Langsung ke konten utama

DOA KEMERDEKAAN

A. Mustofa Bisri
http://www.jawapos.com/

Ya Allah ya Tuhan kami
Di hari kemerdekaan
negeri kami
Kami memohon kepadaMu,

ya Allah
Ilhamilah kami untuk dapat menyadari dan mensyukuri
Dengan benar rahmat agung anugerahMu,

Nikmat kemerdekaan kami
Berilah kepada kami dan pemimpin-pemimpin kami
Kecerdasan memahami arti kemerdekaan yang benar

Berpuluh tahun kami dijajah oleh kebodohan kami
Berpuluh tahun kami dijajah oleh bangsa asing dan
bangsa sendiri

Dan kini setelah merasa merdeka kami mulai dijajah
Oleh nafsu dan kedengkian kami sendiri

Ya Allah ya Tuhan kami,
Jajahlah kami, jajahlah kami olehMu sendiri
Merdekakanlah kami

Jangan biarkan selainMu, termasuk diri-diri kami,
Ikut menjajah kami.

Jangan biarkan kami terus menjadi hamba-hambaMu
Yang tidak menyadari
kehambaan

Jangan biarkan kami terus menjadi bangsa budak
Yang tidak menyadari kebudakan

Kuatkanlah kami untuk hanya menghamba kepadaMu
Dan menjadi tuan atas
diri-diri kami.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahabijaksana
Karuniailah pemimpin-pemimpin kami kearifan dan kebijaksanaan

Bukakanlah hati mereka bagi menjunjung tinggi kejujuran dan menegakkan keadilan
Bagi mementingkan kepentingan bersama melebihi kepentingan sendiri

Karuniailah bangsa kami pemahaman terhadap makna kemerdekaan yang
sesungguhnya
Agar dapat membedakan antara demokrasi dan anarki.

Karuniailah kaum beragama kami pemahaman terhadap makna agama yang sebenarnya
Agar dapat membedakan antara jihad di jalan Tuhan dan jihad di jalan setan.

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahapengampun
Ampunilah dosa-dosa kami dan para pemimpin kami

Ya Allah ya Tuhan kami Yang Mahapengasih dan
Mahapenyayang

Kasihi dan sayangilah kami seperti Engkau mengasihi dan menyayangi para kekasihMu
Amin.

*) A. Mustofa Bisri, Budayawan, pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Tholibien, Rembang, Jateng.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…