Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Usman Arrumy

http://sastra-indonesia.com/
GUA HIRA

demi rongga yang tercipta sebagai gua
yang hadir dari sejarah tua
mengisyaratkan ketakberhinggaan
dalam ruang riung yang tak raib oleh riap kekhusukan
juga waktu yang tak henti tersedu karena wahyu

gunung, yang kepadanya bersemayam kegundahan
menciptakan tempat senyap dalam berkholwat
menjadi dermaga saat mula wahyu diterima
menggigilkan jiwa suci saat malaikat mendekap
ia sendiri bersemedi seperti penghuninya

cahaya, yang darinya menyelimuti tubuh batunya
maka, laba-laba yang membentang dirahangnya
adalah pembohong yang menyelamatkan dua jiwa pilihan tuhan
seketika ia menjadi abdi yang berderma

lalu ketika kau menjadi pertapaan
betapa kau merasa
bahwa hanya dirimulah benda paling mulya
benda yang menjelma cahaya
meski kau mengada di antara bebukit paling maya

maka kau adalah onggokan batu yang diburu
bagi mereka yang ingin meluapkan rindu
dan kepadamu, kau menjadi sejarah tempat para peziarah
hanya dijazirah itu kau mengada

21-09-2011, Demak.



SANG FAQIR

fajar membelai dalam keremangan yang redup
menggenang riang dalam mihrab sujud
tibatiba saja nyala rindu di bakar sunyi
sedangkan bibir ini tak bisa lagi menyanyi

O…bibir ini bergeletar
bibir ini terkapar
bibir ini tersambar
di serambi langit

dzikir muntah dalam sulaman madah
dzikir bergelimang di semenanjung remang
dzikir lenyap dalam jiwa yang senyap
seperti sang sufi…
kedamaian dan ketentraman
dalam kefanaan wusulnya

tuhan hadir dalam dzikir
pada jiwajiwa yang faqir
aku mengalir
bagai musafir

ohoy…kecipak air
bebutir embun
malaikat turun
dipelataran fajar bumi membasah
sembari menggenggam rinduku
dalam dzikir khoufiku
sayupsayup terdengar gemerisik angin
menghembus menyentuh lembut wajahku
akupun terapungapung…
lalu luruh dalam gemuruh tadabbur

duh…
indah nan cantiknya dunia menghijau
menggoda hati merayu nurani
mengoceh kesana kemari
sambil menawarkan sebara api
kurasakan…
pahit bercampur manis
sampai mata mengatup
mengguratkan penyesalan panjang…

dzikir fajar sepertii lahar
tadabbur fajar serasa lebur
nafas yang tersisa masih memburu pahala
tanpa pernah meninggalkan secarik dosa
menggelar perjamuan…
tembang neraka melagu merdu

oh…alangkah malangnya dirundung nestapa
mencintai tuhan sekaligus menghianati
merindu tuhan sekaligus memadu..

selamat pagi tuhan…

2010



IBU

ibu
sekian lama
aku bersemedi direlung gua teduhmu
sembari bertapa
kau suapi aku dengan cinta
dari telagamu
aku meluncur bagai kesiur…

ibu
kaulah danau
tempat aku meredam racau
tak pelak
dari kawahmu aku bermula

ibu
kaulah langit
tempat aku mengemis harap
yang sekali ketika
kau rinaikan hujan kasihmu

ibu
kaulah bumi
tempatku terlentang dan berbaring
bermain dan istirah

ibu
kaulah tanah
tempatku mukim diceruk rahim
seketika kau sawah
tempatku memanen bebutir padi

ibu
kaulah awan
tempatku bernaung dari terik yang pengap

ibu
kaulah laut
tempatku berenang di ombak kasihmu

ibu
kaulah gunung
tempatku memijak dan berdiri regak
dari lerengmu aku mendaki kasihmu

ibu
kaulah samudra
tempatku menampung paru dan jantung

ibu
kaulah dermaga
tempatku melabuhkan perahu jiwa

ibu
kaulah cahaya yang lenyapkan gelapku
kaulah api yang hangatkan dinginku
kaulah air yang sejukkan panasku
kaulah mentari yang terangkan petangku
kaulah rembulan yang menjadi pahlawan malamku

ibu
kasihmu tulus tak perlu di tebus
cintamu teduh tak butuh di sepuh
doamu sejuta lebih mustajab
tinimbang doa seribu kekasih

ibu
sambil mengembara
aku menjadi musafir
yang mencari surga di telapak kakimu

17082011, Demak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…