Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Firman Nugraha

http://lampungpost.com/
Syal Kesaksian
-pani

Mungkin syal ini paling lirih dengan bisunya
mendapatimu duduk bersama senja. Aku cemburu
Tapi gerimis masih saja berbaris menguncupkan bunga
Padahal ia tak pernah berjanji pada bumi yang ingin basah
juga nurani yang hendak menorehkan sejarah
Fajar memerah, namun syalku tak lantas marah
Diredamnya deru darahku. Dihempasnya harum namamu
Kuterduduk membaca hujan, meminang alam, menggemakan bisu
tentang langit yang selalu mengaku beratap satu

Padangbatu, 2008



Kiblat Pertemuan
-pani

Hujan ikhlaskan perjalanan awan
menapaki jejak dengan basahnya
Bulir air menjelma jadi airmata
membuka genangan luka
Matahari pun gigir ke alenia tenggara
mengingkari janji, menghitamkan tatapan
di antara gerak cuaca. Seperti kau:

Perempuan kuyup menembus kegelisahan
demi kegelisahan yang ruyup
sambil menanggalkan percakapan
di kiblat pertemuan. Seperti aku:

Yang tak mengerti tanda lahir di tubuhku
juga garis tanganmu yang tak pernah bersatu
menerjemahkan setiap kecupan
Sedang musim telah sempurna
menghantarkan kembali riwayat mata angin
bersama sunyi dan keraguan

Padangbatu, 2008



Peta Kesunyian
-pani

Sudah lama kiranya aku memandang hati sendiri
Disergap berkali-kali oleh rasa cemas
ketika langkah demi langkah menepi dari arah barat
mengembangkan wajah tak tegas

Maka seperti ditusuk-tusuk rindu
aku pun lari membawa resah
menabur gelisah. Menghindari matahari
yang hendak memanggang pandangku
dan melipatnya dalam peta kesunyian
Musim pun berubah. Kecuali musim di dadaku
yang selalu gugur dan kembali kubur
sedang tatapan itu belum kuterjemahkan:

Tentang keningmu yang basah dan tangan tengadah
yang kusebut sebagai nurani
Sehingga musim mengerti bahwa ia tak harus diam
oleh hati yang menyergah pergi
Maka, haruskah kubuang tanya
hingga airmata hanya berita menjelma doa?

Padangbatu, 2008



Selimut Waktu
-pani

Selain malam yang membentang
awan-awan kembali ke sarang
tak ada lagi gelak yang kauhantar
bersama rimbun daun-daun
Kau pun terseduh bersama kabut
Menggenggam jari sendiri jadi selimut
Selimut yang dulu mendekap kesendirianku
bersama waktu yang kupapah namun terluka
sebelum rebah sebagai air mata
Maka seperti pulang yang telah menjadi kawan
kau melangkah lagi ke arah entah
tanpa mengucap salam
Meninggalkanku bersama pilu dan gamang

Padangbatu, 2008



Impresi Rindu
-pani

Malam melepaskan gaibnya bersama sembilu
Air mengukir waktu di antara wajah yang mesti diseka
bersama kebekuan yang lesap di dekap buku jari
Jiwa dibawa lari disergah matahari yang masih berjanji
Suara parau seakan masih akrab menerjemahkan risau
sedang bagi tatapan mata adalah nikmat dan langkah
adalah ibu yang melahirkan kata-kata dalam untaian kalimat
walau kita tahu bahwa rebah adalah tempat semua kiblat

Padangbatu, 2008



Musim Kelima
-pani

Pagi adalah bibirmu yang ruyup di antara musim kuyup
Langkah telah pulang ke sarang ke puputan
Seperti engkau yang selalu menyimpan kerinduan tatapan
bersama malam ditinggal sekawanan mega
Maka bergeraklah pintaku ke arah barat
setelah berita menumpahkan cakap
Sedang pagi masih saja melesapkan jejak
di luruh kerudungmu yang teduh
Siang bagai miang di depan gelas kacaku
Bulir hening diam semati karang
Kau gigir di tubir dzikir sambil berkaca pada tanya
dan menanam kembali musim
yang kau sendiri tak tahu apa namanya

Padangbatu, 2008

Firman Nugraha, lahir di Purwakarta, 24 Maret 1984. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…