Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Sajak-Sajak Fajar Alayubi

http://www.sastra-indonesia.com/
Kaulah Hati

Kaulah Merkuri
di hadapan Sang Pemilik jagat raya

Kaulah hati
Wahai yang dianugrahi mahkota laksana raja Ishtar,
Mars tersipu wajahnya semerah rubi
Bumi tersanjung langit biru dan laut dalamnya
sungai yang mengalir pun jadi nadinya

Oh paras rupawan,
kecemburuan Venus selaksa hujan
keringatmu bercucur, menguap rasa sampai ke hulu

Bima Sakti
Kekasihmu bagaikan Andromeda
kecintaan Alesis pada padang gemintangnya
merengutkan keningnya
: kaulah pesirah, padangku tiada sejengkal dalam hatimu.



Kesaksian

Aku melukis bumi sirna
coklat langitnya,
hampa udaranya

burung-burung terbang menjilati senja
angannya jenuh melayang khayang
terbakar di tiap sayapnya

laku di atas rimba arang

Pantai sunyi kugurat badannya
telak rebah ia berselimut tinta hitam

Percikan warna api kusulut di punggungnya
selaksa luka dari sayap yang berkobar
agar langit tumbuh lembayung

Agar tampak tangan tak jahil mendurja alam,

ku apung batu karang sebagai bayang-bayang
; buih-buih ringan hiasan pucat pepasir.



Agi…

Sajak-Sajak Imron Tohari

http://www.sastra-indonesia.com/
Puisi di Kulit Pohon

menanyakan arti sebuah ketulusan
seperti halnya aku menatap sosok tubuh
berdiri diantara garis-garis hujan yang merupa kabut
sedang di ujung jalan : Cahaya lampu temaram

lalu apa bedanya yang kutanyakan tadi
tentang ketulusan, khususnya dalam hal mencinta
dengan jalanan datar,turun, mendaki , lurus atau bahkan berkelok
bilabila mencari kebenaran jawab sahaja mataku berdiri nanar-
diam: terpaku di teras rumah

o,melukis wajahmu
sama sulitnya aku bertanya pada seulas senyum
yang kau tempelkan di sudut bibirmu
dan bercerita kicau nuri
lalu sekonyong-konyong bercerita cemara tua

2/
adalah labirin, mural jantung,kau
kekasih
: cinta itu seperti mega, bergelayut
mendung lalu
rinai

o,tidaklah selamanya mega itu putih
adakalanya mega tersaput jelaga
namun, bila tak pejam mata hati
rasakan pula lembut suria
mengalungkan bianglala
membimbing burung terbang
kembali pulang
ke sarang

3/
jika engkau, kekasihku
pemantik cinta yang mengajak semilir bayu
menyisir bulubulu indah cend…

Sajak-Sajak Putri Sarinande

http://www.sastra-indonesia.com/
Kisah Si Pendoa

Tuhan, tolong kirimkan pesan ini padanya. Atau, jika Kau terlalu repot untuk membantuku, maafkan aku yang meminta tolong pada ciptaan Mu yang lain.

Pohon, izinkan pesanku meliuk-liuk melewatimu. Hutan, izinkan pesanku bertualang melacak jejaknya. Angin, izinkan pesanku terbang bersama hembusanmu. Sungai, izinkan pesanku mengalir hingga terdampar padanya. Lembah, izinkan pesanku menukik terjun menghampirinya dari ketinggian entah. Gunung, izinkan pesanku mendakimu menujunya. Hujan, izinkan pesanku turut menetes ke bumi membasahinya. Matahari, izinkan pesanku menguap oleh panasmu, hingga harumnya tercium olehnya. Bulan, izinkan pesanku terpantul bersama kilaumu, ke dalam pekatnya malam yang menyelimuti tidurnya.

Pohon. Hutan. Angin. Sungai. Lembah. Gunung. Hujan. Matahari. Bulan. Sudikah Kalian membantuku?

