Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Sitok Srengenge

http://koran.kompas.com/
Kata Berkata

Panggil aku kata
Akulah asal mula
Jangan tanya siapa si pertama mengatakanku
Aku malu tak mampu memberi tahu
Walau dengan sepenuh daya
Aku tak sanggup sebut namanya
Aku cuma kata
Asal mula segala

2008



Bunyi Sunyi
Parafrase atas musik Tony Prabowo

Bunyi-bunyi ganjil itu, kawanku, memanggilmu sampai kelu

Jiwa terkucil yang ragu, bersandar bilah bayang-bayang,
melawan arus waktu yang menderas
menggerus mimpi-mimpimu

Kibaskan rambutmu, biar debu gemerincing mengusir sepi
yang selalu menyemai di sela seloroh orang ramai

Biar gairah berpijar bagai putik bunga api,
membakar hari-harimu yang memar

Kudengar derit derita, senyaring rasa sakit paling purba,
mungkin senar-senar syaraf berdenyar didera duka,
atau raung rindu dari ruang gelap tubuh
tak tersentuh

Kata-kata gagu meniru bunyi-bunyimu, cahaya redup,
tak sanggup menjelmakan sosokmu yang gagap-gugup

Hanya hening, membentang antara damba dan hampa,
selengang padang gersang

Kau melenggang, sendiri, meracik benih bunyi:
rintih ringkik raung ricik—menjadi sunyi

Tumbuh liar di tepi-tepi, serupa lantana
merekah jingga: kelopak-kelopak luka

Bunyi-bunyi ganjil itu menyeru namamu:
derit derita, jerit sakit, denyar duka,
ringkik rindu, sengal ajal
nan kekal

2007



Lidah Ibu

Cahaya yang pendar dalam kata, bukan percik api bintang pagi

Bayang samar yang gemetar di sana,
bukan geliat muslihat fatamorgana

Ini sajak menampik suara yang disumbar para pendusta

Di sesela konsonan-vokal menggema cinta tak terlafal

Huruf-hurufku bersembulan bagai gairah bebunga,
mencerap cerah cahaya

Di bawah tanah kaki-kaki mereka menjalar seliar akar,
menjangkau sumber air

Kata-kataku menautkan daya renggut inti bumi
dan medan magnet yang dilancit lambung langit,
menggerakkan yang diam, meneriakkan yang bungkam

Larik-larikku dirimai rindu pada pencinta
yang datang tanpa predikat tanpa belati di belikat

Nafasnya meraba rabu,
kelembutannya membelai betak benakmu

Lidah ibu menyalakan lampu dalam kataku

Benda-benda yang tersentuh cahayanya pun mengada:
riuh menyebut nama-nama, piuh merajut semesta

Di semesta sajak ini tak sebiji benci semi bagi pendengki

Lidah ibuku menjelma pohon pengasih buah hati

2007



Kata Asing
: Sylvia Plath

Di negeriku, Sylvi, saat ini matahari masih rendah,
mimpiku masih basah, puisi belum usai meraut wajah

Tak perlu terburu,
bangku kayu di taman khayalmu, di mana kau inginkan aku
duduk berderet dengan kata-kata lain dari kamusmu,
masih bertabur serbuk salju, mungkin kotor
oleh tai burung dan gugur daun sikamor

Sebentar lagi, segeliat tubuh lagi

Aku akan datang dengan separuh ruh matahari tropis
bagi rerumpun perdu yang meranggas di ranjang ranjaumu

Jemariku rindu bebunyi yang menggema dari sentuhan,
selirih pekik dandelion ditakik angin muson

Bawalah, seperti biasa, roti bakar selai marmalad
tapi kumohon jangan lagi berkelakar tentang kiamat

Kami, kata-kata yang kaupingit demi mengungkit sakit,
lebih senang kausiapkan kertas merang dan pencil arang

Sebab, jika nanti kaulansir puisi kabut dan bulan ranum,
kami ingin menaswir wajahmu yang semuram tarum

Semoga kau tak lupa, Sylvi, saat itu 23 Februari:
cuaca berangin meski suhu udara tak begitu dingin,
aku tiba di taman itu tapi kau tak kutemu

Hanya perempuan sunyi, tubuh rapuh berperancah duri
mengurai benang tangis merajut repih jiwa,
seperti linguis letih merunut siapa
yang pertama melafal kata

Tapi aku menunggu. Menunggu kisah-kisahmu,
sepenggal demi sepenggal, yang membuatku kian rapat ke ajal

Sampai kutahu: kau tak lagi menginginkanku,
pun semua kata yang berbaris rapi
yang selama ini kausapa puisi

Sebab telah kaukatupkan semua pintu dan jendela,
kausumbat ventilasi dan lubang kunci, sebelum gegas
ke negeri nirkata yang kaucipta dari dengus gas

2008



Ular dan Penyair

Di Taman Edan, aku bersua sesosok kata terpuruk mabuk di pojok kalimat jorok. Rambut gimbal akar gantung beringin tua, pakaian kumal sarang kepinding dan kecoa, mulut busuk comberan mampat, tubuh gembrot burik berborok

Kusapa ia dengan cinta. Mata bara menjelang padam, kerjap binal bintang zohal. Kutawari ia mandi, pakaian bersih-rapi, sebotol minyak wangi. Siapa tahu kelak, ketika nasib tak lagi congkak, seorang penyair yang sedang cari inspirasi memungutnya sebagai anak asuh dan memberinya rumah dalam puisi yang teduh

Aku ingin kau mampus, ia mendengus ketus. Bau mulutnya alkohol kakilima. Lidah bercabang, kata-kata terucap sumbang. Kudengar ia kentut, udara pun semaput. Lalu ia muntah, menumpahkan bangkai kawan-kawannya sendiri yang ia telan sembari masturbasi

Tak ada sajak cukup kupijak, ia berlagak. Aku terlalu besar. Aku bukan kata sekadar. Segala sesuatu bermula dariku. Aku penyebab penyair lahir. Firmanku suci, perintahku dipatuhi para nabi. Penyair tak lebih dari pendusta nyinyir, bertualang dari remang ke temaram, tanpa kitab keabadian. Aku kutuk mereka: mendamba cahaya, didera derita

Mungkin saat itu tuhan pulas di selembar daun apel yang lepas. Angin berdesir, muncul si penyair. Rambut tersisir klimis, dandanan necis. Sambil mengelap ujung sepatu ia ucap salam rindu kepadaku. Kata- katanya terdengar lain, sesahdu irama latin. Aku terpukau, dalam dirinya bebukit hijau, bentang kebun kakao, kemilau danau

Sambil menimang apel malang, si penyair bilang: Aku sedang menyusun ulang kata-kata yang sengaja tak diucapkan Adam kepada Eva, tentang Lilith istri pertamanya. Kelak akan gamblang, mengapa dunia dipenuhi para pecundang. Mereka pencemburu yang tak doyan mengunyah sajak, lebih gemar memburu dan mengenyah orang bijak, bersenjata pedang dusta

Kata busuk yang terpuruk mabuk di pojok kalimat jorok itu seketika kuyu. Ia beringsut kecut, melata pergi, lalu lesap ke kobar api, jauh di luar sajak ini

2007

*) Menulis puisi dan prosa. Bukunya antara lain adalah kumpulan puisi On Nothing dan novel Menggarami Burung Terbang. Ia bekerja di Komunitas Salihara, Jakarta.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com