Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Membacamu Menari

Membacamu menari, perbincangan yang hangat
menyoal tentang keadaan.

Hanya sebentar memandangmu tapi bukan lagi anugerah sebab aku telah berkhianat dengan mengintaimu lebih lama.

Aku seperti terperosok ke dalam lubang rahasiamu, membentur pokok tubuhmu yang goyah sementara angin saling memprotes menebas-nebas dahan lenganmu yang bergoyang.

Aku mengaduh bukan karna keluh tetapi terperanjat sejadi-jadinya akan kekuatan yang kau tampakkan.
Jika saja semua itu adalah seruan, maka semestinya protes angin akan kalah-pecah oleh kedahsyatanmu.

Membacamu menari, jemarimu semacam daun yang lembai menjinakkan gerah yang mulai basah.

Teduh.

Membacamu menari, maafkanlah aku menjadi pencuri rahasia tubuhmu yang kau tak sembunyikan karna bagimu memandang adalah kemerdekaan tanpa perlawanan.

Dan larik ini hanya selembar daun kering akasia.

Solo, TBS, Januari 2011



Seekor Keringat

Sekelompok keringat terbang hinggap dari tubuh ke tubuh membawa pesan perjalanan panjang per…

Sajak-Sajak Gde Artawan

http://balipost.com/
MENCATAT KELUH IBU

siapa yang masih setia mencatat keluh ibu
di setiap gemerlap pesta ulang tahun
di tepian kesadaran
tentang perjumpaan tawa dan tangis
di penghujung ruang persalinan
tangantangan gemetar mencatat hari lahir
karena esok perhelatan musim akan digelar
dan riuh hidup akan memompakan berjutajuta jerit
karena pagelaran pentas agung akan digelar
di panggung samsara
dan kita akan menembangkan
serpihanserpihan irama karma
dengan tarian sebisanya.

perjalanan harus dilalui
seperti buat menyerahkan rasa,
mendung yang bergumpal menyerahkan gerimis
bagi tanah yang dikoyak kemarau,
dan kita menyerahkan kehendak bagi alir takdir
yang tergurat menjadi semacam tulisan
tak terbaca di dahi.

engkaukah dengan segala kasih menyuratnya
menjadi gairah sepanjang masa, seluas semesta,
sedalam kata.
Telah lama belukar dalam diri menepikan keinginan
mempertajam bakti dan kedalaman rasa
berserah luka pada masamasa
yang kaubentangkan
bagi keinginan melintas harihari derita.

Lalu apa gunanya merenung
jika ki…

Sajak-Sajak Kafiyatun Hasya

http://balipost.com/
HERA

1. Mata kerling itu menelisik hatiku
Membuat ceruk ceruk sebuah nama sunyi
Dibawa remang bulan kembali kueja nama
Angin malam turut memuja

2. Hera, sementara namamu masih berkidung
Meski tak sungguh sungguh jelas
Tapi sampai pada hari ini hanya hujan
Yang mengabarkanmu. Bila penyair
Mengirimimu kisah serdadu. Tentang lelaki
Yang bersenjata itu, maka dekaplah segala
Yang kau miliki

3. Batu mengekalkan tetesan air matamu
Beberapa ayat kerinduan mengelilingi lehermu
Dan kau Hera, tak ada yang merinduimu
Hingga berdarah darah selain
Aku: serdadu dihatimu



Melabuhkan Potongan Waktu

Aku pijak kulitmu, perempuanku. Melabuhkan potongan waktu di tubuhmu. Dua pekan aku mengagumi senyummu. Lelakikah aku, menyesal telah melirikmu tiga kali?

Mana darahmu? Biar ku tato dengan namaku. Biar kujahit dadamu, yang sobek karena terhunus rinduku. Tak ada lelaki yang mampu menidurkan matamu. Selalu berkobar.



