Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Firman Venayaksa

Republika, 27 Januari 2008
SAKRAMEN SUNYI (1)
: Pramita Gayatri

Dan kita pun bersua setelah masingmasing mengembara begitu lama, bermilyar jarak cahaya. Terlewati sudah 99 matahari yang berencana melepuhkan peta yang kita tulis dengan tinta air mata. Aku yang begitu masyuk dalam dzikirdzikir cinta, engkau yang zuhud dengan doadoa lara.

Kita kini berdua di kamar ini. Ada tubuh wanita mengerang seperti gemerisik daun di hutan tropis, ada tubuh lelaki menggeliat seperti debu di padang sahara. Jiwa kita melebur, mata kita saling cakar dan tetes peluh menjelma nyanyian hujan.

Lalu kita teringat tentang kisah Adam dan Hawa yang tak berbusana. Di surga.

Tanah Air, 2005



SAKRAMEN SUNYI (2)

Kita bersumpah di bibir lautan, terus mengabdi pada cinta dan kerinduan. Kemudian langit malam mendekap kita dengan selimut cahaya bintang. Mataku terus bersengketa dengan matamu, bibirku terus bersengketa dengan bibirmu. Engkau dan aku telah mengukir kesunyian pada pasir pantai takdir kita.

Upacara sederhana dari zaman purba telah dimulai. Nafas kita tertahan seketika.

Tanah Air, 2005



SAKRAMEN SUNYI (3)

Ingin kutebas leher waktu supaya engkau kian dekat
Sebab jasadku letih tertatih dalam rintih tersekat
Menuju rumah tak beralamat

Dari tungku takdir atas api rindu
Kiranya engkau menjelma arang menjadi abu
Hingga asap itu terus kusimpan di paruparu

Tanah Air, 2005



PUISI UNTUK ISTRIKU

Kita terlahir dari huruf yang dicipta sang Penyair
Digoreskan pena takdir dalam secarik kertas putih
Rumah kita adalah buku-buku yang dibaca dunia
Disimpan dengan rapih jauh dari kotoran debu

Kita berjumpa di antara himpitan sajak
Engkau menjadi kata aku menjadi kata
Dan bahasa cinta menjelma seketika

Kita berjumpa di antara himpitan sajak
Engkau menjadi bahasa aku menjadi bahasa
Kita terus dibaca dan dipelihara

Tanah Air, 2006



SAJAK SUNYI

Mungkin aku sejumput toksin nanar
Mengembara dalam jalan setapak trakea
singgah pada bronkus sunyi
lalu beristirah di relung parumu

Izinkan aku melukis sketsa
wajahmu dalam kanvas sajakku
Mengamati setiap lekuk pigmen melanin
rambut
kulit
iris
lapisan koroid matamu

Apalah arti pertemuan kau dan aku
jika selaksa hasrat telah mengadiliku
menjadi neurosis sejati.
Kau hanya petani huruf yang papa.
Menggarap sawah kata dari benih
gelisah yang teramat alpa.

Tanah Air, 2004

Firman Venayaksa lahir di Cianjur 2 September 1980. Dibesarkan di Rangkasbitung-Banten. Tulisannya tersebar di pelbagai media seperti Republika, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Annida, dan Sabili. Bukunya yang telah terbit, antara lain kumpulan cerpen Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia, 2005). Alumnus pascasarjana FIB UI juga aktif di Rumah Dunia, Banten.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…