Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak M. Raudah Jambak

http://oase.kompas.com/
SEEKOR KUCING DI PINTU

Seekor kucing mengendus di balik pintu
menatap gerak seekor tikus menuju pintu
aku terpaku menatap ke arah daun pintu
menembus masa lalu dari pintu ke pintu

seekor kucing menerkam tikus di balik pintu
yang tidak leluasa bergerak sebab terjepit pintu
aku terpaku menatap darah muncrat di pintu
mengenang luka menembus pintu ke pintu

seekor kucing puas meninggalkan pintu
meninggalkan sisa tikus membangkai di pintu
aku terpaku menghunus luka menuju pintu
membersihkan darah menutup masa lalu
sebilah pintu



SEEKOR KUCING MENGENDUS RIMAH SAMPAH

Seekor kucing mengendus rimah-rimah sampah di kepalaku
menjilati setiap sisa yang terbuang. Aroma busuk yang merasuk
adalah aroma surga mengundang musafir-musafir kelana
untuk sekadar singgah. Sekadar istirah

entah kali yang ke berapa kucing itu kembali memuntahkan
sisa sampah yang terkunyah. Entah kali yang ke berapa ia
tak lelah menjilatinya. Lalu, entah kali yang ke berapa
para musafir sekadar datang kemudian pergi



LUKISAN RAMBUTMU PADA KIBAR SENJA ITU

lukisan rambutmu merebak rindu di antara lulur debu
meretas gairah di antara bilurbilur biru di bawah remang
cahaya yang memburu waktu, ah aku seolah menemu
lakumu dalam dekapan diam tetapi nganga itu seolah
mencair di antara mimpimimpi semu

kemarilah !
biar kita kejar bias matahari di antara rintik gerimis senja
yang mengucur di kaca jendela menggelitik rasa kita
kau tentu mengerti betapa hasrat memiliki tak pernah
berhenti

dan tembang malam perlahan melintas dari jembatan senja
yang berkibar di antara kibar lukisan rambutmu mewarta
segala cinta, maka cuaca bukanlah penghalang segala cinta
dari segala tariantarian yang meliuk di antara lukisan rambutmu
pada tatap mataku yang menunggu



KAKIMU YANG MELANGKAH ADALAH

kakimu yang melangkah adalah tapaktapak yang membekaskan
segala sejarah di atas kering rumputrumput itu menyibak segala
rahasia yang tersembunyi di tepian trotoar berdebu dan irama
knalpot jalan raya yang menembus telinga para musafir jalanan
menembus segala tuju yang masih semu

kakimu yang melangkah adalah retakretak dadaku yang rerak
di antara tanahtanah membatu mencuri serpihan cinta yang
melayang seolah debu menembus dindingdinding angin
yang dingin menggigilkan segala hasrat yang sempat membara
dan lunglai bersama gugurgugur daun yang jatuh ke bumi

kakimu yang melangkah adalah getar segala debar yang terkapar
dari resah segala gelisah meliukkan hati yang gundah tentang
sebuah hasrat yang terpendam menembus dindingdinding diam
yang mewarta segala cerita menembus loronglorong hatimu
menembus kisikisi hatiku yang penuh kesumat berdebu



SEBAB ANGIN YANG MENGGUGURKAN DAUN-DAUN

entah daun yang ke berapa jatuh ke bumi
dari pohon setua hembusan sedingin angin
warna buramnya sesunyi kalender yang
kelelahan disetubuhi beribu rayap
pengab !

waktu melesat begitu cepat
berkeliling merengsek masuk di celah-celah
reranting dan cabang. Begitu gagap

entah daun yang ke berapa gugur di diri
memilah warna matahari yang menembus
ke segala ruang dan lorong sesunyi titik
air yang menitis di atas lantai lunglai
sansai !



KAULAH PENYAIR ITU
Obituari si burung merak

kaulah penyair itu yang menyihir kata
yang membunuh berjuta pendusta
mengajarkan bagaimana berdiri tegak
pada bumi, pada hati

jarak mungkin tak berbatas pada peta
yang selalu mengukung peradaban gersang
meliukliuk menarinari di bola mata nanar
pada bumi, pada hati

kaulah penyair itu yang membebaskan kata
dari segala keruwetan maknamakna pedih
dan luka, menyatu satu kata kebenaran
pada bumi, pada hati

medan, 2009



PERJUANGAN ADALAH PELAKSANAAN
KATAKATA
Obituari si burung merak

sebab perjuangan adalah sebuah pembebasan
pelacurpelacur mengibarkan beha kemerdekaan
sepanjang peradaban kotakota yang dikotakkotakkan
merdekalah, bebaslah

aduh, betapa likuliku itu membatas setiap
langkah kita yang tak pernah menapakkan
segala jejakjejak yang sengaja diciptakan
merdekalah, bebaslah

sebab perjuangan adalah nyanyian angsa
pada danau yang meliukkan kebenaran
menjadi sebuah pembenaran
merdekalah, bebaslah

medan, 2009



INDONESIA BERPUASA

setelah kita kibarkan bendera kemenangan
setelah kita pilih pemimpin teladan
setelah kita kunyah segala penderitaan
kita berpuasa
indonesia berpuasa

sebagai rasa syukur
sebagai bentuk taffakur
mengenyahkan segala kufur
kita berpuasa
indonesia berpuasa

dan bersebab puasa dari segala dosa
maka, indonesia bersih dari noda-noda

medan, 2009



MERDEKA, RAMADHAN!

merdeka, Ramadhan!
entah berapa ribu kali kita sulam
segala khianat dan buruk sangka
selama abad-abad berlari di hati
ah, jengah

merdeka, Ramadhan!
pada pertemuan kita kali ini
kuharap kita selalu berjodoh
dalam menimba sumur-sumur ibadah
ah, indah

lalu apalagi yang dicari
setelah kita beraroma surga
segala cita, segala bahagia

medan, 2009



TARAWIH AGUSTUS

mungkin tak cukup belasan raka’at
yang selalu terajut di setiap sujud
pada malam-malam sepenuh diam
aku tarawihkan agustusku yang tak
sempat bersyukur di belasan bulan
yang melesat jauh

ini mungkin agustus yang ke sekian
yang tidak akan kulepaskan pada
setiap ranjang-ranjang pengembaraan
ibadah kulesatkan menuju rahmah,
menuju maghfirah, menuju itskum
minnannar

maka, ampuni aku
yaa, Rab!

medan, 2009



BULAN PENUH KEMERDEKAAN

bulan ini kembali kita berperang
dalam menegakkan kebenaran
demi kemenangan

bulan ini kita bungkam segala nafsu
dunia yang bersarang dalam pikiran
dan hati

bulan ini bukan hanya kemenangan
yang kita harapkan, tapi kemerdekaan
dari segala cengkraman
yang menjerumuskan

medan, 2009

*) Lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi, seperti Tanah Pilih (antologi puisi Temu Sastrawan Indonesia I) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (antologi cerpen Temu Sastrawan Indonesia II).

Komentar

Sastra-Indonesia.com