Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Susi Susanti

http://www.riaupos.com/
Nelayan dan Malam
:kampungku

…………
ketika malam serupa muram di wajahmu
maaf, aku hanya bisa melukis pelangi sebagai tanda tanya
akankah doa menemukan warna-Nya?
…………

perlahan subuh mengucapkan salam
pada nelayan, jaring, juga sampan kayu
yang bermuatan peluh, keluh, lenguh
impi yang rapuh

pelayaran bermula
walau ini bukan awal dari keheningan kampung yang diam
bertahun menjejak tapak di atas kabut

ya, anggap saja ini ketidaktahuanku
akan seorang pendongeng yang duduk menatap malam
menatap jati yang terbuang
gigil air matanya di atas sungai dan dayung-dayung rapuh
tapi sudahlah, mungkin kampungku kini tetap saja seperti selat mati di pinggiran pulau ini*)

hari ini luka masih menemaniku
bersama musim hujan yang enggan pergi
gemericik suaranya seperti ingin bercerita
tentang nelayan di ujung malam
mendayung kepedihannya sendiri
dalam air mata yang tak pernah usai
adakah derainya yang sampai ke telinga?

“dia hanya bisa menulis puisi dengan kalimat basi,” katamu
aku tertunduk malu
(maaf, di puisiku, mungkin juga ada cerita yang belum usai ku tulis tentang harapan yang patah )

barangkali di sini
di sejumlah catatan kerinduan kita
bisa kutemukan letak nisan kealpaan
yang telah lama kau semayamkan d ijantungmu
dengan garis dan tafsir tersembunyi

(setakat mengulang kembali doa kita
menghapal ingkar sebuah ikrar
untuk kuucap kembali padamu
dalam jarak yang tak tentu)

di bawah malam
ku pandang seorang nelayan
menjaring kenangan yang telah runyam

Maret 2009
*) Puisi Syaiful Bahri



Kisah yang Kian Resah
: kampungku

……….
temukanlah kata yang bisa membuat kumengerti tentang kalimat mimpi semalam
kampung terbakar masa kelam
………..

kini sajak kusemakin diam
takut menulismu dengan senandung kerinduan
tak sudi lagi mendengar mungkin, karena aku yakin engkau menangis *)
akankah penantian berujung pertemuan?
sisa rindu mungkin akan jadi jawaban

di ranah luka
kutinggalkan perih
untukmu
sunyi bertalu

waktu menggulung puisiku di penghujung musim
beribu kenangan rumpang
kususun kembali sebagai bahan diskusi
meski hari telah dipesan sepi
meski waktu tak memberi temu

setakat dongeng malam
berkisah tentang perjalanan impian
dengan segala rintangan
segala perjuangan
hikayat ini tak selesai kuceritakan

apa yang bisa kupersembahkan padamu ketika pulang nanti?

pengembaraanku hanya merangkum luka
entahlah, mungkin hanya dendang anak jalanan
aku orang pinggiran
tak layak mengalahkan hujan

Maret 2009
*) Puisi Sobirin Zaini

Komentar

Sastra-Indonesia.com