Aku yakin, ya. Sebab, Kalian lah yang selama ini menemaninya.

Tuhan, kuharap Kau tak keberatan. Karena aku telah meminta bantuan pada : Poho…

Sajak-Sajak W Haryanto

http://www2.kompas.com/
Lukisan Pengantin
-buat Linang Dian

Sebuah lukisan tentang masa lalu adalah angin yang
Menggeraikan rambutmu. Tapi makna kesangsianku tak terpahat
Dan aku bermimpi dalam kabut; cahaya memercik dari senyummu
Menjadi kelepak kelelawar. Masih aku bermimpi tentangmu
Pada segala yang hendak kuartikan dari mawar hitam
Ketika dunia kini hanya bersisa abu.

Pada sepenggal musik sengau, pikiranku memudar
Menjelma kepulan asap. Dan matahari terbunuh di sudut
Matamu yang menyala-malam tak terkisahkan, di mana tawa hantu
Hanyalah auman di balik lukisan. Kupikirkan duniamu
Tanpa isyarat. Tatapanku lepas menjadi petikan puisi
Merubah auman hujan menjadi musik yang tak bertepi
Melebihi prahara di puncak malam.

Pucuk-pucuk hening saling bertemu. Tapi isyarat ini
Tak tersampaikan: menjadi masa lalu dalam masa lalu
Isakku terkubur di balik dinding, kesangsianku mengakhiri
Kepergianku dalam waktu. Tak ada yang mesti bersisa
Selain abu dalam lukisan-bisikmu memanggil angin
Agar pikiranku terdampar di s…

Sajak-Sajak Muhammad Aris

http://www.lampungpost.com/
Tertimbun Seribu Lumpur

“bila hati hilang api
pikiranpun tak penting lagi!”
ketika hujan tinggal gemuruh
seperti derap bayang-bayang
dari semak-semak yang jauh
mungkin ruang yang berdenting
dengan warna kecapi
melarung masa lalu, barisan waktu
tanggal di antara debu dan tanah-tanah ungu
retak dengan jejak
tak lagi nampak
aku kupas pikiranku lewat sayap serangga
di hening angin
saat malam mencambuk kelamin
di kertas-kertas buram; puisi mabuk!
lihatlah, O! aku gerakkan jari-jari hingga gelombang
tenang. menjahit daun-daun kering yang terbang
di bau-bau bangkai, mayat tanpa tubuh juga nama
tertimbun seribu lumpur dan terlempar
jadi puing-puing. asing.
O! dalam mata terkapar aku lontarkan mimpi
sejarah hitam seperti tetes embun
memecah jalan-jalan elan. dan aku
bekukan darahku melukis asap-angin
hingga aku tahu
seribu malaikat pelan mendekat
dan mati

Lamongan, 2005



Musik Dendam Musik Kambang

sebab gelengan kepalaku adalah musik yang membakar
dendam ruh-ruh purba hadir dan berteriak
melaknat pa…

Sajak-Sajak Idrus F Shihab

http://cetak.kompas.com/
Sampan

Seperti sampan hancur di dalam dada
buih-buih ombak
uban-uban di kepala
di bawah sikuku,
kursi goyang buaian masa silam
Nina bobok, nina bobok…
sepasang kaki, sepuluh jemari
harpa dan tarian kematian
Nina bobok, nina bobok…
sampan karam perlahan
Ke dasar lahatku



Perjalanan

Dua mata,
basah di dasar kolam
Dari rindu,
Lilin tua menetes ke dalam hati
hangat sampai ke sumsum
Sampai di mana kita berjalan?



Rindu

Kudengar rebanamu di detak jantung
angin-angin berekor kuda panjang
datang dari pulau-pulau perantau di selatan
Sepuluh jariku bernyanyi
satu lagu seriuh pasar malam
dengan judul namamu
Aku rindu


Idrus F Shihab tinggal di Jakarta. Ia bekerja sebagai jurnalis.

