Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Mutia Sukma

http://www.pikiran-rakyat.com/
Lelaki Berambut Kusut
– daeng liwang

aku menemuimu lagi di sini
di antara lipatanlipatan hari
dan kalender yang tanggal

kita pernah saling tahu
rasanya sulit;

merapikan rambutmu
yang tak lebih terjangkau
dari peristiwa yang kusut

kau biarkan segala mengepung
kepala –terkadang aku purapura lugu
dan kau melihatnya serupa

serangga menggantung di pucuk
rambut yang takkan pernah bisa
mematahkan rencana–
salonsalon tak pernah teraba oleh kita
karena gunting di dalamnya
mampu memotong rencana yang
serupa kegaduhan

meski kusut,
mampu kubaca banyak peristiwa

yogya, 2007



Kepada Bayang

bila aku lebih cepat musnah
dari pada kau
kirimkan apa yang belum
sempat aku sampaikan pada semesta
bahwa rumah yang paling kekal
adalah kalian

dan bila aku mati kelak
akupun ingin dikubur di hati
kalian saja

bila kau lebih cepat musnah
dari pada aku
aku akan mengenangmu
sebagai kaca yang paling buram

untukku bercermin
saksi yang tak sempat disumpah
karena keburu terbunuh
oleh gelap persetubuhanku

bila aku dan kau samasama musnah
setidaknya, puisiku akan tetap abadi

yogya, 2007



Seorang Sakit

biar kubentang sapu tangan
yang kubayangkan serupa bendungan
di matamu. ada air mata yang menjelma mata air
hidup miris
sebab kelewat banyak menelan pil
yang pahit
“bagaimana rasanya manis?”
“bagaimana rasanya asin?”
Rintihmu dengan gigil
yang belum pernah kutemukan

terlihat olehmu
segerombolan bocah telanjang
berenangrenang di matamu, menggodamu
tapi kau tak pernah bisa menjaring apaapa
kecuali ceceran doa yang hampa
rumah baru yang ditawarkan
untukmu: kesunyian

yogya, 2007



Pesan Penujum

jangan percaya katakataku
sebab percakapan ini
igauan orang yang terus
ditidurkan anganangan sendiri
namun orang mempercayainya
sebagai nujuman
mereka memasang pengeras
di setiap mata angin
di setiap jalan yang penuh jebakan

mereka menuding-nudingku dengan murung
bila mulutku tak berceracau
dengan bahasa
yang tak sepenuhnya kusadari
dibiarkan sendiri nasib mereka
tersesat dalam suaraku

bagaimana kita dapat mendengar
nyanyian burung dan katak
sementara sepanjang waktu
tak hentinya mulut nakal kalian
berbisikbisik brisik?

2007



Duri Di Lidahmu

Ini sakit yang betah berlamalama
Masa lalu menjilat pada tubuhku
Tubuhmu tak mau bisu

O, padang pasir
Kubayangkan wajahmu yang tebal
Sepanas itu
Kaktus, igauan paling nyata
Untuk para kafilahkafilah

Kulemparkan padamu air pada tubuh kerasku
Tapi durinya
Mendarahkan lidahmu
Tak ada yang tahu
Tak ada yang mau tahu

/kbr 2007

*) Gadis berdarah Aceh, lahir di Yogyakarta, 12 Mei 1988. Belajar di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Mengasah kesusastraan di Sanggar Sastra Indonesia Yogyakarta (SSIY), Balai Bahasa Yogyakarta. Aktif di beberapa komunitas sastra di Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…