Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Matroni el-Moezany

http://www.sastra-indonesia.com/
Sela-Sela Yang Tak Kuciptakan Sendiri

Kurasa dalam bahasa kubaca setiap cela
Yang mendengarku

Di kedalaman dalam luas waktuku
Tak tertera dengan sederhana
Oleh setetes suara malam di sisa usiaku

Sehabis makan malam
Dengan ikan ayam di dada
Mencela roti bangsa
Yang tak sabar meninggalkan susah-susah

Aku tak menemukan angka di matahari
Tapi di ruang jiwaku aku lihat samudera tak terbatas mengalir
Ke dalam darahku

Ikan, kata dan kegembiraan
Mengisi sela-sela
Yang tak kuciptakan sendiri

Partikel-partikel bahasa
Yang kulihat nyata, ternyata
Lari menemui ruang tulangku
Seperti aku yang sedang lapar membutuhkan semesta

Selembar perjalanan kutulis di ufuk malam

Semesta ini seperti kertas kosong
Tempat menanam kata
Bersayap beribu rasa
Beranting kelembutan
Berdaun kesejukan
Berbuah kebahagiaan

Jogja, 2009



Berkata Pada Titik (.)

Kuingin berkata
Pada titik di tengah titik yang paling terkecil
Entah dengan apa?

Lalu kutawarkan
Rasa
Untuk sedikit mendekati cakrawala

Kubertanya
Kenapa menangis
Tak ada duanya di dunia ini

Jogja, 2009



Sebatang Kata Terbuat Di Tengah Rasa

Terkadang aku ingin berlabu di pulau Kalianget
Menuju asta Yusuf menemui kata yang tertinggal semala setahun
Menjaga ciuman huruf menelan sepi malam

Pohon besar yang tegak di sampingmu
Seakan telah rapi antara aku dengan perjalanan
Sepasang musim tak tertera sebelumnya
kalau aku masih ingin menghafalmu lewat jejak kaki
dan huruf-huruf semesta

Pijakan awal dari sekian waktu
Kuraba dengan lesatan malam kesunyian
Dalam tiap tingkatan huruf kau temui dengan serpihan-serpihan

Kini jejakmu kuingat dalam setiap kata
Kuingat dalam setiap rasa
Mungkin kau ingin aku berkata bahwa
Puisiku lahir dari sana dan menjadi pengisi samudera
Para manusia-manusia raksasa

Di kedalaman lautmu, kini mulai terihat jelas
Bahwa karang masih ada di dasar lauatan
Dan inilah yang sering aku tak kuat melukai
Agar sedikit luka menjadi berdarah di lautmu

Yogyakarta, 25 Maret 2009



Berpuisi Setelah Kematian

Terkadang aku lelah setelah bermain di hutan kata-kata
Tergerai keringat rasa, menjelma dalam bayang-bayang semesta

Aku tak ingin mengigau kedua kali
Terlalu banyak kerinduan bersama angin
Menuai kafan dari bulan pada belum sempat aku sebut kupu-kupu

Di tembok air mata kutangisi, membaca
Waktu dan menit-menit, juga sebaris kata-kata
Yang melengkung, di sana ketemukan
Kami menemukan rasa yang dijarkan ibu padaku

Puisiku meradang, seperti pelangi melingkar
Sementara akar kami tak sampai
Menahan nonjolnya susu yang sederet kata-kata
Seperti air dalam jamban, di mana rasaku
Pernah hilang, aku telah membuang waktu

Karena semua telah basah, di depan pintu
Di wajah indah perempuan cantik-cantik
Mirip mimpi ratu, seperti gelang emas,
Dan di sanalah kami bersambung

Jogjakarta, 2009



Kata Hujan

Kata hujan bukanlah musik yang terdengar dalam tubuh
Ada yang melafalkan seperti suara sepi, dan dari yang bersembunyi
Di balik batang sangat rapi, barangkali engkau bukan batang kayu sesren
Di tepi tegal yang bertemu di rumah baying-bayang mata
Segalanya tersenyum dan kupu-kupu iri hati
Sedangkan perempuan itu engkau paksa
Memecah batu untuk pemandian hati

Kata hujan bukanlah musik yang terdengar
Dalam tubuh, turun menemui kerikil dan cela-cela
Air sungai, diamkanlah kata hujan jatuh di pagi
Seketika embun masih bekum maka akan engkau dengar
Sesuara lain melentunkan hujan

Dan di situlah kupu-kupu bersembunyi
Di balik pecahan batuan, sedang suara masih tak ada
Juga air belum tentu waktu datang bertamu

Yogyakarta, 2009

Komentar

Sastra-Indonesia.com