Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Rukmi Wisnu Wardani

http://www.republika.co.id/
PUCUK ILALANG

walau angin tak henti mengoyak tulang
walau rimis menggenang di desah malam
untukMu, sekuntum bunga telah kupersiapkan

kalaupun tiba hari keputusan itu datang
izinkan kutuntas perjamuan
laksana nyanyian tafakur burung
di pucuk ilalang

November 2008



WAJAH SENGKETA

seperti kau saksikan,
kawasan hijau nenek moyang
kini berstatus sengketa

pasar malam diam-diam digelar
di tanah kuburan. jual beli pengetahuan
tawar menawar nilai kehormatan
adobsi sampai aborsi janin keluhuran
nampaknya sudah jadi hal biasa
jika dijadikan kudapan atau barang muntahan

bila semua mengaku teman saudara seiman
lantas mengapa lapak topeng dan belati laris
berjualan di pintu gerbang?

sesekali ada baiknya
melakukan seppuku di muka cermin
agar dapat memandang dan memeriksa
bahkan menyunat rupa kemaluan yang ada

daripada berbondong-bondong
(keliaran di tanah kuburan)
sambil membandrol harga diri
sesuai selera yang diagungkan

daripada meneriakkan nama-nama Tuhan
sementara barisan kurung batang
menyaksikan sambil cekikikan

September 2007



PEDANG BERLUBANG

ketika ditanya apa yang di butuhkan?
maka di katakannya: pedang

ketika di tanya
berapa banyak yang di butuhkan?
maka di katakannya: delapan

kembali ditanya, mengapa
begitu sulit melukis kata-kata pedang?

pedang berlubang menjawab
19 hal masihlah berupa teori
tapi 20 yang sebenarnya
adalah ilmu yang paling sempurna

inilah sebab mengapa ilmu kaligrafi pedang
begitu sarat mengandung pasukan
(sesarat purba tafakur alam)

dan inilah sebab mengapa ilmu kaligrafi pedang
mampu melesat sesempurna kilau cahaya

2006-2008.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com