Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
SESAJI AYAM HITAM

inilah perjalanan ke barat
bersijingkat sampai tepian sawah
memandang keemasan purnama
pada langit yang bersih

kalimat tertulis terbaca dengan jelas
kicau burung menyambut kedatangan
engkaukah itu dengan kepak sayap
sebagai isyarat keberadaan

di bawah rimbun pohon bambu
begitulah engkau berabad lalu
mencairkan garam lalu menyiramkannya
pada tanah pada ladang pada kehidupan

dan inilah ayam hitam
yang tak lagi kepengin terbang
mengorekngorek tanah pada jejakmu
yang luas dan lapang

28.06.2010



APA YANG KAU TINGGALKAN

apa yang ikut serta sayang
tiap kali pagipagi pergi meninggalkan rumah

ciuman di punggung tangan
yang membuat gagal mencuri matahari

pastel warnawarni pada dinding ruang tamu
gambar meja kursi dan belasan balon
yang menggoda mata berkalikali melirik kaca spion

ataukah

sebagian diri yang telah mendapat kepercayaan
dari seluruh penghuni

barangkali memang nyaris semua ikut terbawa
lalu secara bergilir kau tukar dengan gelapnya siang
meski tak sepadan tapi selalu kau bawa pulang

rumah siapa ini

pertanyaanmu terucap pelan ketika kau telah kembali
menyaksikan mereka tak pernah henti menatap televisi

beberapa pasang mata yang telah lama

meninggalkanmu

24.06.2010



ENGKAUKAH DI LUAR SANA

sepertinya memang huruf angka terselip di mata
atau paling tidak sedikitnya ada empat huruf langka
menjadi seolah lensa saat mengeja nama benda
saat memandang apa saja yang memantulkan cahaya

lalu bagian mana yang membuat heran dan terdiam
ketika melihat diri sendiri menyapu halaman depan
mengumpulkan daun kering membakarnya dengan api
yang menyala putih kemerahan

sesaat itu rasanya kepengin juga ikut menjadi abu
menjadi ringan menjadi debu menjadi tanpa beban

hingga keberadaan tak perlu lagi dicemaskan

21.06.2010



SIAPA YANG SAKIT

buat apa gunting
jika kain telah terpotong
menjadi warnawarni perca
merapatkan diri
khawatir jika tak ikut
terbuang ke tempat sampah

kau tak sedang
berniat bunuh diri bukan

ceritamu tentang buah hati
yang asinnya begitu getir
bikin lidah menggigil
nyaris membuat perempuanmu
menangisi yang selama ini
disangkanya sebuah kesedihan

sebelum akhirnya tertawa
saat kau tawarkan
bangkai anakmu untuk
santap malam penghabisan

rasa yang singgah
tak lebih dari semenit itu
aromanya masih saja tercium
hingga anakcucumu
terdiam dalam demam

20.06.2010



PEMBERANGKATAN KE SEKIAN

saatnya orangorang pulang
dari kerja dari belanja dari membunuh
dari merampok dari apa saja yang menghela kita ke lupa

dengan ribuan kendaraan meninggalkan siang
derunya seperti bising pesawat terbang
ditingkah gesekan logam dari bengkel sebelah
bunga api yang cerlang yang pijarnya lenyap dalam sekejap

tibatiba malam lebaran tigapuluh tahun lalu
kembali hadir dalam riuh urban yang paling sunyi
menarinarik lengan baju meludahi mukaku
lalu menunjuk ke arah kereta yang telah lama menunggu

rupanya akan ada pemberangkatan yang entah ke mana
selepas tengah malam atau mungkin dini hari nanti

di sini sudah tak ada siapasiapa lagi
bahkan dirikupun mendadak ikut tiada

tapi aku masih saja berlamalama di depan cermin
bersitahan dengan musim dengan cuaca
dengan serpihan kayu yang hampir seminggu menembus kulit
meninggalkan noktah hitam dan barangkali sedikit rasa sakit

iya sayang sebentar aku sedang memakai sepatu

10.06.2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com