Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Chavchay Syaifullah

Republika 17 Juni 2007
SAYAP ANGIN MUSIM SEMI

tuhan, sepagi inikah
kau terbangkan aku
sedang suara anakku
pun belum sempat kudengar

pagi yang mendidih
aku berjalan serupa elang
ngesot di bibir karang
awan melawan arah
ruang jadi bimbang dan terbang
cuaca perunggu yang gagu
merapat dalam sayap angin musim semi
dan matahari terkapar di pundak kiriku
membakar dua tengkorak penuh keringat

tuhan, sepagi inikah
kau terbangkan aku
sedang suara anakku
pun belum sempat kudengar
jantungku masih lebam jua
seperti beribu tahun lalu
ketika ratusan nabi
kau terbangkan kembali
ke alam azali

los angeles, 2007



NGUYEN, AMERIKAMU ITU

selamat malam, nguyen!
seperti amerika, wajahmu sambal tomat
di singapura dan di filipina tadi
aku dipaksa mencopot sepatu
kini di pintu negerimu
sepatu memaksa ginjalku
copot berantakan

di pelataran bandara los angeles
aku mendorong-dorong koperku
teks peringatan imigrasi kukantongi
aku menggigil
malam musim semi
merusak ikatan sepatuku
aku menggigil
ketakutan dan kecemasan
membalut ginjalku
aku menggigil

pada siapakah amerika
harus kita bicarakan, nguyen
sebab ketakutan dan kecemasan
adalah dua guru yang menggilas meski senyum
dan kecerdikan telah bersatu dalam terormu
mengguling dan mengguling di garis kuning

pagi di sebuah burger king
di muka hotel renaissance
dingin membelah daging
ada roti serupa oncom yang kutelan
seorang guru dari iran tiba-tiba berdiri
menangisi manusia-manusia gugur
dan perempuan rekan bisnisnya pergi
lalu ia gelar diskusi
tentang sepasang gedung yang gugur

petaka teror, nguyen
bukanlah warisan utama peradaban
rancangan kecemasan bukan juga jalan kewajaran
maka kubakar paksa seragammu di kepalaku
kemewahan yang meledak di seantero negerimu
biarlah jadi ondel-ondel dalam tustelku
sebab teror ambisi raja-rajamu bukanlah roti
yang dilumat orang-orang kecil
pada setiap pagi di segala musim

los angeles, 2007

Chavchay Syaifullah lahir di Jakarta, 1 Oktober 1977. Dikenal sebagai cerpenis, novelis dan penyair. Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain Multatuli Tak Pernah Mati (kumpulan puisi, 2000), Payudara (novel filsafat, 2004), Sendalu (novel pemerkosaan, 2006), Perlawanan Binatang Jalang (kajian sastra, 2006), Aotar (novel sejarah, 2006). Selain bekerja sebagai wartawan, ia juga aktif di Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Rangkasbitung, Banten, dan Indonesian Studies and Advocacy Center (ISAC), Jakarta.
Dijumput dari:  http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=BVcFW1cEU15T

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…