Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Budi Palopo*

http://www.jawapos.com/
KIDUNGKU

kidungku tersembunyi di lengking seruling
penggembala yang nyanyi kasihnya berbatu-batu


di tanah lapang tak bertuan pernahkah kau
tebar lenguh sapi demi nyanyi sunyi yang
tersimpan dalam gerak ayun penyabit ilalang?


karena itu, jangan kau gelisahkan daun luruh
selama matahari masih punya kehangatan
daun telinga-ku tak akan terpotong
untuk makanan ternak yang
kau gembalakan sepanjang siang
**



KUTABUH REBANA

kala kau panggil tembangku yang
tenggelam di kedalaman samudera


segera kutabuh rebana di malam sunyi
harapku kau bisa menangkap gerak tari bidadari
dalam pesta kelahiran anak-anak lilin yang
berani merangkak dari rahim ibu-nya


kutabuh rebana sambil bernyanyi, ketika
semua orang terlelap di tanah pengungsian
kutabuh rebana sambil menari, ketika
gerak bidadari menyambut dendang megatruh
dengan kibasan selendang hijau-nya


kutabuh rebana, ketika anak-anak lilin
berani menyembelih kelamin bapaknya sendiri
**



SAYAP BENING-KU

kau lihat bening sayap-ku setelah merpatimu
terbang meninggalkan bulan
kala hujan merintik penuh cahaya
kau tadah kilau-nya, dengan pincuk daun suruh
tepat di bawah tetes pancuran mandi perawan


dan, seketika kau berucap tangis, sembari
melempar sayap belalang, yang
pernah kau poles warna kesumba
–kaukah pemburu cinta sayap bening-ku?”

**



SENYUM SANG JENDERAL

kusinggah dangaumu ketika angin membawa nyanyian padi
demi peluru, kulakukan persetubuhan langit dengan monalisa
persis di tengah titik api matahari aku sengaja membakar diri
bukan karena cinta, tapi demi keabadian senyum misterinya


kini, hangus tubuhku telah mencipta kegelapan yang
menjadi selimut persetubuhan abadi, dan orang-orang bilang
akulah pewaris senyum kemenangan dalam segala perang


kini, senyum misteri itu bukan lagi milik monalisa
tapi milikku, sang jenderal yang jadi penguasa kegelapan
senyumku bisa melahirkan ulat-ulat pemakan daun
yang bebas merambat di segala jenis rerumputan
manakala ilalang berani menantang langit, senyumku
seketika bisa menggerakkan petani untuk mengasah sabit
– dalam segala, senyumku bisa bicara
**

*) Budi Palopo, praktisi sastra, tinggal di Gresik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…