Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Mahmud Jauhari Ali

http://www.sastra-indonesia.com/
Bunga-Bunga Di Musim Penghujan

kutangkap dua kelopak bunga
menebar aroma sakti
kala awan hitam runtuh dengan buasnya
dan tak reda-reda pula
menghayutkan hara-hara mahal
yang semula melingkupi sulur-sulur pohonnya

oh … aromanya menyengat-nyengat
saling beradu
serupa kucing-kucing jantan bersua
sepanjang lidah mereka menari-nari
di serambi rumah berlantai keramik hitam

sementara bunga-bunga lainnya tetap bergayut kukuh
pada ranting yang rapuh
di hari-hari temaram
tanpa lampu sorot terang
dari bunga yang bertahta di pucuk tertinggi sana

dan, masih saja kutangkap
semburan aroma sakti bernada tinggi
ke bunga lainnya
hingga mendegubkan sulur-sulur
yang sedang meronta
diinjak-injak ketertupan
selama tahun-tahun bergaram
di dinasti ini

hari ini, semoga mereka beraroma wangi

Kalimantan Selatan, 15 Januari 2010



Seputar Matamu

alis matamu yang tebal
meluruhkan air mataku
menjelma genangan keruh
pada ruas-ruas jari
kala bulanmu termenung
di bawah meja
berbahan cendana
beralas naskah juang masa dulu

sementara helai-helai rambut matamu
kutemukan membela-bela dirimu
di atas panggung kaca
bersama gemuruh gelombang pasang
walau napasmu itu
tak seharum melati berembun
yang kuhirup ribuan waktu lalu

duhai kau yang bermata sangar
berlidah kelu
di ujung ranting biru, kutangkap
tatapanmu
serupa intaian elang
pada mangsa mungil
di tanah gersang bersama surya perkasa

oh, sungguh ada tanya yang menderu
seputar matamu itu dalam batinku
ditemani desahku yang panjang

dan, kuharap kau pun bertanya!

Kalimantan Selatan, 13 Januari 2010



Tubuhmu yang Hampir Pulih

dua tahun silam
tulang-tulang tanganmu remuk
pipimu basah oleh darah
urat kakimu pecah
dan matamu nanar
melihat ususmu yang terburai-burai
terkapar begitu saja

kau tetap saja terbaring
dengan luka di sekujur tubuhmu
tanpa rawat, apalagi obat

dokter-dokter
alat-alat
obat-obatan
terlalu mahal buatmu
yang fakir

sementara ia tetap beku
dan kadang melaju di atas tubuhmu
dengan suara paraunya

berbulan-bulan kau masih terbaring
dan tiba-tiba
ada dentuman hebat
meruntuhkan pintu berangkas istana
hingga uang berhamburan
menjelma dokter-dokter
alat-alat
dan juga obat-obatan buatmu

aku terperangah
terkejut-kejut
dan tak pernah kubayangkan
ia mau merawatmu
memberimu obat
walau aku tahu
ada maksud di balik itu

dan kini, kulihat tubuhmu
hampir menyandang gelar masa lalumu
–masa gemilang awal kau ada–
di tanah ini

Kalimantan Selatan, 11 Januari 2010

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com