin berputar sepanjang waktu
tapi bukan kincir angin menghiburmu.
Padi dan ikan-ikan berulangkali panen
di luar musim. Capung-capung terbakar
di udara panas bergaram. Sebuah tempat
dinamakan pasar pagi karena tutup
sebelum matahari menuntut lebih banyak lagi.
Dan lalat-lalat berpesta di gelas-piring warung makan
langganan suap setiap orang. Air payau
menguap diam-diam tanpa jadi energi, garam atau hujan
kecuali janji meluap dimusim dekat nanti
mengapungkan rumah-rumah papan
yang bergerak tanpa tarian.

Sungguh terasa asing:
Kalau ini laut, aku tidak melihat karang
Kalau kebun dan sawah, jauh dari pematang
Air bukan sekadar kolam karena semua yang kupandang
seperti lautan impian. Di atasnya nelayan-nelayan
bercaping pandan berlayar menjaring kilau sisik harapan
Petani-petani setengah riang menyandang cangkul
bersiap dan berharap bulir ketam di hampa tangan
Para tengkulak datang dan pergi
membuat jalur sendiri di atas air dan api:
memanen tanpa menimbang, menimbang sebelum panen
Sementara di utara, sebuah tempat disebut kampung teroris
karena menyala oleh lebih banyak tuduhan,
maka sempurnalah keasingan.

Angin berhembus menembus pori-poriku yang kering
Seekor capung dengan sayap terbakar membuatku tengadah
memahami matahari: cahaya satu yang tak sama
mencintai seluruh sisi bumi. Seperti di sini, mulai kuhikmati
hamparan tanah dan air berbagi lebih dari yang tampak
di wajahmu yang letih.

/Lamongan-Yogya, 2006



DI PELABUHAN GRESIK
bagi kawan mardiluhung

mampir malamhari, angin keras, sauh berkarat
asin laut tercecap ujung lidahku
seperti kepak camar ingin teriakkan
kata puisi, namun bersamamu

menyusuri sepanjang dermaga, gudang tua
dan kapal sandar, kita mabuk saja
bicara hal-ihwal sederhana: tentang bulan
yang tak ada dan sebuah tangga kayu
hanyut diseret pasang entah ke mana

tapi tidak, di antara dengkur bebal kelasi
dan tawa ngakak para kuli, bicara juga kita
tentang rencana buku puisi, tentang tajam kerang,
keras rumah kura-kura, tinta cumi-cumi
tubuh lunak molusca, bulan-bulan penuh bualan

pada akhirnya, ketika bulan benar-benar
tak ada, segala yang keras dan lunak
ditandaskan, kita tak kuasa mengelak: saatnya bicara
tukang jagal sialan di kerak-kerak gelap neraka pelabuhan
(dan mataku bersiap gerhana untuk sesuatu
yang lebih memabukkan!)

bicara tukang jagal, aku juga tukang jagal, bung
tak kalah sialan dari kalimatmu meracau membubung
tak kepalang liar: memenggal

apa yang tak terpenggal. mencincang
apa yang tak tercincang
—walau dalam diam

lantaran itu, sekutuku gudang tua
yang menyimpan cerita dan dingin kata-kata
dari liat dan lunak daging kenangan

maka di sini, malamhari, kugeret temali
segala tiang, kujadikan salib dan cemeti
bagi yang kucincang. kugores lambung
segala kapal agar sempurna luka
dan lapar perjalanan

“o, pelabuhan, tempatku mampir
bukan sekadar mabuk igauan
dan ceracau cemasmu, kawan!”

di sini, aku ingin bersisik seperti ikan.

/Gresik-Yogya, 2006



SUNGAI SIAK
untuk marhalim

Di tepian jagung bakar
di bawah jembatan dari baja
hujan mengguyur tenda-tenda
merah muda. Kita pun kuyup
menakar kedalaman sungai waktu
dari gelak riang anak-anak
mandi telanjang, dari arus kuning
dan akar-akar terbantun
pada tebing kecemasan.

Bagaimana mengukur ketulusan
dari usia yang diberikan tuhan?
Rintik hujan membuat lingkaran
di kulit air yang beriak—air bertemu air
bercampur dan mengalir
seperti usia dan tangisan yang berlepasan
ke muara—bagaimana membedakannya?
Dan riak ibarat isak, segala yang tampak
tapi tak sanggup mengukur hening dasar
atau menjangkau hulu hatimu yang diam.

Di tebing kecemasan, di tepian jagung bakar
kita hanya dapat memandang
anak-anak murni telanjang
dan berloncatan sebagai umpan retak
masa depan. Atau membayangkan
aroma rempah di lambung kapal-kapal
yang pergi dan karam—adakah mahkota
dan silsilah raja-raja di hatimu berdiam?

Di tepian jagung bakar, di bawah tenda-tenda
runcing hujan, sia-sia kita menakar
kedalaman hati—kuyup keharuan
dan sungai waktu—seribu tahun keheningan
Kecuali kau dan aku jadi batu
terlempar dari tebing. Runtuh
dan terbenam.

/Pekanbaru 2005-Yogya 2006

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…