Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Denny Mizhar

http://www.sastra-indonesia.com/
Merasakan Zaman

1
Ditimbun kebencian yang merambah masuk sejarah atas nama Tuhan. Terbaca kutukan. Saling mengutuk dengan pedang yang dipinjam dari Umar. Sebab tak ada jalan pulang selain satu kebenaran yang dikultuskan. Ketaksanggupan membaca nalar Tuhan.

2
Dibius kesenangan mengerogoti sel-sel saraf kesadaran menjadi laku penumpukan kemalasan?termanjakan. Pada aksesoris yang terbeli tawaran iklan televisi. Segalanya terkeruk di kala eforia zaman kebebasan yang kebablasan. Tuhan di dalam nikmatnya makan iklan.

3
Aku yang menggali khazana zaman terhimpit dalam kebencian dan kebebasan. Mempertanyakan “dimanakah Tuhan?” Di ujung pedang kebencian atau dinikmatnya selera makan iklan. Hanya getir aku rasakan.



Kenangan Sang Demonstran

Jalan di gedung dewan kini sepi. Kemana mereka pergi?Kemarin sehabis aku melewatinya masih ada sisa kenangan di sana. Dulu ketika kita masih mahasiswa. Teriakan-terikan lantang dengan pengeras suara menakuti muka para pengembala negara yang bermasalah.

Ketika barisan pengamanan menghadang kita, tak ada rasa takut menyapa. Tetapi semangat yang semakin mengila. Masihkah kau mengingatnya? Sedang kau kini masuk juga dalam gedung dewan yang pernah kau bilang sarang serigala pemangsa.

Bau harum darah salah satu kawan kita yang kepalanya bocor dipukul anjing penjaga masih tersisa. Menempel kering di pagar gedung yang kau puja kini. Pernahkah kau membuat upacara buatnya? Atau kau sudah lupa karena kesibukanmu mengelapkan masalah yang tak kunjung terbaca.

Baiklah, semua itu adalah kenangan. Kau bilang tak patut dikenang. Tapi bagiku adalah mata ingatan yang terus menyuburkan rasa gerahku padamu kini.

Bila nanti kita bertemu lagi. Aku tetap didepan pintu pagar tempat singgahmu, temuilah aku. Mari bersama kita angkat tangan kita. Bila kau tak ada malahan pergi dari pintu belakang. Jangan kau sapa aku lagi, sebab jalan kita berbeda.

Biarlah dulu hanya menjadi kenangan bagimu. Dan aku menjadikan pemantik semangat untuk terus berdiri di jalan depan pagar-pagar pengembala negara yang mati hatinya.

Malang, 2010



Jemari yang Menunjuk

Jemari ku terpasung pintu rindu
memanggil namamu

Getir merasakan langkah tentangku:
mata yang dulu buta kini dapat membaca
mulut yang dulu bisu kini dapat berkata
fikir yang dulu tumpul kini tajam terasah
hati yang dulu mati kini hidup kembali

Segalanya dibawah kepak kesadaran
pada pintu masa
hendak memenggal urat nadi
hingga hilang nyawa

Lihat,
jemari beku runtuh pada telunjuk menusuk
tergantung di batang pohon kelapa masih muda
ketika musim selalu berubah.

Melati Yang Tangkainya Patah Dan Aku Menjadi Serpihan Pasir

pada lara yang bernyanyi ia berlari ke ruang sepi
menyembunyikan segala dendam dalam sadarnya
diselimuti senja jingga

kekupu membawa tubuhku yang berubah menjadi pasir
berterbangan sehabis bermetamoforsis

ia melati tangkainya patah
diinjak garis nasib purba.

belahan pepasir tubuhku
singgah di bunga tak lagi beraroma.

ia menjumpai ku di lintasan waktu
sambil memandang jauh harap yang biru.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com