Langsung ke konten utama

Sajak Tita Tjindarbumi

http://lampungpost.com/
Saat Bumi Terbelah

Setangkai bunga karang menggeliat liar di senja saat camar mematuk di tiap inci lekuk yang mengerucut pada lembah yang lembap. Di tiap mahkotanya yang menyerabut tetes demi tetes mengalir diam-diam mengikuti arah paruh camar yang mengganas dalam gelora yang kesorean. Aroma alkohol bercampur saus yang tersaput rata di sekujur bunga karang yang helai daunnya koyak bersama rima dan diksi puisi yang bertebaran tak tergapai

Setangkai bunga tulip yang kuncupnya merekah di tanah yang salah saat gelora menjebak malam yang paling malam. Tiap lembar benang luruh tak berirama saat aroma cokelat serupa danau yang tak pernah disinggahi dan diarungi gelombangnya. Serupa petualang yang tak pernah menemukan arah jalan pulang. Yang setiap helai mahkotanya adalah pundi-pundi ponsterling yang menggoda

Setangkai pucuk pinus menembus kabut. Aroma gunungnya membakar sepi saat helai demi helai daun luruh dari rantingnya. Saat pucuk pinus menyerah pasrah mengerling genit serupa mobil mewah terbaru yang ingin cepat dinaiki dan dilarikan sekencang-kencangnya. Sebegitu ringan saat pedal diinjak dan suaranya mengerang seperti kuda binal yang rindu pada sang joki

Kabut Kintamani menghunus menembus jantung. Tiap desir angin yang berhembus tanpa arah menerbangkan kesetiaan yang harganya hanya senilai harga gincu perempuan pinggiran. Denyut nadi Kintamani serupa pesakitan menunggu eksekusi. Sebuah rasa tak lebih dari harga tiket Jakarta—Bali. Harga diri serupa selembar pakaian dalam seorang wanita

Lalu mengapa kita masih berdiri di titik yang sama, di mana dulu pernah kau letakkan diriku di sisi tempatmu berdiri. Yang tanpa banyak bicara kau sematkan cinta di dadaku. Dan tanpa peduli kau biarkan aku menonton segala kegilaanmu. Membiarkan bibirku mencibir atas segala kemunafikan dan mengelupasnya harga dirimu dari pandanganku.

Lalu mengapa pula aku selalu punya sekantong maaf untuk semua luka yang kau toreh di jiwaku? Aku bukan peri yang dapat membalut lukanya dengan tongkat ajaib. Atau perempuan yang meyakini kebesaran hati adalah obat yang paling mujarab atas semua rasa sakit.

Aku perempuan biasa. Yang bisa pergi dari titik di mana pernah kau letakkan diriku. Dan meletakkan sendiri di mana seharusnya aku berdiri. Saat bumi benar-benar terbelah.

/08 January 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…