Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Akhiriyati Sundari

http://sastra-indonesia.com/
Sepasang Mata di Hadapan Bejana

sepasang mata kehilangan air mata
ia lupa di mana menaruhnya tatkala Tuhan mengajak bertukar kata
tapi aku telah menemukannya di lorong-lorong doa
lalu kutuang di bejana
melindunginya dari Candik Ala
tanpa janji dan puisi menyala cahaya

sepasang mata tiba di hadapan bejana
aku bersembunyi di bawah genangan air mata
bayanganku terpantul dari kristal sebening kaca
sepasang mata takjub menatapku lama-lama

aku melihat diriku di ceruk sepasang mata
tak ada salinan air mata kulihat di sana
hanya darah mengucur merah-merah saga
bubuhkan rentetan peristiwa
yang sakit yang menderita
yang diam yang tak bertanya-tanya
yang luka yang menyisa di Selatan Yogyakarta

musim menua naiki pucuk cuaca
kota tak lagi siarkan derak-derak terbaca
pintu-pintu telah tak terbuka
aku sudah membuang kunci utama
bersebab cinta tergeletak koma

tumpahan darah merahkan isi bejana
terkesiap sepasang mata
lenyap sudah air mata yang dicari-carinya
berubah air mata darah paling sempurna
sepasang mata tak sempat bicara
tak sempat menyeka darah yang terus menderas dari jantungnya

Aih, kesedihan kadung agung dan bijaksana
lebih dari secercah pelita yang dipaksa-paksa menyala
maka air mata berhak kuasa atas kata-kata

sepasang mata kehilangan air mata
sepasang mata itu; mataku…

Selatan Yogyakarta, 2011



Senja Bergetar dalam Layar

Aku berjalan dengan sepasang mata layu
memasuki toko buku
Melangkah pelan di antara timbunan kata-kata
yang menumpukkan ilmu, barisan rak yang
Memajang persembunyianmu
Ribuan buku di tempat ini begitu bernyawa
Tetapi mengapa di mataku tak lebih dari pusara?

Ini senja ke sekian yang masuk
dalam lanskap paling nadhir
Mengirimiku puisi tentang
air laut yang tiba-tiba anyir
Tersembul dari sebuah buku buah pena penyair
Tak ada yang sedih dan yang indah
Semuanya cuma kenangan sekarang
Bahkan meski begitu deras hatiku tergelincir*


Tahukah engkau, Cintaku..
Hatiku penuh dirimbuni buku-buku
Menulis rinci seturut bab-bab tentang masa lalu
Memangkas rindu
Membungkusnya dalam memar kalbu

Engkau, seperti juga buku-buku di tempat ini
Adalah jelmaan ribuan kepala yang ingin selalu aku baca
Kubawa-bawa di setiap kakiku yang
Menyimpan tikungan dari laguna ke laguna
Kuala ke kuala
Menarikku dalam rindu yang gegar saban hatiku bergetar
Kala berucap, “aku mencintaimu”
Hingga suatu ketika nanti, aku mengerti bahwa
yang sendiri tak bisa kehilangan*

Yogyakarta, 5 Januari 2010

* petikan puisi Dina Oktaviani, “Hati yang Patah Berjalan”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…