Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Usman Arrumy


Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

semoga kau tahu bahwa selama ini diantara kita sebenarnya tak ada rindu
hanya mungkin kadang semata diindahkan oleh rembesan pilu

seluruh yang silam adalah pengalaman getir
sebagai kenangan yang berhulu-hilir kerenung pikir
betapa sementara kita hadir, sekedar mampir bagai musafir
tak ada yang mahir mengukir syair selain kita yang telah terusir

jika satu saat kaulintasi ruang dimana kita pernah temu
kuharap kaumelihat bahwa disitu masih ada jejakku

pada ziarah cinta kali ini
aku bersua dengan hawa harum yang khusus sekali
tentang kau yang jauh melenggang sampai muskil kukenali
sebuah pertemuan singkat yang (haram) untuk disesali

Demak. 24 september 2012



ZIEISME
:Mudrikah Azizah

Saat ini entah pada pagi yang keberapa kesekian kali aku termangu
sejak kali terakhir mataku dapat menjangkau parasmu
masa lalu yang melengkung kian jauh,
kenang tentangmu yang terus rubuh-tumbuh

Aku masih ingat betapa setiap kata yang kaudesahkan membuatku kepayang
bahkan diammu pun menjelma puisi paling terang
dan aku tak cukup punya kata untuk memuja
seperti beraian udara yang ambyar begitu saja

Saban menjelang subuh, selalu ingatanku tersentuh
Oleh pohonan dimana kita sempat berteduh
Pada setiap tikungan yang debunya berserakan
Terhadap cafe wapo dan warung singgahan tempat kita makan

kau pun tahu, Cintaku
sepanjang Pare-Buka’an masih menyembunyikan kisah kita
pada jalan Brawijaya masih menjadi tanda
bahwa cerita yang kita rajut dulu tak mampu kulupa
pada tanah tulungrejo masih menjadi saksi
bahwa kau dan aku pernah saling menyusupkan sepi
tapi biarlah seluruh tentangmu kusemat dalam nadi

dan kepada matahari yang selalu menyaksikan kita
setiap kali melenggang keruang yang tak ber-peta
betapa sinarnya membaca sejarah kita
aku dan kau tak sanggup berdusta
pada kelokan tempat mula kita jumpa
saat awal dimana cinta menyeruak kejantung kita
yang membentang antara damba dan asmara
melepas berlaksa pandang ke utara
seperti lebat dedaun yang tunas dipohon cemara

selalu rinduku menjulur seperti sulur padi
merunduk menjulang setiap pagi
mungkin mengendap sebagai kopi
atau meresap ke lurung urat nadi

Mungkin kesunyian ini isyarat bahwa kenangan belum sepenuhnya tamat
sebagai riwayat yang tak sanggup diurai kalimat
kata yang terguris di halaman batin
seperti cahaya yang memantul dari cermin
adalah namamu yang kusebut tanpa jeda
seperti bersit sinar menyelinap kesela jendela
dan kita tak sempat menjadi puisi
sebab kesunyian ini adalah lesi

seperti angin tenggara
kaumasuk begitu saja
mengusap segala yang senyap
membasuh seluruh peluh-lusuh
meredam agar terdiam padam
abadi dalam sepi:
kau + aku= kita
Cinta

Kita pun sering lupa betapa derita adalah niscaya
Aku tak peduli entah bagaimana akhir dari kisah kita
Bagiku, bersamamu adalah saat-saat terbaik dalam hidupku
Bahkan untuk sekedar menghabiskan waktu bersamamu
Dan meski tanpa melakukan apa-apa
Sudah terasa cukup untuk bahagia

