Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Nur Wahida Idris

http://www.korantempo.com/
Rumah

kelak bila aku rindu rumah
kelak bila aku rindu rumah mungkin hanya bisa kucium segenggam tanah dari benih pohon pacar yang dikirim ayah

apalah artinya ari-ariku yang ditanam di pekarangan bahkan air mata ibu yang meresap di lantai tanah apalagi urat darahku tak berhak memintal ikatan batin

setelah lepas tali pusar masa remaja gambar inai di tangan pun memudar lepas pula tali cambuk masa kanak yang terikat di tiang rumah kini siap melukai apa saja yang kuanggap jadi masa depan

bila aku rindu rumah harus siap selembar KTP di pelabuhan bahkan kini harus kusiapkan berlembar-lembar sejarahku untuk dilego dan dimusnahkan

tapi ayah tak kalah cerdik ia kirimkan segenggam tanah benih pohon pacar untuk bekal ingatan agar kutulis sejarah baru di tanganku sendiri! bila nanti rindu dan ingatan hanya segores pena yang habis tinta tak ada yang perlu kuakhiri keculi puisi yang meninggalkan

yogya, maret 2005



Menyingkir : pelukis abu bakar

di tepi jurang bekas jalan lahar kukenang dirimu yang berparas malam anak-anak rambutmu bagai bintang melesat menemu sajak-sajak yang tak pernah bisa kubacakan

rimbunan pucuk bambu mengipas-ngipas kenangan dan usiaku yang lama terkurung dalam ruas bambu setiap saat berjuang melubangi buku-buku untuk sampai pada parasmu dan napas hijau yang selamanya berhembus mengajakku melupakan labuhan dan muara dangkal!

jalan berbatu ke arahmu kujadikan jalan merebut malam jadi milikku, tapi tak kelam

dulu aku ingin ke suatu tempat, di mana senja membuat orang jadi dungu dan mereka kabarkan, bulan pun bisa dijangkau tapi malam selamanya kelam di situ dan adat lebih merdeka dari diriku

di sini, kuhijaukan air yang mengalir dari keningmu hingga waktu lupa melepas kulitnya dan setiap usia bertambah, jalanan memanjang meneruka asal waktuku yang berumah belukar dan duri-duri

yogya, maret 2005



Keinginan

aku biarkan diriku menemuimu petang ini kubiarkan musuh-musuh dalam diriku menggiring kuda-kudanya ke padang rumput berwarna merah –cahaya mataku yang merana, dan udara bergetar di atas rumputan

kau mungkin mengenang lambaian tangan dan pesan-pesan agar berkabar setelah sampai tujuan, lalu aku mengenang kelam jalan-jalan

adakah kau siap-siaga mengintai debar jiwaku yang kehilangan? dan selalu berhasrat menghukumku? kau menemuiku bagai cahaya yang melesat seketika alam di sekitarku padam aku telah kehilangan waktu untuk abai padamu

miri-sawit, juni 2005

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…