Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Javed Paul Syatha

Kesaksian Daun Ungu

Mungkin bukan sesuatu yang aneh jika hutan depan rumah itu selalu disapa badai atau genangan air, karena memang sudah lama hutan itu menjadi mukim bagi angin juga hujan. Tapi baru pagi itu engkau sempat merasa kagum; kekaguman yang sangat aneh. Engkau memunguti rontokan daundaun kering, sembari berbisik lirih; entah apa yang engkau rapalkan, suara itu teramat rahasia. Sesekali engkau mengantonginya, ada pula yang engkau buang percuma, tapi untuk daun berwarna ungu itu, telah engkau persiapkan galian tanah dan nisan.

Sedang cuaca hari itu kembali membasahi hutan dekat tempat tinggalmu; seiring engkau mengubur daun ungu kering itu.

Ternyata tunas yang dulu hijau lugu yang sempat engkau tanam di hutan itu telah berubah menjadi raksasa, pohonpohon tua dengan terpaksa merontokkan daunnya menundukkan kepala ditengah rerantingan yang semakin renta.

Sehabis pagi itu engkau tidak lagi seperti biasanya, pergi ke hutan kemudian menghitung berapa lagi pohon-pohon yang harus tumbang karena badai. Engkau gelisah dengan kebingunganmu sendiri, sepertinya ada yang telah terlupa, engkau mencoba mengingat-ingat kembali. Tepat ketika matamu berbenturan dengan batu nisan yang engkau tanam kemarin, lantas engkau mengambil lumpur dari peluhmu menuliskan nama-nama dan angka-angka, mungkin sebagai petanda atas kematian. Tapi siapa sebenarnya yang telah mati, bukankah di dalam kubur itu hanya sehelai daun kering berwarna ungu?.

Kiranya sesuatu yang telah ditulis di batu nisan itu, sama dengan tulisan yang ada di atas urat daun yang telah dikuburnya kemarin, tertuliskan “reinkarnasi”.

Sejak saat itu sepertinya engkau telah menemukan jalan keluar bagi hidupmu sendiri.
Senja itu engkau memetik daun paling tinggi di pohon raksasa hutan itu, tepat berwarna ungu, kemudian engkau letakkan pelan-pelan di pelukmu saat berbaring di liang kubur di bawah pohon raksasa yang engkau gali sendiri. Sehabis menuliskan sesuatu atas daun kering ungu itu, tertulis “aku sudah tua”.

Pagi itu hutan mulai sepi dari topan atau hujan seperti biasanya, hanya saja daun-daun banyak yang berjatuhan menerjemahi kuburmu. Jatuh tanpa huruf-huruf dan angka-angka; tapi apa di kantong transparan bajumu itu, tertulis “badai” dan satunya lagi terlukis “kematian”. Mungkinkah di kantong transparan itu sebuah kesaksian atas daun ungu yang ingin meronta reka.

Lamongan, 2003



Aku Di Sisihmu Kekasih

aku di sisihmu kekasih
menepi dalam bismillah
sebagai kegaiban
segalaku
pancar mata
harimu

aku menerbangi langit
merontokkan daun cahaya
menyelam ke dasar lautan
aku sebiji
kering dan basah
dalam takdirmu

akulah bersamamu dalam rindu
seusai pagi berbening embun
menyempurnakan umurku
kepadamu
hanya kepadamu.

Lamongan, 2004



Muqadimah

menyapa-mu
aku aus
didekap takdir
sampaikan salam ini pada lapis langit
jelmakan rintik hujan yang melebur segala kata
membingkis risalah magis kalbu
biar segala keheningan mengantarku

assalamu’alaikum bapa
aku datang sebagai anjing
berpijak dikegelapan purna
dan aku mencari jejakku di bulan
pada hijrah pada tubir mi’raj

biarkan hanya sunyi dalam keheningan jiwaku
seperti denting doa tak kumengerti
makin kalap kurapalkan
sunyilah menandaskan detik air mata
di tetes waktu

dari sendiri kau datang tanpa rupa dan bentuk
kau menjelma bukan cahaya dalam ketakberjasadanmu
wadag yang akan meleburkanmu dalam tafsir hijabku
o, kebekuan jiwa
terjebaklah pada wadagku yang nian absurd
menamaimu!

Lamongan, 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com