Perempuan Dalam Cangkir

Begini menjadi perempuan: Tangan penuh akar serabut. S…

Sajak-Sajak Nur Wahida Idris

http://www.korantempo.com/
Rumah

kelak bila aku rindu rumah
kelak bila aku rindu rumah mungkin hanya bisa kucium segenggam tanah dari benih pohon pacar yang dikirim ayah

apalah artinya ari-ariku yang ditanam di pekarangan bahkan air mata ibu yang meresap di lantai tanah apalagi urat darahku tak berhak memintal ikatan batin

setelah lepas tali pusar masa remaja gambar inai di tangan pun memudar lepas pula tali cambuk masa kanak yang terikat di tiang rumah kini siap melukai apa saja yang kuanggap jadi masa depan

bila aku rindu rumah harus siap selembar KTP di pelabuhan bahkan kini harus kusiapkan berlembar-lembar sejarahku untuk dilego dan dimusnahkan

tapi ayah tak kalah cerdik ia kirimkan segenggam tanah benih pohon pacar untuk bekal ingatan agar kutulis sejarah baru di tanganku sendiri! bila nanti rindu dan ingatan hanya segores pena yang habis tinta tak ada yang perlu kuakhiri keculi puisi yang meninggalkan

yogya, maret 2005



Menyingkir : pelukis abu bakar

di tepi jurang bekas jalan lahar kukena…

Sajak-Sajak Firman Nugraha

http://lampungpost.com/
Syal Kesaksian
-pani

Mungkin syal ini paling lirih dengan bisunya
mendapatimu duduk bersama senja. Aku cemburu
Tapi gerimis masih saja berbaris menguncupkan bunga
Padahal ia tak pernah berjanji pada bumi yang ingin basah
juga nurani yang hendak menorehkan sejarah
Fajar memerah, namun syalku tak lantas marah
Diredamnya deru darahku. Dihempasnya harum namamu
Kuterduduk membaca hujan, meminang alam, menggemakan bisu
tentang langit yang selalu mengaku beratap satu

Padangbatu, 2008



Kiblat Pertemuan
-pani

Hujan ikhlaskan perjalanan awan
menapaki jejak dengan basahnya
Bulir air menjelma jadi airmata
membuka genangan luka
Matahari pun gigir ke alenia tenggara
mengingkari janji, menghitamkan tatapan
di antara gerak cuaca. Seperti kau:

Perempuan kuyup menembus kegelisahan
demi kegelisahan yang ruyup
sambil menanggalkan percakapan
di kiblat pertemuan. Seperti aku:

Yang tak mengerti tanda lahir di tubuhku
juga garis tanganmu yang tak pernah bersatu
menerjemahkan setiap kecupan
Sedang musim telah sempu…

Sajak-Sajak Inggit Putria Marga

Kompas, 29 Maret 2009
Pembawa Kincir

rambutmu meriap seperti garis-garis petir, ketika kemarin senja
kulihat kau melayang di atas tubuhku sambil membawa kincir
tapi mataku yang berbinar memandangmu saat itu, membuatmu tahu
lidi-lidi dupa yang kubakar tiap senja adalah mantra
yang akan menyihirmu jadi kuda
mungkin murka mungkin bangga
seiring putaran kincir yang tiada berawal-akhir, dari tatapanku kau menyingkir
lenyap sekejap peluh terserap pasir. aku menggigit bibir, terasa sisa putaran kincir
mengapung di angin sepoi semilir. di hatiku sesuatu berdesir, berkata:
pertemuan belum berakhir
pandanganku mencarimu di angkasa
ribuan burung gereja terhambur di bawah awan yang menyusun diri jadi tangga
menuju atap cakrawala. barangkali kau telah di sana, rebah sambil berpikir
mengapa aku hendak menyihirmu jadi kuda. di bumi, aku yang tak merasa dosa,
menutup mata. sisa senja telah mengubah planet ini jadi makam yang jarang
ditaburi bunga
hingga malam hilang hitam
kutunggu kau di padang mimpiku yang hijau, yang…

Sajak-Sajak Isbedy Stiawan Z.S.

