Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Sajak-Sajak Alex R. Nainggolan

http://www.lampungpost.com/
Menghapal Jejak

engkaupun menghapal jejak masalalu
menemui bait kidung murung yang menggantung
dan kautemui jalan-jalan tanpa tanda
mendadak ahasveros hadir di depan
menggapai dalam hujan
melambai tangan
semestinya engkau membawakan payung
tetapi yang kauhadapi cuma cuaca murung
di gigir kota
selalu saja jejak itu
terhapus menjelma humus
setelah hujan berlalu
hanya genangan air, lembab tanah
membawamu pada suatu tempat
yang tak pernah kaubayangkan sebelumnya
segalanya terasa sia
tertinggal dan musnah
meski melulu kaugenggam
bermacam peta atau semacam pernik plesir
tak ada yang kauhapal
selain sunyi berkali kaujumpai
larut di tengah genggam anganmu
sepanjang langkahmu

2009



Bait Pesakitan

i.
acap kausihir aku dengan percakapan
tetapi selepas hujan
engkau menghilang
padahal aku melulu terkesima
bekas kuteksmu
dadu warna merekah di setiap jarimu
sepanjang perjalanan;
ponselmu hilang sinyal
hanya suara merdu
perekam pesan
tanpa desah
tanpa cakap renyah

ii.
ujung-ujungnya,
kita memang tak pernah jumpa la…

Sajak-Sajak Denny Mizhar

http://www.sastra-indonesia.com/
Merasakan Zaman

1
Ditimbun kebencian yang merambah masuk sejarah atas nama Tuhan. Terbaca kutukan. Saling mengutuk dengan pedang yang dipinjam dari Umar. Sebab tak ada jalan pulang selain satu kebenaran yang dikultuskan. Ketaksanggupan membaca nalar Tuhan.

2
Dibius kesenangan mengerogoti sel-sel saraf kesadaran menjadi laku penumpukan kemalasan?termanjakan. Pada aksesoris yang terbeli tawaran iklan televisi. Segalanya terkeruk di kala eforia zaman kebebasan yang kebablasan. Tuhan di dalam nikmatnya makan iklan.

3
Aku yang menggali khazana zaman terhimpit dalam kebencian dan kebebasan. Mempertanyakan “dimanakah Tuhan?” Di ujung pedang kebencian atau dinikmatnya selera makan iklan. Hanya getir aku rasakan.



Kenangan Sang Demonstran

Jalan di gedung dewan kini sepi. Kemana mereka pergi?Kemarin sehabis aku melewatinya masih ada sisa kenangan di sana. Dulu ketika kita masih mahasiswa. Teriakan-terikan lantang dengan pengeras suara menakuti muka para pengembala negara …

Sajak-Sajak Mahmud Jauhari Ali

http://www.sastra-indonesia.com/
Bunga-Bunga Di Musim Penghujan

kutangkap dua kelopak bunga
menebar aroma sakti
kala awan hitam runtuh dengan buasnya
dan tak reda-reda pula
menghayutkan hara-hara mahal
yang semula melingkupi sulur-sulur pohonnya

oh … aromanya menyengat-nyengat
saling beradu
serupa kucing-kucing jantan bersua
sepanjang lidah mereka menari-nari
di serambi rumah berlantai keramik hitam

sementara bunga-bunga lainnya tetap bergayut kukuh
pada ranting yang rapuh
di hari-hari temaram
tanpa lampu sorot terang
dari bunga yang bertahta di pucuk tertinggi sana

dan, masih saja kutangkap
semburan aroma sakti bernada tinggi
ke bunga lainnya
hingga mendegubkan sulur-sulur
yang sedang meronta
diinjak-injak ketertupan
selama tahun-tahun bergaram
di dinasti ini

hari ini, semoga mereka beraroma wangi

Kalimantan Selatan, 15 Januari 2010



Seputar Matamu

alis matamu yang tebal
meluruhkan air mataku
menjelma genangan keruh
pada ruas-ruas jari
kala bulanmu termenung
di bawah meja
berbahan cendana
beralas naskah juang masa dulu

s…

Sajak-Sajak Fajar Alayubi

http://www.sastra-indonesia.com/
Langit tak dijunjung

Setinggi-tinggi bangau terbang sampainya ke kubangan juga.
Pastilah sebuah ucapan melahirkan tulisan. Pastilah unggas akan mengerami telurnya.

Belajarlah untuk terbang karna tak bisa terbang
Tidakkah rambatan pucuk pepohon semakin lebat dan jauh jangkauannya tanpa pemeliharaan?
Ataukah bunga-bunga adalah tanda kesuburan?

Lupakan pucuk dan bunga. Kepaklah sayap lalu sisirlah angin. Betapa tujuan perlu tahapan, dan pencapaian yang dimulai dari awal.

