Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak M. Aan Mansyur

http://www.lampungpost.com/
Bulldozer

/1/
kelas enam
pertama kali berkelahi
teman sebangku
mempermalukan
ia kuak rahasia saya:
takut bulldozer
keluar! pindah!
kepala sekolah
(yang tak pernah ramah)
marah-marah
di rumah
saya bertanya
kenapa saya takut bulldozer?
waktu saya belum cukup setahun
sawah keluarga diratakan bulldozer
(bulldozer warna kuning, kata ayah)
ada orang-orang kaya dari jakarta
suka sekali beli tanah murah
buat membuat rumah,
rumah-rumah mewah
bulldozer mau melindas ayah
yang tak mau dibayar murah
tapi akhirnya dia kalah
lalu mengalah
pasrah
terpaksa

/2/
di sekolah menengah
saya diminta ayah
masuk jurusan ilmu alam
biar bisa kuliah di fakultas teknik
biar bisa membuat bulldozer
yang lebih perkasa
yang lebih raksasa
ujian masuk universitas
saya gagal jadi mahasiswa teknik
dan terdampar di sastra indonesia
saya pernah bilang pada ayah
kata-kata lebih kuat dari bulldozer
(mengutip kalimat dosen puisi saya)
dia tertawa keras-keras
(dulu parang saya tak bisa apa-apa, katanya,
bagaimana kau bisa pakai kata-kata buat berperang?)
kemudian dia menangis
sambil mengelus-elus kepala saya

/3/
tahunan kuliah
saya pikir bisa bikin berani
menantang bulldozer
tapi di televisi saya lihat
banyak bulldozer:
besar dan sangat kasar
malah saya tambah gentar
saya tak masuk kuliah seminggu
waktu ada bulldozer menggali
selokan di depan kampus
saya putuskan seorang gadis manis
yang nyaris sebulan membuat saya jadi pengemis
setelah tahu ayahnya kepala bagian di trakindo
saya pura-pura pergi mendaki gunung
(membawa semua puisi-puisi saya)
saat pemukiman di dekat asrama digulung

/4/
setelah sarjana
(sarjana sastra indonesia
nilai rata-rata hasil main mata)
dan dikenal sebagai penyair
saya tetap takut bulldozer
di dalam puisi-puisi
saya takut menulis bulldozer
saya lebih nyaman menulis
pohon-pohon, senja dan gerimis
tapi tadi sesaat sebelum tiba jingga senja
(saat jendela diterpa gerimis)
di televisi, di gambar-gambar berita,
tanpa sengaja saya lihat tentara-tentara bersenjata
dengan bulldozer mencabut pohon-pohon zaitun
dan ibu-ibu yang merantai leher mereka di pohon-pohon itu
saya menangis,
menangis dengan jari-jari gemetar
(saya melawan rasa takut)
ingin sekali bisa menulis,
menulis puisi bulldozer

2009



Kepada Aku dan Beberapa Penyair Lain

puisi ini
tiba-tiba membenci aku.
betapa. entah kenapa.

1. hujan
puisi ini
juga benci beberapa penyair lain
yang meskipun sudah tua
masih senang bermain hujan
dan, huh, alangkah manja
seperti tidak pernah belajar
menabung di sekolah dasar
bahwa hujan atau kesedihan
(atau apapun nama lainnya)
tidak baik diboroskan saat hidup
bahwa sisihkanlah airmata sebagian
agar bisa membiayai kesepian di masa depan,
di dalam kuburan

2. senja
puisi ini
juga benci beberapa penyair lain lagi
yang meskipun matanya masih sehat
tak pernah bisa melihat
warna asli senja
selalu saja jingga
atau paling-paling merah dan kuning
(apa beda jingga dengan merah-kuning?)
padahal senja itu bening
seperti air mata anak-anak
yang bukan genangan sedih,
yang bukan sedih kenangan

2009



Seorang di Bawah Pohon Meminta Selembar Tissue

(sore di sepi taman
di bawah sebuah pohon)
ia menumpahkan airmata
karena seseorang yang meninggalkannya
dan seseorang lain yang mungkin akan meninggalkannya
apakah anda punya selembar tissue? ia bertanya
(aku bayangkan pohon di atasnya
runtuh dan jatuh di tubuhnya)
hanya dibutuhkan airmata
buat membersihkan airmata
tissue tak mencintai pohon, kataku
lalu kembali berlari-lari kecil menjaga kesehatan
karena besar mencintai diri dan istriku

2009



Surat Wasiat Singkat

di surat wasiat
kalimat singkat yang kau catat
telah tiba padaku sebagai kalimat cacat
sebagaimana semua kalimatmu yang aku ingat
meminta obat,
meminta dirawat
aku akan tetap mencintaimu,
dan kau tepat mencintaiku?
aku tahu kau ragu, sangat,
meletakkan tanda tanya di akhir kalimat

2009

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com