Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Wayan Sunarta

http://www.lampungpost.com/
Di Kafe Tera, Rawamangun

buih bir itu mungkin pernah
menduga dirinya buih laut
sampai kau bertutur
tentang ladang dan kampung
yang hampir rampung
diserang wereng
jagung pun tak mampu matang
musim kering begitu kerontang
hingga segala benih jadi garing

kau tuang laut ke dalam gelas
aku tahu, malam segera tuntas
dan asap kretek akan tumpas
dari bibirku yang haus

“aku dari indramayu,” ujarmu
indramayu, sebuah daerah kuyu
di pesisir utara jawa
penuh janda ayu
perahu-perahu suka berlabuh di situ

“apa kau tidak mau berlabuh?”
nenti, nenti, sunenti…
aku hanya pejalan sunyi
melulu ditemani duri
yang melekat di tapak kaki
pedihnya tak kurasa lagi

di bibirku yang rekah
buih laut itu
mungkin menduga dirinya buih bir

malam bergumam
di sudut paling suram
kafe tera

2005



Sajak Untuk Pemabuk

guratkan dukamu di batang-batang pohon
dedahkan kenangan di bawah hujan
eram segala risau di sarang kepompong

pendulum masa silam telah berayun
hanya sisa satu kemungkinan
arahkan busurmu lurus-lurus

lepaskan panah hidupmu hingga melesat
atau kau tertikam panahmu sendiri
yang kau asah begitu yakin siang-malam

apakah kau akan mati
sebelum mimpimu berpijar
arah mana akan kau tempuh

segala luka akan jadi abadi
umpama uap tuak di bumbung tua
kita bersulang untuk yang hilang

mabuk, mabuklah hingga subuh menjelang
atau kau akan ditinggalkan waktu
kemasi semua utang, lalu

ambil sebumbung tuak lagi
rasakan aroma terakhirnya
seperti mimpi yang tiba-tiba sirna

akan kembali di ambang petang

2005



Lirik Untuk Pengigau

walau kau terus susuri malam
aku tak tahu sampai kapan

ruhmu menuju kilau abadi bintang
igau yang kekal serupa ajal

hembuskan kata-katamu di ujung lidah
wilayah mana tak kau jelajah
istana musim semi menutup gerbangnya

siapa mampu meraba arah waktu
alur yang melingkar serupa ular tidur

tapi peta telah kau buka
saat senja mati rasa di jiwamu

apakah arah, apatah tuju

nujumanmu tak lagi bermakna
amsal pun lupa ihwal kata

2005

Wayan Sunarta, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Sempat mencicipi studi seni lukis di ISI Denpasar. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, dan ulasan seni rupa.

Tulisan-tulisannya pernah dimuat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Kalam, Jurnal Cerpen, Majalah Sastra Horison, Majalah Latitudes, Majalah Gatra, Majalah Visual Arts, dll.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

http://cetak.kompas.com/
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang



2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke d…

Sajak-Sajak Usman Arrumy

Sastra-indonesia.com
ZIARAH CINTA

Ada suatu ketika aku tak berdaya menemu kata
Adakalanya mungkin saat kautak mampu kuindra
pada sebuah entah yang sesekali menghampir dalam luka
sebab selalu, kau dan aku kian jauh tak terjagkau oleh mata

Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007



Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

200…