Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak TS Pinang

http://jurnalnasional.com/
SUMUR

di belakang rumah kami menggali liang di mana tergantung nasib hidup kami. dengan airnya kami lunaskan haus seharian, setelah bersitegang dengan timba dan tambang. kadang kami mencoba, membaca muka airnya. siapa tahu mata kami mampu menjangkau wajah kami sekilas saja. tapi liang itu terlalu dalam dan gelap. tersebab itulah airnya sejuk dan sedap.

di depan rumah kami menyiram kembang, dengan air yang kami minta dari timba dan tambang. sebab kami pernah mendengar, segala yang berangkat dari tanah, ke tanah pula ia pulang. dan kembang itu kami tanam di tanah juga, sebagaimana kami menanam kakek-nenek kami, tetua-tetua kami, anak-anak kami, juga bayang kami sendiri. di belakang rumah kami menggali tanah, demi setimba air. dan dengan liang yang gelap itu, kami mengukur dalamnya. tapi kami tak pernah sampai di batas akhir.

kami masih bercakap panjang dengan timba dan tambang. hingga lupa berapa kali kami telah pergi dan pulang. kami ingin mengambil kembali, wajah kami yang jatuh di dasar liang. tapi liang itu terlalu dalam dan gelap. seperti senja yang datang menyergap.



REGOL

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak melulu dikungkung sepi. kami ingin beranda kami hangat oleh sukaduka yang datang dan pergi. kami ingin belajar tak takut pada pencuri, sebab bila siap berbagi, takkan ada yang bisa direbut lagi.

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak merasa terkurung. kami menetas sebagai burung, rumah kami teranyam dari jerami kering dan serat-serat cinta yang kami pintal, kami gelung. lalu kami terbang dan pulang setiap kali, tanpa perlu mencemaskan anak kunci. rumah kami tak berpintu, hanya berpagar kidung dan tuah kalbu.

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar segala yang terbang tak lupa tempat kembali.



CELLAR

kami sering berlindung di bawah lantai rumah. tak ada barel anggur atau aroma ragi yang menua. kami hanya perindu ruang kubur, tempat musim dan peluh mengasam, mengabur. o salju yang jauh, beku yang jenuh. kami rindu dingin yang memadamkan tungku-tungku, badai yang menumbangkan tugu-tugu batu.

di bawah lantai rumah, kami ternakkan sejuk kristal salju dan pusar angin rindu. lalu jadilah alasan kami saling berpeluk, berpeluh di dada kekasih, membuang ragu, memanen hangat sembari menghitung tasbih. kami ingin teguh bertetap, saling rindu di tiap lingkaran musim. hujan yang melicinkan batu-batu, atau kemarau yang merontokkan buah-buah randu.



MUSALA

bacalah kami sebagai angka satu. atau huruf alif dalam alifbata-mu, alfabeta yang juga tertulis di kitab-kitab dalam rak pustaka kami. di kamar ini kami menggelar tikar tebal dan secarik harapan. lalu di atasnya kami dudukkan dunia kami sehari-hari. lalu kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir kami yang saling berpagut ini, merunut sesuluran yang tak lagi jelas pucuk dan pokoknya. bagi kami tak lagi penting, sebab di negeri kami setiap puisi adalah hiperlink ke jendela manapun kami berpaling.

adakah lagi gempa yang genting jika dada kami selalu gentar oleh embun berdenting?

bacalah. kami adalah sepasang binari yang berbinar dalam silau kobar elektron yang sengit, dalam pekat gulita di luar batas langit. di tikar tebal tempat kami mendudukkan diri, kami membaca gelisah sejarah dalam tenun kasar serat palma. yang sangit oleh kemarau sepanjang hati, sejak sepasang adam-hawa jatuh dari surga, ke negeri yang resah antara hidup dan mati.

bacalah, di kening kami ini. tergurat hujat hujan, juga nubuat dan nujum. tapi kami tak hirau, sebab di tikar serat palma yang kasar tenunannya ini, kami bergumul dengan cinta, berdamai dengan dunia dan hiruk-pikuk di jantung kami. sebagaimana kami belajar menghitung sulur sungai di semesta tubuh kami sendiri.



LOTENG

kami berharap punya kamar di kolong atap dengan tingkap cahaya tempat kami menjala senja. berlantai papan, berdinding papan. di sana akan kami simpan setiap catatan yang tak ingin kami ungkapkan. di sana kami simpan kebenaran di atas kanvas, lalu kami tutupi dengan warna, dengan olesan pisau dempul, dengan kibasan kuas. lalu kamu akan melihatnya sebagai hiasan dinding, sedangkan kami mengingatnya sebagai badai puting.

di setiap musim kami akan menggantung jagung kering di para-paranya. persediaan saat musim lapar, serentak menandai tahun-tahun yang pergi. kami masih bermimpi jadi petani, menanam-tuai sendiri padi dan ubi kami. dan ceruk di luang atap itu akan menjadi candi tetirah kami, tempat mengungsi dari dendam dan benci. di sana kami akan berhitung berapa langkah kami seharian yang kelak kami sesali, berapa lambaian tangan yang lupa kami niati.



DAPUR

bayangkan kami di depan kompor menyala. dalam didih minyak kami masak seekor bawal. aroma ketumbar dan bawang menguar begitu tebal. seakan menabalkan perjalanan kami meniti jembatan ini, yang gantung dan goyang oleh angin nakal.

di depan kompor kami bertaruh nasib dengan seekor bawal, di titian kami berjuang agar pijak tak gawal.

di meja kami menumbuk cabe dalam lumpang batu. seperti kami kerjakan setiap waktu dengan bebijian kenang yang tajam seperti picing matamu. kami terus menumbuk cabe itu, hingga pedas dan garam bercampur satu dengan terasi ikan muara kiriman ibu. kami tahu, di setiap ulekan antan ini ada putaran doa tak terucap, tentang embun yang meresap.

bayangkan kami masih di depan kompor, masih menyala. dan bawal masih menasbihkan zikir pada gemeritik percik minyak. dan kami masih menumbuk cabe.

sementara hujan dari seluruh negeri, berkumpul di pekarangan kami.



BERANDA
-- kepada Hasan Aspahani

1.
di sini mungkin kita perlu singgah sejenak sebelum lewat pintu itu yang telah jutaan kali kita masuki. riuhnya jalanan dan pasar kota masih melekatkan debu ke kerah bajumu, ke lidah sepatuku. perniagaan yang tak pernah sudah, perselingkuhan dengan keringat dan lelah. katakanlah sekali lagi: bersungguhkah kita di jalan ini?

2.
kami terlalu sering menjamu tamu di teras rumah dengan basa-basi, terlalu jarang dengan puisi. negeri kami begitu penuh dengan fiksi, begitu jenuh dengan diksi. dan kami masih berkutat dengan geli resah yang basi: inikah puisi?

negerimu kami lihat, begitu sore. seperti secangkir teh manis dan sepiring biskuit. lalu ayunan pintu tanpa derit engsel, dan mungkin di baliknya sembunyi sebuah ciuman panjang dan jerit ranjang. lihatlah, negeri kami masih saja hujan, langit kami didera batuk yang rejan.

3.
dipan depan rumah. kami sedang mengaji hitamnya kopi. sekental krim gula di kue ulang tahunmu. di negeri kami, hanya ada kerucut nasi berlauk doa dan sayur mantra. biarlah kami titipkan saja di bibir Shiela dan Ikra.

Komentar

Sastra-Indonesia.com