Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Arina Habaidillah

http://artstreet.multiply.com/
Aku ingin pergi (I)

bila kau tau aku saat ini
terkubur dalam ruang sempit
yang takkan membuatmu sanggup melejit

dalam buaian gelombang-gelombang amanah
apa tak kau kira berat!
hatiku hanya terselimuti emosi-emosi kejam
yang tak ubahnya sebagai apai yang menyala-nyala

aku ingin pergi!

Dalam sekujur tubuh yang itu adalah waktu
aku terikat
dengan dunia yang semakin gelap
hanya ternganga dan mencoba memberontak:
“ah sial!!”

tak ada sura merdu yang mendayu-dayu
merasuki sebuh ruang tak bernyawa
siapapun bia mati karenanya
hanya putih dan hitam.

aku ingin pergi!

dan tak kembali
walau malaikat mengejarkupun
aku akan lari!

lama, waktu memburu bagai pedang yang
akan menghunusku
aku mati.
mati dalam diriku sendiri

dan berteriaklah:
aku tak puas!

270309



Aku ingin pergi (II)

segala tenaga tercurah
hanya untuk penantian tak berguna
untuk apa?
kau bertanya,
aku tak mau menjawabnya :
terserah!

“apa kau mengerti sekarang?”
aku sudah bosan bertanya
hanya dalam lamunan
karna aku tau,
kau takkan bisa menjawabnya

aku ingin pergi!
aku ingin pergi!

kau bilang :
“maaf..”
apa itu balasan atas nama penghianatan!
untuk apa!
sekali lagi,
aku sudah bosan
karna kau tak kunjung mengerti

semua tersaji dalam ember
berisi air bersih
tapi kau ludahi dengan sebuah
tipu daya penghabisan, dan hanya
“maaf”
apa itu cukup??

aku ingin pergi..
aku ingin pergi..

biarlah,
biarkan aku sendiri
menusuri jalan jalan sepi
menarik kembali benang merah
yang telah kumal di hati

ku coba mengerti
atas segala yang tak ku sadari
bahwa engkau tahu.

270309



Aku ingin pergi (III)

aku ingin pergi!
setelah semuanya telah hilang
tak tersisa
hanya tulisan

segalanya menyeretku dalam ombak kencang
membuatku mati dalam busabusa keruh
tiada tersisa
selain sebuah nama

kenistaan membuatku tak terperi
hanya sebuah suara yang masih ku sadari
dalam dasar laut tak benrama itu..

aku ingin pergi!!

ia datang dengan senyum kecut
Oh Shit!!
dia menyepelakanku dengan senyuman itu
apa aku kalah?!

lihatlah!
hei!!
lihatlah.
aku datang, bukan membawa sebuah kekalahan,
tapi kemenangan.

Sekarang kau bisa melihat bukan??
Bahwa
aku bukan pecundang
aku bukan penghianat
seperti semua orang bicarakan

aku ingin pergi

dan membawa semuanya lari
tentang sebuah memori pahit
yang tetap bersarang dalam otakku

tak hanya diam
kau biuskan semua itu dalam
otak setiap orang

apa itu keji??
kau melihat dengan mata kepalamu
sendiri bukan??
bahwa aku menang.
aku takkan pulang
kembali melihatmu dalam temaram lampu
yang mulai padam

berteriak:
“aku bukan pecundang!!”

Lamongan,270309



Aku ingin pergi (IV)

mencoba merangkai semuanya
menulis kembali masalah masalah dalam kata
ada kau, dia, dirinya, kamu, aku,
dan semuanya
terangkai gelap

dan,
teruangkap
dalam sebuah monolog kehidupan
kehidupan yang kekal
dalam barzakh
biar semuanya melihat

sebuah imbalan atas kepercayaan
adalah penghianatan
sebuah imbalan atas janji
adalah pengingkaran
sebuah imbalan atas kebaikan
adalah keburukan
benarkah??

apa kau percaya dengan kehidupanmu sekarang?!
mendongaklah kebawah,
lihatlah..
lihat!!
siapa dia..

mendongaklah ke atas
lihatlah..
lihat!!
siapa mereka!!
lalu sekarang,
percayakah??

O dunia
aku bosan dengan tipu daya
aku bosan dengan janji janji setia
aku bosan dengan ratapan pilu
tiada usaha.

aku ingin pergi
aku ingin pergi
aku ingin pergi
AKU INGIN PERGI!!!

270309

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…