Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Kafiyatun Hasya

http://balipost.com/
HERA

1. Mata kerling itu menelisik hatiku
Membuat ceruk ceruk sebuah nama sunyi
Dibawa remang bulan kembali kueja nama
Angin malam turut memuja

2. Hera, sementara namamu masih berkidung
Meski tak sungguh sungguh jelas
Tapi sampai pada hari ini hanya hujan
Yang mengabarkanmu. Bila penyair
Mengirimimu kisah serdadu. Tentang lelaki
Yang bersenjata itu, maka dekaplah segala
Yang kau miliki

3. Batu mengekalkan tetesan air matamu
Beberapa ayat kerinduan mengelilingi lehermu
Dan kau Hera, tak ada yang merinduimu
Hingga berdarah darah selain
Aku: serdadu dihatimu



Melabuhkan Potongan Waktu

Aku pijak kulitmu, perempuanku. Melabuhkan potongan waktu di tubuhmu. Dua pekan aku mengagumi senyummu. Lelakikah aku, menyesal telah melirikmu tiga kali?

Mana darahmu? Biar ku tato dengan namaku. Biar kujahit dadamu, yang sobek karena terhunus rinduku. Tak ada lelaki yang mampu menidurkan matamu. Selalu berkobar.



Perempuan Dalam Cangkir

Begini menjadi perempuan: Tangan penuh akar serabut. Sekali rengkuh, beberapa jiwa mukim. Kengerian pada secangkir kenangan. Tegukan asin, pahit, jauh dari manis. Secangkir menelanjangi ingatan. Hujan yang menghunus kepala hingga isi perut.

Seorang bertandang padanya:”perempuan dilarang menjadi penyair. Selama masih menyembunyikan kekasih gelap dalam sajaknya.”

bisik lelaki senja

Dia menjadi perempuan dalam secangkir kenangan. Sedikit air hangat dan asinnya mata



Kepada Dulla

Dia menangkap angin menyilet tubuh. Mengalir aroma tubuh lelaki bercampur perempuan.

Cairan itu mengalir di paha, betis, kaki jenjang perempuan. Detak jam memburu nafas, menghijau digemerisik jendela kamar. ”jangan takut, perempuanku”

Sobekan cinta kau selipkan dikuping. Semacam orang Bali menghidupkan tubuh. Dupa dan kemenyan jadi suguhan. ”aku sudah menjadi lelaki, perempuanku”

Dimana bulan bersemedi? perempuan telah mencuri bulan. Dia simpan ditubuhnya.

”aku curi bulan, ketika lelakiku telah kalah. Akan meretas bulan yang berwarna dari rahimku”



Aku Bulan Kecilku

Kau padatkan malam. Keringkan keringat kasih sayang, gugurkan bunga pohon duri. Kau dimalamkan tangisku: bulan kecilmu.

Jika potongan waktu membelah dunia. Kau kancingi bajumu serapi mungkin. Menenteng harapan bertahun tahun kedepan. Mengikat tali sepatumu.

”Nak, kau itu Bulan kecilku. Ayah tahu kau suka kue serabi. Tapi musimkah kue itu ketika angka usiaku memudar?”



Milik Beberapa Lelaki

ini semacam melipat waktu. Meniduri busa di bak mandi. Mencuci daki hati.

Cukup penting!

Semalam beberapa kali lelaki menidurinya dengan bermacam kembang. Ada yang berambut ikal, berkacamata, filsuf, pembalap, asisten dosen, wartawan juga milyoner dikampungnya sendiri.

Semacam beginilah: perempuan suka melipat waktu. Melipat kenangan seperti baju tidak penting.

: O, kekasih. Yang mana darahmu? Aku telah menetaskan anakmu semalam. Pun aku mengandung masa depanmu.



Goris

Maghrib jatuh dikaki. Senja menggempuri tubuh. Dadong Nilam mengemas dagangannya. Daun pisang lima ikat. Daun singkong tiga ikat. Daun sirih tujuh ikat. Buah pinang enam biji.

Senja ranta dipikul Dadong Nilam dalam keranjang dagangannya. Hatinya bergumam

:daganganku sudah laku semua. Yang aku bawa pulang adalah bayangannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…