Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Riki Utomi

http://www.riaupos.co/
Ketika Bulan Hilang

bulan yang bagai wajah bidadari.
mempesona dalam dekapan malam.
seperti bentuk yang tinggi menjulang
dari pohon ketus dan sulit mengganti
tubuhnya.

bulan hilang. menggapai petang.
tak sampai bertandang. penuh kejora
tapi tak luput diuntai kata. hanya duka
yang terus menganga pada tubuhnya.
mengekori segenap inci luka kemanapun
terdampar ia.

ketika bulan hilang, hanya bebayang
yang gamang menerawang. menunduk-
nunduk tanpa tahu arti. tanpa coba
mengulangi seperti lesap debu yang
terbungkus oleh mulutnya. Tanpa
batas, tanpa keras.

(Selatpanjang, 2011)



Menjenguk Tuah

dalam dada kami masih tersimpan gegap harap.
melintas di bayang yang tegak. menghapus bulir
air mata yang telah berserak. pada jalan kami,
kaki-kaki menapak. tegas menjungkal dari bawah
api yang kobar. dinding-dinding hati menebal.
seperti sebuah suci, membuang masa-masa
yang tak berarti.

di manakah dia kini. ketika terus saja hati kami
menjadi ngilu. membenam dalam ucap.
membahana dalam jerit. setelah lengkap harap.
membungkus kabut pekat. tak lama menjelang.
sengat mulut melaknat. mengeja-eja ukiran arab
melayu di nisan batu.

karenamu tuah, langkah kaki kami terhenti.
menghambat laju tuk menuju satu titik terang.
darimu kami dapatkan tentang perihal latah.
atau banyak sesuatu yang tak menjadi arah.
daulat paduka yang kau tinggikan mungkin
kecamuk pada dirimu.

(Selatpanjang, 2011)



Langkah

ayunan kaki kami membawa pagi bersimpuh.
melaju dengan sangat. ada harap melekat.
kemanapun menuju akan kami bawa harap.
sebab hanya itu yang membuat raga tetap
tegak untuk mengikis ragu.

sebuah ungkap yang menuntun langkah kaki.
menjadi rindu yang membuncah. kesana, di awal
pagi yang terjalin nasib suci untuk mengerti arti
sebuah risau. ke sana, ada arah yang akan dilalui
untuk menjadi ragi pada rasa yang galau.

langkah yang menuntun jalan kehidupan
ketika kami buta akan tujuan. ke segenap
rekat dari sisi timur sampai barat. lalu melaju
ke ujung dekat yang terukur harap. semakin
dekat, semakin memberat.

(Selatpanjang, 2011)

Riki Utomi, Kelahiran Pekanbaru 1984. Menamatkan belajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Pernah berproses di FLP Riau. Sejumlah sajak dimuat di Suara Merdeka, Riau Pos, Batam Pos, Haluan Riau, Haluan Kepri, Metro Riau, Majalah Sagang, Majalah Sabili, dan terangkum dalam beberapa antologi bersama. Bekerja sebagai guru di Selatpanjang. /11 Desember 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…