Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Alex R. Nainggolan

http://www.lampungpost.com/
Menghapal Jejak

engkaupun menghapal jejak masalalu
menemui bait kidung murung yang menggantung
dan kautemui jalan-jalan tanpa tanda
mendadak ahasveros hadir di depan
menggapai dalam hujan
melambai tangan
semestinya engkau membawakan payung
tetapi yang kauhadapi cuma cuaca murung
di gigir kota
selalu saja jejak itu
terhapus menjelma humus
setelah hujan berlalu
hanya genangan air, lembab tanah
membawamu pada suatu tempat
yang tak pernah kaubayangkan sebelumnya
segalanya terasa sia
tertinggal dan musnah
meski melulu kaugenggam
bermacam peta atau semacam pernik plesir
tak ada yang kauhapal
selain sunyi berkali kaujumpai
larut di tengah genggam anganmu
sepanjang langkahmu

2009



Bait Pesakitan

i.
acap kausihir aku dengan percakapan
tetapi selepas hujan
engkau menghilang
padahal aku melulu terkesima
bekas kuteksmu
dadu warna merekah di setiap jarimu
sepanjang perjalanan;
ponselmu hilang sinyal
hanya suara merdu
perekam pesan
tanpa desah
tanpa cakap renyah

ii.
ujung-ujungnya,
kita memang tak pernah jumpa lagi
meski lengkap namamu terpatri
tapi seperti nomor teleponmu
angin telah menghapus segala
walaupun aku kepingin
mengabarkan tentang sendu senja
di sepanjang jalan kota

iii.
di kamar sempit ini
aku menangis
ditemani cahaya televisi
dengan malam yang merangkak
naik ke sisi ranjang
semestinya aku menyalakan komputer
dan menulis sajak tentangmu
tetapi muasalmu telah melumat
semua kebahagiaan
cuma airmata yang hadir
berbekas pada sejumlah kenangan
yang tak pernah selesai
kurawat jadi rerimbun pepohonan

iv
pernah aku berjanji
padamu untuk bertemu
di sebuah perpustakaan kota ini
bersama para kutu buku
ah, elegi yang menari
dan engkau tak datang lagi
sesekali pagi
memberi arti
dengan bias matahari
aku berharap
ada telepon berdering darimu
menembus tubuhku yang makin kering

2009



Daun-daun Malam

daun-daun malam terlempar
di depan pintu seseorang mengetuk
ditempuhnya sepi sendirian
membawa angin juga peristiwa yang bising
kudengar tetangga mengumpat
juga anak kecil yang tersedu
menutup awan tanpa bintang
juga kelelawar
daun-daun malam terserak
di luar pagar, puluhan kisah
seperti berbenah
mengunci birahi
dan engkau terlelap
tapi tidak di sampingku

2009



Semalam di Tanjungkarang

semalam terdampar
pada sebuah kota yang lama berakar
getah cahayanya terasa juga
linu di mata
tapi ada yang tak sepenuhnya tak terbaca
ketika kususuri lagi jalan-jalan lama
gagal merajut kenangan
terasa pincang
melayang pada setiap radang
dalam lintang pandang
masalalu yang berdebu
yang kujumpai cuma bayangan kota pucat
waktu yang terasa gegas dengan lambat
juga orang-orang dengan siluet penuh karat
di antara deru laju kendaraan yang merapat
tanjungkarang merambat
di badanku
ehm, semalam di tanjungkarang
masihkah kausisakan sedikit meriang buatku?

Tanjungkarang, 2009



Percakapan

mestinya suaramu yang menjamu
dengan merdu
tapi yang kudapati hanya maki dan umpat
bersandar di ujung handphone
lalu aku berpaling ke depan
sebuah taman
dengan rimbun pohon dan waktu
tunas daun
hijau muda
reranting warna salem
kulupakan kalimatmu
dan aku memetik bunga bougenville
melupakan kesedihanmu yang berpinak
mungkin masih ada aliran sungai
dalam dirimu
yang bisa kurenangi lagi
atau aku tenggelam di sana
hanya kenangan
yang mampir barang sebentar
melepasmu diam-diam
dan berdetak di jantungku

2009

*) Lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Unila. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku dimuat di berbagai media dan antologi bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…