http://www.lampungpost.com/
Pertemuan

setelah siang berlalu
kau datang tanpa sepatu
lalu kau beri peluk
aku lempar dekap
sesungguhnya langit telah terbuka
kita susuri hingga terkatup mata
taman-taman yang mekar
suara-suara hewan gemetar
kau tersenyum
aku mengulum
kau berikan sejumput pipi
aku sambut sehalaman kecup
“ah, sudah berapa percakapan
menutup lembar halaman?” tanyaku
sebelum kau benar-benar lalu
ke balik rimbun pohon mengkudu
“tapi halaman selalu terbuka
setiap kau habisi dengan kata-kata
seperti laut itu tak pernah kering
meski berjutakali dilalui kapal
dan gelombang hilang di pantai,” jawabmu
kemudian taman
jadi hening
sesepi hati!

041010



Zikir Sakit

jika ada sakit lebih dari sakit kepalaku
berilah padaku, sekiranya aku akan
lempang menuju halaman-Mu
bahkan sakit yang lebih berat
Kaulimpahkan kepada seorang nabi
dipenuhi koreng seluruh tubuhnya
tetap pasrah dan menyebut nama-Mu
tatkala nabi-Mu dilahap seekor ikan
dan bertahun-tahun di dalam perut
makin ingat kepada-Mu dan tahu
kalau ia telah berbuat dosa
meningg…

Sajak-Sajak Agit Yogi Subandi

http://www.lampungpost.com/
Lorong

aku berjalan
menuju lorong
yang semakin hari
semakin menyempit
namun,
ketika aku berjalan
orang-orang menuju
ke arahku
menuju lorong
yang lebih sempit lagi.

(Bandar Lampung, 2010)



Di Meja Makan

puan,
di matamu yang cerlang
seperti ujung pisau
tamatkanlah
seluruh hasrat
di dadaku
dengan menusukkannya
ke lubuk jantungku
agar kau tahu,
di kedalamannya
ada dirimu.

(Bandar Lampung, 2009)



Sebait Pantun Bujang

akasia,
hijau tersepuh
bunganya,
cemara kering rapuh
mengapa
bunga
tak kunjung jatuh
hingga angan
berubah keluh.

(Bandarlampung, 2010)



Berjalan

seperti dugaanmu, aku telah menempuh jalan ini: berjalan dalam bimbang dan tetap sadar di dalam malam, meski akhirnya, kita memahami bahwa kata “sampai” akan tersuruk pula ke dalam makna yang selama ini acap kita cari-cari. seperti katamu dulu, jalanan ini memang begitu kedap. tak terhitung teriakan yang lesap ke dinding dan beton-beton di pinggir jalan, bahkan lorong-lorong, yang seharusnya memiliki gema di kala malam, telah mengecoh logika bahwa…

Sajak-Sajak Heri Maja Kelana

http://www.lampungpost.com/
Kampung Daun

kampung daun, aku datang
membaca garis wajahmu
serta seruling mistik
dan perempuan yang mandi di kali
kau ajak aku berkelana lewat mata bocah
mata yang polos seperti kampung daun
di sini, aku tak perlu membaca buku filsafat
atau koran pagi
di sini, aku tak perlu komputer atau handpone
di sini, aku hanya butuh ubi dan semacamnya
aku tak bisa berkata
sedang langit menuju senja
menemu asonansi pada kepulangan bapak desa
aku tak pernah tahu siapa kau
kami tak bertegur sapa
namun kami lahir dengan cara yang sama
kami lahir dari rahim ibu
rahim kenangan yang selanjutnya menjadi tanah
di kampung daun, aku seperti bukan manusia
bukan siapa-siapa
sebab kau bapak desa
atau orang-orang kampung tak pernah baca buku filsafat
dan tak pernah pegang handpone

Sunia, 2009-2010



Kidung Sundamala

siapa yang percaya dengan batu
semua hening dan diam
apakah ada lingga atau yoni
dalam kidung sundamala
mereka misteri seperti batu
seperti juga kelahiran kita