Tidaklah hayalan berputar-putar diatas sarang sampai pikiran jatuh ke “bodoh”an.

Mungkinlah angin timur membawa keharuman. Tapi bukankah padang di barat adalah tempat asal bunga-bunga tumbuh dan menarik perhatian?



Kau Berbisik; Kau Berisik

kau telah membuat otakku sekarat!!
ia kini tertegun disana
susah mengingat

apa yang telah kau perbuat!
temali yang kurajut telah kau buat kusut!!

Tidakkah arakmu cukup untukmu?
sampai akalmu bersulang
membujuk dan merayu

kini aku mabuk
mabuk bersama para pengikutmu

kini kau…

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua*

http://cetak.kompas.com/
Quan Am Tu

Di pintu Quan Am Tu Pulau Galang
Tua dan sepi tidak menenggang
Serombongan peziarah bersideku.
Seorang tua gemetar
dan berkisah kepadaku.
Berhari-hari lalu
Kusalin ia kembali
jadi lilin jadi api jadi lapar
yang terus kunyalakan
untuk sampai pada sebagian kecil
inti perih puisi ini—lilin kecil
kesaksian
di bumi:

Di pintu Quan Am Tu, seperti Tuan lihat, selalu

gemetar tubuhku. Terbayang semenanjung jauh
kilatan-kilatan pedang dan bunga api malam-malam
Terkenang bintang-bintang merah nyala
—bukan, merah dadu, mempertaruhkan kelam
untung-malang manusiaku
Terbayang, kapal-kapal ikan, kapal-kapal kayu tua
oleng di mata pusaran: arus topan, badai yang kejam
dan goncang nafas tuhan

Ke mana kami hendak menuju? Lautan luas
tak bertara. Daratan tak dikenal
bagai bintik hitam di luka telapak tangan
mengelupas dan hilang,
seperih harapan yang direnggutkan
seperti garam dibasuh air garam

Di manakah pintu harapan sebuah pulau? Dermaga,
pantai yang landai, atau pengap-hampa
ruang periksa? Kami in…

Sajak-Sajak Yopi Setia Umbara

http://www.lampungpost.com/
Di Perempatan Dago-Sulanjana

di perempatan jalan. wajahmu merah tahan tangis darah
kota adalah basah. pada aspal pada lampu-lampu iklan
mungkin kau sangsi. kenapa aku kau tunggu lebih lama
padahal waktu tak pernah mau menunggu. tak mau diam
seperti tak sabar. ingin terus bergerak dari satu tempat
aku belum juga datang. dan kau lebih resah dari jalanan
makin kuyup lebih beku. tak ada yang bisa diajak bicara
selain memendam tujuan sendiri dan terus diguyur hujan

2009



Selamat Pagi

dari jendela kamar yang kubuka lebar. selalu kuucap
selamat pagi dunia. walau suara hanya sampai halaman
sebelum kubasuh wajah. dan kujinakan segala kenangan
sebelum pulih kesadaran. dengan secangkir kopi panas
sebelum berbagai kabar. memburu mata juga telinga
sebelum matahari pusat. jatuhkan tiap tetes keringat
tubuh adalah teman bercerita paling peka juga rentan

2009



Tanpa Cahaya Listrik

suatu malam. listrik negara padam tiba-tiba
hampir saja aku panik. tak dapat menulis sajak
tapi aku ingat Neruda. dan …

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.lampungpost.com/
Suatu Sore dengan Perempuan Bernama Istri

Kalender berguguran dan kepastian bahwa cinta
dan air mata adalah kisah: yang senantiasa
tercatat dalam kenangan.
maka selalu kuingat, hujan sore hari
engkau dan aku berangkulan di beranda sore
kita bersemayam di kalautan kabut dan basah.
Hari ini, engkaulah perempuanku
hingga hujan reda dan malam di rajam kesunyian
gulita tanpa bintang di langit.
Kekal. kekallah impian kita
walau takdir seperti wabah
mengoyak-ngoyak tembok peradaban cinta.
Hari ini, meski sunyi mengabar duka
engkau tetap perempuanku

Taman Gunter, 3 Januari 2010



Perempuan yang Membuat Kangen

Tiba-tiba langit yang mendung bocor!
kangen ini, menjelma hujan yang meletup-letup
di atap rumah. aku serupa air selokan di pekarangan rumah.
mampet. pada siapa kederasan ini kualirkan
sebab kangen yang memerah ini, semakin tajam
semakin runcing melukai kemanusianku
serupa ujung belati menorehkan
rasa pisau di tulang-belulangku.
barangkali cinta hari ini
deras tenggelam dalam hujan, adik.