Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Hasan Aspahani

http://kompas-cetak/
Surat-Elektronika untuk Shania Saphana

AKU ketikkan namaku lalu namamu,
sepasang ID dan kata sandi yang kita sepakati itu, dengan begitu
kupertahankan harapan bagi datangnya sebuah surat-elektronika.
“Aku pasti kabarkan apa saja dari sana, nanti, potret patung pujangga
yang kau sanjung, restoran bermenu unik, dan ya, tentu potretku juga,
dengan seragam putih panjang, dan kerudung pelindung dari debu gurun,
juga senyum yang kau bilang membuat wajahku seribu kali lebih cantik,
dan karena keindahan itu jadwal musim terik menjadi terbalik-balik!”

TAPI, seperti tengah malam sebelumnya, di inboks itu tak ada apa-apa.
Aku kirimkan lagi pertanyaan yang sama,
ke alamat surat-elektronika yang kita sepakati itu,
semacam doa yang terlalu sederhana, “Kau tidak apa-apa, ya?”
Ah, betapa ingin aku ke sana, ke lapangan bulutangkis,
terakhir kita saling menepak buluangsa, ketika kau kram otot betis.
Kubatalkan sebuah smes. Kugendong engkau dengan keringat menetes.
“Kita pernah satu regu di Palang Merah Remaja dulu, kenapa ragu,
ini pelajaran pertama P3K. Jadi, kau tenang saja,” kataku sambil
mencari urat yang tegang di putih betismu, dan kau mengaduh
kulihat nafas penuh di dadamu pada kaos putih ditembus peluh.

TAPI, seperti tengah malam sebelumnya, di inboks itu tak ada apa-apa.
Maka, bukankah sebaiknya aku terjemahkan lagi bait-bait Neruda itu?
Akulah lelaki yang menggilai mulutmu, suaramu, rambutmu.
Akulah yang diam didera derita, di jalanan aku berburu.
Akulah yang tak lagi berselera pada roti, sebab sejak fajar mengusikku,
lalu sepanjang hari itu, kuburu jejak acak langkahmu.
“Ah, soneta yang kesebelas, kau pencuri yang tak berbekas, tapi aku tak
akan pernah jadi Matilda Urrutia buatmu, walau kau telah jadi Nerudaku!”
“Pujangga bermuka buruk itu. Apakah di Isla Negra dia telah jadi hantu?”
“Dan kau kerasukan rohnya, setiap kali menyentuh tombol on laptopmu!”

DAN, seperti tengah malam sebelumnya, di inboks itu tak ada apa-apa.
Aku pun beranjak ke dapur. Seperti ada yang menebar aroma ketumbar,
di udara pergantian hari yang hambar, semenjak kau tak mengirim kabar.
Susahkah kau dapatkan lele di sana? Aku tahu betapa kau sudah tergila-gila
pada putih-gurih daging ikan air tawar yang dulu katamu menjijikkan itu.
“Adakah ikan yang lebih buruk? Hitam, berlendir, amis dan berkepala remuk!”
“Hei, lidahmu pandai mengutuk. Tunggu sampai ia mengecap paduan sempurna bawang putih, kunyit, dan belacan, kemiri bakar, kemangi dan ketumbar.”
Tengah malam itu, iman lidahmu pun murtad. Tersebab lapar dan restoran itu
hanya menyisakan satu-satunya menu: dua porsi pecel lele, dan sambal ulek
yang kelebihan cabai. “Semoga aku tak muntah di restoran bermenu unik ini,”
katamu, dan kau tak muntah, kau menagih, dan selalu mengajakku singgah.

YA, seperti tengah malam sebelumnya, di inboks itu tidak ada apa-apa.
Kau mungkin semakin sibuk dan letih, Shania. “Perang itu masih akan lama?”
Aku hanya takut kau lupa betapa manis senyum lucu di matamu itu.
Aku hanya takut kau kalah pada musim asing, cuaca yang kering.
Kau tahu ada yang tak sempat aku jawab pada malam terakhir itu ketika
kau bertanya, “Kenapa kau pilih penyair berwajah buruk? Kenapa bukan
si lelaki paling keren se-Inggris Raya, si penyair-perang Rupert Brooke?”
Aku benci senjata, Shania. Perang hanya sibuk membunuh anak-anak muda.



Di Antara Sampiran dan Isi Pantun Tua

kalau ada sumur di ladang
boleh kita menumpang mandi
TAPI ladang-ladang mati, mengubur para petani
dalam sumur-sumur dangkal, meninggal isak sesal:
mataair berairmata lumpur, pasir dan batu koral.
“Itulah sumur yang kau gali dahulu, dari ladang
ke ladang,” kata bocah lelaki kurus yang tak henti
memandangi langitnya, menunggu layang-layang
yang mungkin bisa ia kejar, karena bambu
panjang telah lama patah, kail pun tak berumpan.

IA telah lama ingin mandi. Keringat kemarau
mengubah warna dan bau tubuhnya jadi asing.
Ia bayangkan para penebang datang dengan mesin
gergaji. Salah mengira tubuhnya, rebah batang tua
yang hendak dibelah jadi sembilan belah.
Tak terjawab bilakah pertama kali ladang yang pernah
subur ini berangsur kehilangan sumur-sumur, dan para
petani kalah lekas dengan umur, mati atau tersiksa uzur.
Pantun Tua, Pantun Tua, siapa bisa mengingatkan
isimu pada bocah lelaki itu? Setelah sampiran itu tak lagi
bisa kami lagukan bersama. Panen batal, hari tenggelam,
tak ada lagi padi yang bisa ditugal. Apalagi diketam.
kalau ada umur panjang
boleh kita berjumpa lagi?

Komentar

Sastra-Indonesia.com