Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Hudan Nur

http://www.lampungpost.com/
Pujangga Megalit
: Raja Ali Haji

akhirnya ia menambal ingatan yang pernah karam
di dermaga bintan tanjungpinang
tetapi malam semakin gelap
hingga aku tak melihat sorbanmu
ayahku pernah berkata
bila kelak menjumpaimu di sini
aku harus menggenapi salam
: hingga anak-anak awan membentuk tangga
yang bisa kujadikan jalan untuk menemumu
anak-anak memanggilmu bapak kata-kata
pemetitih mantra penolak bala
hanya saja kami lupa kalau engkau bagian dari kuantum batu ampar
selayang rupa di kidung-kidung kirana
sederet pulau-pulau cempaka

Kepulauan Riau, November 2010



Dero Pamona

anak-anak menyambut panen lewat pesta warna-warna
di belakang mereka lingkaran melebar memanggil hujan
anak-anak meretak
hari itu Behoa dan Pamona menelusuri jalannya
rampak kepuasan bertali kasih dalam jamuan zending
membalur lewat dayuan lalove
seorang ibu muda berbisik di telinga pemuda;
leluhur kita memberkati malam suci
dari jauh kakula dan mbasi-mbasi
menghingar
turut serta dalam upacara hari
tak sesiapapun murung
meski lupa bercocok tanam ala Pamona yang khauf
yang diingatnya hanya derap dan kekompakan modero
mereka menari di atas batu
karambangan terus bertalu
hingga gelang-gelang bambu di kaki perempuannya terlepas
menghadap malam

Lembah Palu, Juli 2010



Cilik Kriwut: Batiwah

sebentar lagi kasongan akan kita lampaui
tapi mampirlah dulu ke bukit
datu yang pernah kalah dalam bertarung dengan umur
di sini
kami dilahirkan
sebagai sekutu kerajaan yang muak akan kebintangan tentara nica
selayak adupan
menggonggong bila pasukan bergenderang
aku direbahkan
sebelum keluargaku memenggal jari-jari
upacara darah tak bisa dimulai
pendaringan misteri ot danum
tentang penjaga air yang kelak menelan dunia
pergi ke waktu lama
lalu jadilah
batu bernyawa yang bersemayam di ruang hati rakyat maanyan
sesembahan untuk penjaga kerajaan
: mati untuk kematian yang mematikan

Bukit Batu, Kalimantan Tengah, Februari 2006



Pepasir pun
Terluka


tiada lepas bebintang di hamparan laut
dengan koyak bebilu rindu
memeluk takdirnya
bahkan
pepasirpun turut meluka
seorang tua dengan songkok lamanya
telah merampungkan usia
lewat bendera putih di depan pendoponya
menandai waktu
khatamkan mantra kata untuk diwariskan
penerusnya
ombak bergolak
bebuih menyingkap rahasia gelombang hidup
: ia mengadu padanya
siapa lagi yang merela batang usia untuk peradaban?
hanya engkau,
hingga
pepasir mengeluar darah
menyaksikanmu ditelan bumi

Palu, November 2009

———-
Hudan Nur, karya-karyanya tersebar di berbagai media dan antologi bersama. Ikut mendirikan Komunitas Teras Puitika dan AUK.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…