Sajak-Sajak Putu Fajar Arcana

http://cetak.kompas.com/
Uma

Pohon yang kau pahat di dinding luluh dalam kabut.
Seorang jejaka atau gembala tua
yang menahanmu di tepi hutan cemara.
Angin tak jua berkabar tentang risau langit senja. Dan para dewa
mengintipmu dari celah dedaunan. Mungkin mereka sangsi
tentang petaka
tentang kutuk yang kau derita.
Kau tahu air susu lembu itu, hanya tipu
gerutu pilu seorang pangeran kahyangan.
Tapi cemar telah ditebar. Pantang menjilat sabda
yang bagai kilat menyambar, menghanguskan pucuk daun.
Jadi pergi, pergilah sejauh hutan.
Seorang malaikat muda menunggumu
di balik rimbun cahaya. Dan jika mukaku terbakar
karena api dalam darahmu, sebaiknya tak usah kembali.
Sebab surga tak seperti diceritakan dalam kitab.
Penuh kutuk dan sabda keji para pangeran tua.
Uma, pohon yang kau pahat di dinding leleh dalam terik.
Seorang dewa atau gembala tua yang mengutukmu.
Pasrahkan pada angin agar senja memerah
dan mengantar mataharimu ke balik malam.

2008



Malaikat Bersayap

Di retak lenganmu burung-burung meruntuhkan bulunya.
D…

Sajak-Sajak Heri Latief

http://sastrapembebasan.wordpress.com/
Bisu

apa lagi yang mesti ditulis?
jika korupsi dianggap biasa
pemimpin cuma bisa nyanyi
di panggung tak ada suaranya
kerna bukan dia yang berkuasa

Amsterdam, 19/06/2010



Budak

uang panas membakar napsu
manusia jadi budaknya napsu

Amsterdam, 20/06/2010



Pengembara

setiap mengulang tahun
aku selalu ingat pesan ibu
bukalah mata hati jika pergi
jangan pulang kerna merindu
dunia pengembara siapa berani?

Amsterdam, 19 Juni 2010



Teks itu Bicara

jika keramaian kumpulan suara
tulislah sajak sebelum sarapan
refleksi diri bukan sekedar berpuisi
siraman rohani dari sebaris puisi?
silakan percaya pada layar kaca

Amsterdam, 19/06/2010



Jaraknya Mimpi

teknologi tinggi bikin hati kita makin dekat
jarak yang beribu kaki itu tinggal kenangan
waktu yang memberi tahu tentang rindu
duka dan bahagia selalu jalan bersama
pelabuhan mimpimu ada di dunia maya

Amsterdam, 18 Juni 2010

Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
SESAJI AYAM HITAM

inilah perjalanan ke barat
bersijingkat sampai tepian sawah
memandang keemasan purnama
pada langit yang bersih

kalimat tertulis terbaca dengan jelas
kicau burung menyambut kedatangan
engkaukah itu dengan kepak sayap
sebagai isyarat keberadaan

di bawah rimbun pohon bambu
begitulah engkau berabad lalu
mencairkan garam lalu menyiramkannya
pada tanah pada ladang pada kehidupan

dan inilah ayam hitam
yang tak lagi kepengin terbang
mengorekngorek tanah pada jejakmu
yang luas dan lapang

28.06.2010



APA YANG KAU TINGGALKAN

apa yang ikut serta sayang
tiap kali pagipagi pergi meninggalkan rumah

ciuman di punggung tangan
yang membuat gagal mencuri matahari

pastel warnawarni pada dinding ruang tamu
gambar meja kursi dan belasan balon
yang menggoda mata berkalikali melirik kaca spion

ataukah

sebagian diri yang telah mendapat kepercayaan
dari seluruh penghuni

barangkali memang nyaris semua ikut terbawa
lalu secara bergilir kau tukar dengan gelapnya siang
meski tak sepadan tapi sela…

Sastra-Indonesia.com