Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

http://www.suarakarya-online.com/
Bahasa Mercusuar yang Dikuburkan
: bagi indra tjahyadi, "si ekspedisi waktu"

Berabad-abad, waktu (bukan terumbu), terus tumbuh
Mekar, tak tersentuh tangan penyelam
di kedalaman
Bukan. Waktu, berabad-abad waktu, bahkan
bukan bangkai kapal kayu, hantu laut dan hening hiu
di kediaman dasar yang jauh

Detak dan laju watak dari waktu.
Mengalirkan kapal-kapal ke daratan baru
Pun kapal selam masuk ke kedalaman
berbekal zat asam
-dan merasa begitu sempurna penemuan!

Tapi adakah yang lebih berdenyut
dari arus, lebih kencang dari hanyut?

Adalah kami yang terus menggali
Reruntuhan mercu suar yang dikuburkan
Adalah kami yang membahasakan kembali
Isyarat dan kilau pilu cahaya pulau
yang dimusnahkan
Sampan kami dari kiambang. Zona kami
zona terlarang. Tak tersentuh logam dan mulut kapal
Kami tak butuh pelampung dan zat asam, bahkan
pada cuaca kami tak lagi bersandar derita

Kami hanya menabur garam, dilimbur pasang
bagi ular jahanam
di pokok menara yang kami nyalakan
dengan cinta. Dan berdenyut waktu
abad-abad bisu di pantaimu

Bangunlah! Kelip mercu suar yang dikuburkan
diam-diam merangkai kata, bahasa pasir bahasa lokan
Menawarkan gagasan baru kepadamu,
bukan impian baru di mana kau jauh dari waktu
Percayalah, percayalah, manisku

/1999-2004



Bahasa di Pantai Masih yang Dulu
untuk bpk. max arifin

Pemandangan di pantai tidak mengubah
rangkaian bahasa dan keyakinan kita
walau samanera, panji-panji serta bendera
telah berganti warna. Berkibaran
setinggi pucuk daun kelapa
di pelabuhan, di rumah-rumah kelabu
gudang tua serta menara
semua bicara dalam bahasa lama:
urusan dagang, popor senapang, poster-poster
setengah telanjang. Juga

gema panjang lorong tambang. Aroma rempah-rempah
dan lambung kapal para maskapai. Sampai-

pendaratan demi pendaratan
menggerus pantai dan pulau karang yang kita jaga
dengan keyakinan nganga luka punggung terbuka

Maka berbicaralah engkau, niscaya setiap suku-kata
terbakar di udara. Terasa sengau dan baja

Tapi di sebuah menara api terdekat
yang mengobarkan kepergian
dan pendaratan kapal-kapal
kita bertahan: membangun kerajaan sendiri
dari sunyi dan puisi.

/Yogya, 2003



Bulan untuk Ibu

Ibu, di tubuhmu yang tabu untuk kusentuh
Kulabuhkan ingatan keparat dan menyesakkan
demi sebait puisi yang menjadikan engkau bulan.

Akan bangkit gairah yang runtuh
Meski ajal dan kepulangan terlanjur sudah dijanjikan.

Tungku-tungku telah dinyalakan
Kutu-kutu telah ditindas
dari rambut. Sagu-sagu telah ditebang
dari lahan gambut. Susu-susu sudah diperas
dari setiap daging yang tumbuh
Padi-padi telah ditumbuk
dari lumbung dan lesung

Lalu, apalagikah yang belum genap
dari tubuhmu, Ibu?

Di tubuhmu bersarang seluruh:
rangrang dan burung-burung
luruh sayap. Pisau tak bersarung
Alu yang berderap. Pun sepatu dan debu
Bumbu-bumbu dan warung kopi
penuh cakap
tapi tidak tentang kepulangan! Biarlah, Ibu,
kepulangan menjadi milikku seorang;
milik ajal dan gairah tak tertahankan

Agar bangkit segala yang runtuh;
hingga tubuhmu tak lagi tabu aku sentuh
dengan tangan panjang kenanganku;

Begitulah ibu, tubuhmu menjelma jadi sepotong labu
dalam arus pikiranku
hijau, telanjang, berlumut, terapung hanyut
ke laut pengembaraan

Maka di ujung puisi ini, sebelum turun hujan
Kujadikan engkau bulan.

/yogyakarta, agustus 2001



Pantun Beruntun Penuntun Pulang

Pandan tumbuh
duri pun tumbuh
tumbuh di pematang
di tepi ladang
menyiang separuh
hari 'lah petang
petang menyerah
ke kelabunya

Badan rusuh
hati pun rusuh
rusuh dirintang
bernyanyi dendang
dendang menyuruh
'rang dagang pulang
pulang berserah
ke ibunya.

/yogya, 2001



Romansa

Ladangku di sebalik bukit
dan putih kabut
Tempat urat-urat ungu merambat hening
Di ubun dan kening ibuku
Mulut lumut dingin terkatub
Neteskan embun, mengecupnya.

Kecup aku, o, sari embun
Lumut, licinkan keping batu di bibirku,
dan luncurkanJadikan kataku labu,
terapung di jauhan
Jatuh dari sebalik bukit kelabu.

Selamat tinggal lubang tugal,
Selamat tinggal hantu manis kebinasaan
Biji yang berkecambah di tepi rimba
Busuk disiram hujan asam.

Berapa jarak pondok ladang
tempat aku memandang
lengkung-lebam punggung ibu?
Mungkin hanya sejulang asap,
pisang panggang dan jerit enggang
Tapi akar liar yang membelit kakiku
sudah lama tak membuka pintu pulang
Para kelana dan petualang.

Bunda, pulangkan aku, ke ladang gandum
Angin, kuakkan akar hitam di kakiku liar
telanjangkan jalan coklat berlumpur
dan matangkan buah cinta
peraman kolong pondok ladang
manislah, sayang, labu-labu anggur penantian.

1998/2005



Kupilih Kisah di Antara Keluh-Kesah

Sebuah kampung begitu setia
menampung kisah dan keluh-kesah
seperti talempa ditimpa air sirih
kunyahan seorang nenek tua
Atau seperti meja lepau
tabah menerima tumpahan kopi
dari mereka yang berjaga sampai pagi.

Nenek itu duduk menganyam tikar pandan
sambil merangkai kisah 1001 malam
miliknya sendiri. Dan selembar tikar
telah menundanya dari kekalahan bilik bosan.

Sementara para lelaki yang berjaga
terus bicara 1001 perkara
yang bukan miliknya lagi. Debat dan seteru
memberi mereka rasa jantan
penawar jemu dan kelu malam.

Dan pada hari kesekian,
tikar nenek itu selesai sudah
mungkin dengan sisa cerita yang belum genap
tersampaikan, dengan ranji atau silsilah
yang belum selesai tersebutkan.
Tapi selesailah segalanya, meski mulut masih merah
memberi kesan perih akhir kisah!

Tinggal aku sendiri, cucu paling setia
memungut sisa duri dari merah kata-kata
kini mesti memilih: kisah yang perih
atau keluh-kesah ringan berbagi?

Kupilih kisah daripada keluh-kesah!
Meski sepi, tak tertebak alur dan akhirnya:
Segetir gambir, segalir pinang dibelah dua
Begitulah mesti kukunyah pahit sirih
daun nasibku.
hingga merah pula mulut dan lidah
memamah kisah-kisah!

Dan di antaranya duduk saudaraku
Penuh keluh dan gerutu
tersihir kartu-kartu!

/Rumahlebah Yogyakarta, 2003-2004.

Komentar

Sastra-Indonesia.com