Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Aziz Abdul Gofar

Sisa Malam di Brotonegaran

tiga tahun lalu kau menawarkan hangatnya rindu
yang mampu menelusup ke dalam jeruji waktu
sebelum kita mendirikan tugu-tugu itu
dan di pucuknya kita gantungkan bendera ungu
sementara kalimat demi kalimat tak ada yang
memberi tanda-tanda kedatangan
kita cuma menerka dalam diri
memendam dendam perjumpaan
selalu tertunda

lalu kita mempersalahkan kata-kata yang
tak pernah lari dari kungkungannya
yang sayangnya kita pelihara dengan anggun
kata yang entah berapa lama kita tunggu menjadi
setangkai kelopak bunga sebagi menara
dengan binar cahaya di kedua ujungnya yang
kita gulung menjadi rahasia

dan di lain halaman masih ada ketakutan
yang kita jaga demi membuka pintu
setelah sekian lama diketuk anak angin
merayap di celah-celah dinding

sebelum kaca-kaca jendela berembun
kemudian pecah berhamburan diterjang
anak angin yang sekarang berubah arah
dukakah yang kita tanggungkan

tiba waktu bertukar pesan
dalam sisa malam di Brotonegaran
halaman bagai karang waktu
halaman yang dilipat sunyi
setelah kita pagari tugu dengan
tumpukkan bebatuan
yang masih kita rekatkan
dengan ragu-ragu

2007


Mangkuwijayan – Tanah Lot

siapa mereka yang menanggung karang
di mana kau meletakkan dupa
bukankah mereka kawan seperjalanan yang
mendongeng tentang putri mandalika
ah, secepat itukah mereka menghela tangga
kau dan aku masih tersipu
membentang kanvas pada pelukis jalanan

kita mesti lekas memanggil para brahmana
sebelum upacara menyinari pagi dengan dupa
dan kita mesti segera
sebelum para penjual kain kaya warna
memaksa orang-orangjadi penghuni pulau asing

siapa mereka menangkap bayangan pura
cahaya dan rupa warna memecah luasa
sebelum kita turun dari gunung mereka
kita dilarang membawa api
bisa jadi kini menyulit hati

selagi air laut surut
kau turun menyusuri panggung karang laut
tak ada sampan untuk menyeberang
biarpun gelombang menjadi pasang
dan halaman karang semakin menghilang
yang aku cemaskan akhirnya datang
gelombang memisahkan pura dengan daratan
kau melambaikan karang dari tubir lingkaran
tak ada sampan untuk menyeberang
sebelumnya bukankah telah kuperingatkan
katamu hanya upacara para brahmana
yang mendatangkan itu gelombang
upacara usai dan aku hanya termangu
gelombang dan wajahmu hanya bersekat rindu

2007
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2013/09/sajak-sajak-aziz-abdul-gofar/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…