Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Endang Supriadi

http://www.lampungpost.com/
Mengarungi Lautan di Tubuhmu

aku mengarungi lautan di dalam tubuhmu
menjaring pekikan yang bertahun-tahun sangat
kuhafal bunyinya. tak ada batu atau lumpur
tempat jejak singgah. tapi di rambutmu gerimis
bergelayutan, menjauh dari dinding yang selama ini
jadi keranjang bagi para pelukis kacangan
aku berperahu dengan sebatang cahaya. menyulam
segala bentuk dendam dengan serat angin
memotret luka dari pepohon yang tumbang. tapi
aku penikmat sepi, maka kuarungkan segala raung
yang meloloskan diri dari kisi jendela. di sana,
bayangmu jadi kuas, menyapu kerontang mimpi
jadi awan di antara batas siang dan malam.



Sudah Kalah Aku

sudah kalah aku. percuma atap kubangun
pintu kupasang, roda kuputar, payung
kubuka. aku renta, tumbuh langsung tua
dagingmu dagingku beda. aku berdarah
awan, engkau berdarah kawah
benar-benar jauh panggang dari api
sukmaku menggelontor seperti air bah
yang tak berakar, namun justru
mengepung seluruh tempat persembunyianmu
ini aku, cemara yang bergoyang
rantingku tempat senggama burung-burung
langit membungkusnya berabad-abad,
tapi engkau begitu rela membakarnya.
sudah kalau aku. percuma kuberi nama manis
pada pisau, kuberi nama salju pada batu
kuberi nama rindu pada badai, kuberi nama
sorga pada kubur. kereta kepedihan ini,
terus melangsir di sendi-sendi pikiranku.



Menolak Bayang-Bayang

ada lapisan langit yang menyimpan
wangi hujan, katamu dibalik kerudung
pagi. ada malam yang tak pernah gelap
karena cahaya embun yang rimbun
memantul sepanjang dusun
aku ingin berbagi rasa seperti karat
pada besi. maka jangan pergi, lelangit
akan kuyup digetar tanganmu. juga
jangan ada bayangan ketika kita beradu
pandang. suhu ini, memekarkan seluruh
rumah kerang di lautan
ada gemuruh yang tak terdengar
di dalam dadamu. aku tahu sejak kau
dilahirkan untukku, katamu. seperti apa
gerhana ketika kita tertidur? mungkinkah
semua pintu yang ada di surga terbuka?
aku ingin berkata jujur padamu. seperti
pelangi pada warnanya. sungai akan
mengalir membawa cahaya ketika dunia ini
terbenam. tapi sekali lagi, jangan ada
bayangan ketika kita beradu pandang.



Tak Ada Garis Batas

tak ada garis batas pada rindu ini
juga kota yang disepuh cahaya napsu
siapapun boleh datang atau begadang.
aku melihat seekor anjing di gang
rumahmu. seperti menjaga tulang
di atas piring dihias bunyi denting beling
seseorang beranjak ke muda terus ke tua
tak melalui jalan tol. tapi kau,
memintaku sekepal nasi jadi bubur
agar ada isi dalam satu mangkok
cinta tak tumbuh dari kedip semata
kecuali sapu tangan yang jatuh dikembalikan
oleh si penemu. ah, itupun masih sangsi, katamu
aku akan datang lalu pergi lagi
seperti bulan yang ditakdirkan, seperti
matahari yang ditugaskan. anak-anak
adalah pelangi bagi rumah tangga. maka
jangan menciptakan awan dari perapian
sebab udara dingin tak harus muncul dari angin.



Melihatmu

aku melihatmu duduk di antara
laut dan darat. di laut kaumelihat
matahari merosot ke bumi, di darat
kau melihat kegelapan tersungkur
ke dalam kabut
kau memilih buih ombak
sebagai penghapus jejak kekasihmu
di batin. selongsong waktu kau isi dengan
benci dan rindu. tapi kau tak tahu
kapan buih itu menjelma kata-kata
untuk menyapanya
burung camar turun ke tiang kapal
sedang angin memainkan kain-kain layar
gelombang tak henti menampar
di atas geladak hatimu memar
aku melihatmu duduk di antara
laut dan darat. pada laut kau pasrah
pada darat kau berserah. aku tak tahu
dibagian mana hatimu terbelah?

——-
Endang Supriadi, lahir di Bogor 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen sejak 1983 di pelbagai media dan antologi bersama. Buku puisinya, Tontonan Dalam Jam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…