Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Imamuddin SA

http://www.sastra-indonesia.com/
ELEGI SANG BURUNG MERAK
:WS. Rendra

duka telah mengeram
menjadi borok
menggumpal kepedihan

aku membuyarkan air mata
dari sumur hatiku
kala sayup kudengar tasbih sakaratmu

aku yang terhijab ruang waktu
tak sanggup berdiri di sisimu
hanya mendampingkan doa
di degup jantungmu yang kian terputus
-putus

ah, aku lebih terhentak
berteriak dalam gelombang tangisku
saat tubuhmu kau biarkan menguning
dan ruhmu kembali pada kesucian cahaya

sungguh, tiada lagi yang bercerita padaku
tentang balada-balada orang tercinta
tentang nyanyian sumbang penduduk kota

aku rindu suaramu
aku rindu,
pada siapa kan kusentuh
indah bulu emasmu

aku coba menggumpalkan luhku
mengubahnya jadi batu
mengukirkan kata
sekadar mengeringkan luka,
dan aku sempat berkata;
terbanglah
kabarkan senyummu di sana
padaku sang penabur bunga
walau hanya lewat sajak belaka

Kendalkemlagi, 2009



MATA AIR WAKTU

tumraping ilmu
dadi ugemane laku
nintingi ukoroe jagad
kang sinawang pucat;
gumantung ing rong mongso
rendeng lan ketigo
enom lan tuwo

rerintik hasrat sore tadi
telah membasah tanah puitika yang sekarat
tempo hari
menjelma roh dalam jiwa-jiwa lunglai
laksana jati di tengah kemarau terhujani

aku menyaksikan diriku
mengeja waktu
melukiskan jejak burung
di kepalaku

tiba-tiba saja aku meringsut
membiarkan hati keriput
setelah tak kutemukan setetes air pada gerimis
setelah tak kucium kering tanah pada panas cahaya

sementara, dari jauh
kupandangi daun-daun bibirmu yang semakin pucat
tak tersentuh bening sungai batin merambat; asat
dan perlahan aku mulai mengikat
benang merah yang nyaris tak terlihat
mata mataku
antara kau dan tanahmu;
adalah kau mata air waktu

Kendalkemlagi, 2009



SELAMAT DATANG RAMADHAN

ahlan wa sahlan ya ramadhan
sungguh mulia
kau telah membuka kembali gerbang gapura
untuk aku yang berselimut luka
bersimbah darah-darah dosa

selamat datang ya ramadhan
telaga maghfirah yang kau hamparkan
begitu mengusik batinku
untuk menyucikan najis hadatsku

lihatlah, aku yang terbius
kemilau bening airmu
menanggalkan gaun-gaun malamku
jubah-jubah kusut kemanusiaanku

lihatlah, perlahan aku
mengayun langkah, tenggelam di kedalamanmu
membasuh air mata tasbih
pada goresan-goresan lalai

semakin larut hening yang kurasa
semakin luntur kesombongan wajah
hingga butir-butir luhku
menjelma melati pada tanah ini
pada hati yang nyaris mati

ahlan wa sahlan ya ramadhan
aku bersalam untukmu;
ahlan wa sahlan ya imam
kau balas salamku dan seluruh

Kendalkemlagi, 2009



DALAM RASA TERPENDAM

ada tumbuhan paku
di setapak jalanmu
berlumur bisa
yang tak sanggup diterka

mengukir borok atau sebatas goresan
hanya engkau yang tahu kedalaman
merenungkan tusukan
dalam rasa terpendam

ada yang konyol padamu
berlari-lari menelanjangi kaki
menghujankan butir-butir darah
dari denyut nadi sendiri

sementara, aku di seberang
terlihat khusuk mengalaskan terompah
mimilih sela
nyaris melangkah!

Kendalkemlagi, Oktober 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…