Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Alex R. Nainggolan

http://jurnalnasional.com/
Alamat

i.
di manakah dirimu? aku kehilangan tanda
hingga jatuh bangun
dan hujan turun
sendirian meski di kota yang telah kukenal
tak rampung usahaku
untuk sekadar melupaknmu
tapi alamatmu terus saja kucari
tak kunjung bertemu

ii.
yang menyisa cuma kenangan
lesap, seperti debu yang dibilas hujan
sepanjang jalan kota
dan melulu yang kutemui cuma
kerumunan demonstran, sepasang kekasih
yang berpelukan di sisi taman,
senja yang pudar, juga bayi-bayi yang menangis
ditinggal para ibu
di selasar rumah sakit, di tempat pembuangan sampah

di manakah dirimu?
gandrung aku ingin bertemu
hingga aku melangkah lagi

iii.
sampai aku terjebak di sudut kota ini
menginap di hotel melati
bercinta dengan perempuan yang mirip kamu
tapi bukan dirimu
sebab kita tak kunjung bertemu

iv.
padahal yang kurindu cuma tubuhmu
wangi parfummu
hangat usapanmu
lelmbab bibirmu

tapi tak ada alamatmu
barang sedikit saja
nama jalan atau nomor rumah
juga nomor handphone

aku terkapar sendirian
minggir di kota yang besar
memintal kesakitanku
yang telah dibawa waktu

2008



Membelah Kerang

di restoran sea food,
aku memesan kerang darah
membelahnya,
memisahkan katupnya
bulu-bulu yang halus
terbalut di ujung jariku
menyicip hangat dagingnya
dengan saos tiram
aku terpejam, sendirian
sejuk pendigin ruangan
seperti mengoyak diriku
aku membelah kerang
dengan garpu
mencelupkannya ke saos tiram
di luar hari semakin malam
bayang-bayang kendaraan
lalu-lalang ingatan
dan aku seperti mendengar lagi
kesakitanmu
di ruang operasi itu
saat pisau bedah menyayat tubuhmu
dan aku ingat
tangisan yang kencang bayi kita
yang diambil dari lingkar perutmu

2008



Agenda

engkaukah yang bergegas
pada setiap tempias hujan
membuka pagi dengan tergesa
"apa kau tak berangkat kerja hari ini?"
sejumlah agenda
berserakan di kepala
dengan bayangan mimpi semalam
atasan dengan kepala besar
bagai raksasa
telinga lancip dan taring drakula

engkaukah yang kutemui di meja kantor itu
sejumlah catatan tentang namamu
yang tak pernah selesai kutulis
hanya kertas bertumpuk
dibongkar lagi
juga televisi yang menyala,
koran kemarin di tempat sampah

engkaukah yang pulang larut malam
dengan wajah sayu
memikul mimpi esok
juga jalanan yang macet
"apa kau tak bercinta denganku malam ini?"

2008



Hujan Murung

hujan murung turun di tengah kota
tak sempat berkaca di sepanjang jalan
menghitung-hitung cuaca
langit yang melulu mendung
kerap ditumbuhkannya rerumput baru
yang panjang dan akan gersang

hujan murung, langit mendung
cuaca yang setengah terbuka
membungkus perjalanan orang-orang
bergegas dengan mata yang penuh luka

Jakarta, 2008



Setiap Jam

engkau selalu menyergapku
setiap jam, bayanganmu mengurung tubuh
hingga aku tersentak, jika kau memang ada
menamai diriku dengan kalimat-kalimat yang pahit
setiap jam, tak bisa kulupakan dirimu
seperti engkau di sisiku
berlari mengejar serbuk udara
yang kuhirup
menguntit bersama cuaca yang membuatku mabuk

dan engkau bercakap
menguliti semua masalaluku yang lama terendam di paru
menjadi candu yang selalu kuminum
hingga tahun-tahun berkarat
menabung jam-jam yang kuhabiskan bersamamu

Jakarta, 2008



Sebuah Kota

i/
sebuah kota, kauberikan aku sepotong riwayat
fragmen yang lama kaukerat
juga bungkusan masalah yang merebut mimpi malam
sebelum larut jadi pagi
dan menjegal dengan tersengal
akan jadwal kita
tergesa meraba-raba cuaca
memasuki lagi lorong-lorong jalan
yang hingar dan terang
tapi gelap dari makna

ii/
di sini, kita bagai terusir
tapi selalu gagal sembunyi
sementara waktu terus memburu
bagai langkah babi
yang sungsang
berita kelahiran dan kematian
cuma sebatas kabar
yang sekejap hilang
serupa senja
yang abai dan larut ke tenung malam

di sini, kita berbagi teka-teki
beternak luka
yang makin hari semakin dalam
hingga ke dalam kepompong rumah
hingga ke jantung hati kita

iii/
dan selalu kautawarkan cercah mimpi yang baru
barangkali sedikit harap
yang juga membawa cemas

sebuah kota, selalu kita sesak di dalamnya
terhimpit dalam cengkramnya
hingga tubuh memar dan penuh pilu

Jakarta, 2008



Hujan dalam Sajakku

hujan dalam sajakku
tak bisa kukuliti lagi
cuma gemetar angin
yang pucat
berbagi sedikit harap

hujan dalam sajakku
kata-kata yang penuh dengan embun
basah daun yang terkulum
memasuki setiap ingatan

bagaimana bisa kugoda
lembab tanah yang merekah
diterjang hujan yang basah
jika engkau melulu lupa?

hujan dalam sajakku
rerumputan mekar
menyimpan dendam yang berakar
pucat dan beku

Jakarta, 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…