Terhadap kejujuran yang seringkali terpana memandang kenyataan
Kusunyian yang selalu menghadirkan masa silam
Telah menebus rindu bahwa kau dan aku tinggal kenangan
Yang terguris jauh sebelum kita ada
Sungguhkah sekian lama diantara kita ini bisa disebut cinta?
Yang kadang menjadikan kita sama-sama terluka
Maka izinkan aku berbohong bahwa
‘’Diantara kita tak pernah ada asmara’’
semata cuma satu: agar kita tak diperbudak airmata

dengan perasaan perih ini, ingin kugapai kau sampai usia usai
seperti luas laut yang berulangkali menyentuh pasir pantai
atau bagai ricik air yang tergerai diseluruh ngarai

betapa ingin kukunjungi seluruh tanah dimana dulu kita melangkah
lalu akan kusentuhkan jemariku untuk melunaskan resah
atau dimana bisa kujumpai angin yang sempat menjadi nafasmu?
Akan kuhirup sepuasku, kuhela semauku,
sampai tak ada udara yang sanggup menjamahku

Namun pada pagi ini
kauwakilkan dirimu pada seserpih sepi
pada udara, tak ada nafasmu lagi
pada tanah, tak ada jejakmu lagi
pada gelap, tak ada cahayamu lagi
cuma pada kenang kaumuncul kembali
sebab bahkan adakalanya mengingatmu adalah kelahiran puisi

Ya, pare sempat mencatat kita dalam sejarahnya
setiap jengkal laku kita telah direkam oleh tanah, udara, cahaya
sampai temu-pisah kita disimak batu dan kerikil
itulah mengapa melupakanmu adalah hal mustahil

Dan ketika kau dan aku dikutuk untuk berjarak
Akan kukenang kau sampai kelak ketika semesta lantak

Demak. 2012



FOSFORISMA

I
semula hurufhuruf itu berkelabatan sebagai metafor
lalu mencari seorang penyair muncul serupa pantul fosfor
sebab mereka tahu bahwa dirinya perlu menjadi kata
yang mampu beri penghayatan suci kepada Cinta

II
Dan kata mulanya adalah satu titik yang, lalu berbiak
jika mata pena mampu bergerak menuju jarak
mungkin berulangkali akan jadi sajak
atau jadi buku yang selalu tersibak

III
Lalu kepada puisi, mereka mendamba masuk kedalam perenungan
yang di setiap tikungan tersentuh cahaya berkilauan
memberai bagai hujan sewaktu kemarau mengerang panjang
menjangkau seluruh benda jelmakan kering ke basah bagai gelap-terang

IV
Barangkali setiap yang tertera di dalam diri mereka
merindukan sentuhan lembut sang pencipta aksara
setelah sekian lama mereka cuma mukim di rahim batin
menanti seorang penyair menulisnya, hingga meruap bagai cermin

V
Hati adalah tempat terbaik bagi kehadiran diri
dari zaman paling purba mereka khusuk samadi
lantaran cuma ingin di jadikan sebagai puisi
merunduk khusuk serupa punguk atau kuning padi

VI
Dan seluruh kata akan kembali kepada cinta
setelah mengembara dari fana ke baka
sebagian mengendap sesekali lalu ambyar sewaktu kala
menunggu sampai semesta tak berdaya

VII
kadang mereka menghayalkan berbaring dalam kamus
dimana seluruh dirinya ditampung oleh rumus dan humus
agar seorang penyair bebas menafsir secara utuh
merubah yang rubuh dari punah ke penuh

VIII
mungkin mereka mengharap lesap kedalam hening
menjelang keruang kenang, sesantun embun bening
menghasratkan lidah penyair melepas sebuah nama
tentang puisi yang tak usai diurai pada cinta pertama

IX
inilah Sembilan bait puisi yang di tulis penyair kampungan
sebuah perjalanan dari kenangan menuju harapan
sembari nyeduh kopi dan nyesep samsu dengan pipa stigi
hurufhuruf itu di kutuk menjadi puisi

Demak, 30 agustus 2012

Komentar

Saiful Anasz mengatakan…
Izin Simak Sobb...

Jangan Lupa Mampir di Blog Saya Juga Ya....

Klik Disini..

Salam Blogwalker...

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…