Bandung, 2009



Januari: Potret Jalan Cikapayan…

Sajak-Sajak Endang Supriadi

http://www.lampungpost.com/
Mengarungi Lautan di Tubuhmu

aku mengarungi lautan di dalam tubuhmu
menjaring pekikan yang bertahun-tahun sangat
kuhafal bunyinya. tak ada batu atau lumpur
tempat jejak singgah. tapi di rambutmu gerimis
bergelayutan, menjauh dari dinding yang selama ini
jadi keranjang bagi para pelukis kacangan
aku berperahu dengan sebatang cahaya. menyulam
segala bentuk dendam dengan serat angin
memotret luka dari pepohon yang tumbang. tapi
aku penikmat sepi, maka kuarungkan segala raung
yang meloloskan diri dari kisi jendela. di sana,
bayangmu jadi kuas, menyapu kerontang mimpi
jadi awan di antara batas siang dan malam.



Sudah Kalah Aku

sudah kalah aku. percuma atap kubangun
pintu kupasang, roda kuputar, payung
kubuka. aku renta, tumbuh langsung tua
dagingmu dagingku beda. aku berdarah
awan, engkau berdarah kawah
benar-benar jauh panggang dari api
sukmaku menggelontor seperti air bah
yang tak berakar, namun justru
mengepung seluruh tempat persembunyianmu
ini aku, cemara yang bergoyang
rantingku tem…

Sajak-Sajak Edi Purwanto

http://www.lampungpost.com/
Pulau Pisang

Di manakah
cerita tentang kilau emas
cengkih-cengkih itu?
Tembakak
bawalah mereka kembali
pada kami
dan menjadi sekuel cerita
pulau ini!

Lampung Barat, Maret 2010



Yang Hilang di Atas Pesisir

tanah ini tak lagi damai untukmu
batang-batang damar
menangislah
menangislah dengan suara tenor begitu rupa
sebab terlalu berat beban yang kauderita
ucap salam bagi laut, pantai, dan angin senja
bahwa kau tak lagi ada

Lemong, 2010



Sajak Rumah Panggung Tua

masuklah ke dalam rumah panggung
surga tempat menyemai benih kasih
dengan lukisan berlatar pelangi
di sinilah lima penerus silsilah hadir
teruskan sisa hidup dunia
masuklah ke dalam rumah panggung
meja, kursi, dan dindingnya yang setia
adalah saksi perjalanan waktu yang semakin letih
sedang pintu dan jendela
masih terbuka
bagi burung-burung dan angin senja

Lemong, 2009



Lelaki Penikmat Senja

Adalah lelaki yang setia nikmati senja
sebab hanya padanya aku dapat belajar menjadi setia
serupa kedatangannya yang tak pernah alpa
Tak seperti engkau ya…

Sajak-Sajak Hudan Nur

http://www.lampungpost.com/
Pujangga Megalit
: Raja Ali Haji

akhirnya ia menambal ingatan yang pernah karam
di dermaga bintan tanjungpinang
tetapi malam semakin gelap
hingga aku tak melihat sorbanmu
ayahku pernah berkata
bila kelak menjumpaimu di sini
aku harus menggenapi salam
: hingga anak-anak awan membentuk tangga
yang bisa kujadikan jalan untuk menemumu
anak-anak memanggilmu bapak kata-kata
pemetitih mantra penolak bala
hanya saja kami lupa kalau engkau bagian dari kuantum batu ampar
selayang rupa di kidung-kidung kirana
sederet pulau-pulau cempaka

Kepulauan Riau, November 2010



Dero Pamona

anak-anak menyambut panen lewat pesta warna-warna
di belakang mereka lingkaran melebar memanggil hujan
anak-anak meretak
hari itu Behoa dan Pamona menelusuri jalannya
rampak kepuasan bertali kasih dalam jamuan zending
membalur lewat dayuan lalove
seorang ibu muda berbisik di telinga pemuda;
leluhur kita memberkati malam suci
dari jauh kakula dan mbasi-mbasi
menghingar
turut serta dalam upacara hari
tak sesiapapun murung
mesk…

Sastra-Indonesia.com