Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Hasnan Bachtiar

http://sastra-indonesia.com/
Daun Saka dari Surga

Daun saka, tlah jatuh dari surga

ada saka di balik pintu,
jelma hening dari rapuh

ada saka di balik jeruji erat,
rupa beban berlabuh berat

ada saka di ujung kebrutalan harimau,
singkap hikmah dari petaka

ada saka di hadapan cinta,
wujud kekosongan sebagai makna

saka yang penuh
gelasku terisi jernih
tiada keruh

saka yang utuh
abadi

16/9/2011



Pelukan Ibu

Saat kau balutkan kafan
untuk jasadku
wahai ibu
tangismu menerangi sukmaku

aku lahir dengan pelukmu
hingga waktu tibaku
dengan pelukmu jua

ibu, kuatkan aku
dengan doamu
ceritakan kisahku
untuk cucu-cucumu yang lucu

relakan aku
merelakanmu
ibuku,
surgaku

Rogojampi (Banyuwangi)



Salam untuk Kekasihku *

Kalau memang itulah yang kau inginkan wahai kekasihku, tak lagi mau menyerahkan nasibmu pada Tuhan, marilah hidup tanpa Tuhan, dan menghadapi kenyataan itu dengan lapang dada

Dengan tak bertuhan kau lebih religius, dengan tak bertuhan kau lebih muslimah, tidakkah muak setiap manusia dengan kebaikan-kebaikan dan kehati-hatian palsu bertopeng agama?

Oh… wahai engkau kekasihku serupa engkau sebagai engkau yang tlah menjadi engkau, biarkanlah engkau berlaku semau engkau

Wahai kekasihku, dengarlah, diri adalah keberanian yang tak terperi, justru yang kita hadapi kenyataan yang menyakitkan, tapi siapa tahu pertaruhan hidup hari depan? Karena penderitaan itulah kau akan hidup dengan berlari

Kekasihku…, beragamamu shalehah, tak ubahnya selera makan saja

Salamku untukmu, kekasihku Vira

Salam
Hasnan

Malang, 4 Juni 2010
*) ditulis di halaman A.R. Fakhruddin seusai membaca Khutbah di atas Bukit, Kuntowijoyo.



Tatkala *

Tatkala merasa kehilangan ide
terdiam, lalu beranjak menghadap ilahi

Tatkala dalam kekosongan dunia
tiada mengira sempurnakan akhirat

Tatkala cinta hempaskan sayap
orang-orang melarat, para buruh
dan pekerja-pekerja serabutan temukan harap

Tatkala berucap sederhana untuk ide besar
Mendikte ajaran-ajaran kemanusian
Menulis keberpihakan
merubah kepiluan dengan degub debar kebangkitan

Tatkala keterbatasan yang sangat hendak
melawan kuasa raja diraja angakara murka
bangunkan seribu ksatria untuk seribu tuan tiran yang rakus

Tatkala semua orang kagum
begitu rendah hati, membuka jendela jiwa untuk pengabdian hakiki

Sekarang,
tatkala masih banyak pekerjaan rumah untuk memberontak kezaliman
malah kau absen,
Tidak
Tatkala kami salah kira kau turut gerombolan kami
kau berwujud ide memimpin seluruh barisan untuk bangsa,
orang-orang miskin, buruh migran dan anak jalanan

Tatkala, kau abadi di hadapan dunia

Malang, 29 Maret 2011
*) Melanjutkan produktifitas Mbak Ratna dalam memihak orang-orang terpinggirkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…